Pemburu Artefak

Hargo Trapsilo
Chapter #5

Kelompok Pemburu Artefak

Di balik rimbunnya hutan jati yang jarang terjamah manusia di pedalaman Jawa, berdiri sebuah bangunan tua megah yang tampak seperti benteng pertahanan daripada sebuah hunian. Bangunan itu luas, dingin, dan memancarkan aura kegelapan yang pekat. Di dalamnya, tidak kurang dari seratus satu orang pria berwajah sangar dengan senjata di pinggang mereka berlalu-lalang dengan disiplin militer yang kaku. Mereka bukan prajurit biasa; mereka adalah pengikut setia, atau lebih tepatnya, bidak catur dari seorang pria bernama Baron.

Baron bukanlah nama yang asing di telinga para pengelana gelap dan pencuri barang antik. Ia dikenal sebagai kolektor artefak yang kejam, yang nafsu kekuasaannya melampaui logika manusia normal. Kekuatan Baron bukan hanya terletak pada otot atau jumlah pengikutnya, melainkan pada dua benda keramat yang selalu melekat pada tubuhnya: Dadu Emas Sengkuni yang tersimpan di kantung sutranya, dan Mahkota Rahwana Raja yang melingkar di kepalanya.

Dadu Emas Sengkuni memberinya kemampuan untuk memanipulasi keberuntungan dan memperdaya pikiran orang lain melalui tipu muslihat yang licin, sementara Mahkota Rahwana Raja memberikan aura intimidasi yang membuat siapapun yang memandangnya merasa kecil dan tak berdaya. Dengan kombinasi dua artefak ini, seratus satu pengikutnya bekerja tanpa bayaran, terhipnotis oleh kharisma gelap dan janji-janji palsu sang pemimpin.

Siang itu, Baron duduk di singgasana kayu jati yang diukir menyerupai naga. Di tangannya, ia memutar-mutar sebuah koin emas, matanya menatap tajam ke arah peta besar yang terbentang di meja marmer di depannya.

"Dunia sedang berubah," gumam Baron, suaranya berat dan bergema di aula yang sepi. "Ki Ageng Susno, pria tua yang malang itu, telah kehilangan segalanya. Artefak Kurawa yang dia bangga-banggakan kini telah berpindah tangan."

Baron mendengus remeh. Baginya, Ki Ageng Susno hanyalah kerikil kecil yang kini sudah hancur. Fokusnya kini tertuju pada satu nama yang mulai sering disebut-sebut di kalangan bawah tanah: Yudhis.

"Yudhis... si anak ingusan yang beruntung," lanjut Baron. Ia tahu bahwa Yudhis kini memegang sebagian besar artefak dari kediaman Susno. Namun, Baron tidak merasa terancam. Justru, ia merasa tertantang.

Tujuan utama Baron jauh lebih besar daripada sekadar koleksi Kurawa. Ia mengincar Trisula Dewa Siwa, senjata penghancur semesta yang konon dapat meluluhlantakkan artefak dewa lainnya. Baron yakin, dengan Trisula itu di tangannya, ia tidak hanya akan menjadi raja para pemburu, tetapi juga tuhan di atas tanah Jawa.

"Kujaka!" panggil Baron.

Dari kegelapan di sudut ruangan, muncullah seorang pria bertubuh ramping namun atletis. Kujaka adalah tangan kanan Baron, otak di balik banyak strategi licik kelompok ini. Berbeda dengan Baron yang mengandalkan intimidasi, Kujaka adalah ahli bela diri sekaligus jenius taktik. Di pinggangnya tersampir sepasang belati yang bergetar aneh—Senjata Guru Durna, sebuah artefak yang memungkinkannya menyerang dengan presisi yang mustahil dilakukan manusia biasa.

"Aku di sini, Baron," jawab Kujaka dengan nada santai, hampir meremehkan, namun tetap menunjukkan rasa hormat yang diperlukan.

"Bagaimana menurutmu mengenai orang yang bernama Yudhis ini? Dia sudah mengalahkan Ki Ageng Susno. Koleksi Kurawanya hampir lengkap di tangannya," tanya Baron.

Kujaka terkekeh, menyandarkan tubuhnya pada pilar batu. "Dia mungkin tangguh, tapi koleksinya tidak akan pernah sempurna selama Dadu Sangkuni ada di tanganmu, dan Senjata Guru Durna ada padaku. Tanpa dua elemen ini, kekuatan Kurawa yang dia miliki hanyalah potongan puzzle yang tidak utuh."

"Tepat sekali," Baron tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang rapi namun dingin. "Namun, kita tidak boleh membiarkannya tumbuh terlalu kuat. Apa langkah kita?"

"Jangan khawatir, sahabatku," Kujaka melangkah mendekat. "Aku sudah menyebar anak buahku. Kita memata-matainya dari bayang-bayang. Begitu dia lengah, aku sendiri yang akan meringkusnya untukmu. Lagipula, namamu sudah terlalu besar untuk sekadar turun tangan menghadapi bocah seperti itu."

Lihat selengkapnya