Angin di pinggiran Desa Layansari mendadak berembus lebih kencang dari biasanya. Debu-debu tanah beterbangan membentuk pusaran kecil di sekitar Yudhis dan Lili yang baru saja hendak meninggalkan area pemakaman. Kuda hitam mereka meringkik gelisah, menghentakkan kaki ke bumi seolah merasakan kehadiran entitas yang tidak biasa di udara.
Yudhis menatap ke langit yang mulai jingga. Instingnya yang telah terasah selama sepuluh tahun mengembara berteriak waspada. Ia menyentuh hulu kerisnya, sementara kaki kirinya yang mengenakan Gelang Dewa Hanoman terasa berdenyut hangat—tanda bahwa energi magis di sekitarnya sedang bergejolak.
"Lili, bersiaplah," bisik Yudhis pelan kepada Lili.
"Aku merasakannya, Yudhis. Seseorang sedang turun dari langit," sahut Lili sambil menggenggam sebuah bungkusan kain di balik jubahnya, tempat ia menyembunyikan artefaknya sendiri.
Dari balik gumpalan awan tipis, sebuah bayangan meluncur turun dengan anggun. Bukannya jatuh menghantam tanah, sosok itu justru melayang pelan seolah-olah udara adalah anak tangga yang empuk bagi kakinya. Pria itu mengenakan jubah berwarna biru pucat yang berkibar-kibar meski angin sedang tenang. Jubah itu memancarkan pendaran cahaya perak yang lembut—inilah Jubah Dewa Bayu, artefak langka yang memberikan pemakainya kendali atas elemen angin dan kemampuan untuk menunggangi udara.
Pria itu mendarat sekitar sepuluh langkah di depan mereka. Wajahnya rupawan, dengan senyum ramah yang tampak tulus namun menyimpan misteri di balik sorot matanya yang tajam. Ia adalah Nanda.
"Luar biasa," ucap Nanda sambil bertepuk tangan pelan. "Pertarunganmu dengan Ki Unggul tadi benar-benar tontonan yang menarik, Yudhis. Aku tidak menyangka keturunan Pak Cemara memiliki daya ledak sebesar itu."
Yudhis menyipitkan mata. "Siapa kau? Dan sudah berapa lama kau mengikuti kami?"
Nanda tertawa kecil, sebuah tawa yang renyah namun membuat bulu kuduk Lili berdiri. "Namaku Nanda. Seorang petualang, sama sepertimu. Mengenai berapa lama... katakanlah sejak kau meninggalkan rumah Ki Ageng Susno dengan membawa 'oleh-oleh' yang sangat banyak itu."
Lili melangkah maju, wajahnya menegang. "Jadi kau salah satu dari mereka? Pemburu artefak yang haus harta?"
"Haus harta? Itu istilah yang kasar, Nona cantik," balas Nanda sambil membungkuk hormat dengan gaya seorang bangsawan. "Aku lebih suka menyebut diriku sebagai 'kurator' kekuatan. Dunia ini terlalu berbahaya jika artefak-artefak dewa jatuh ke tangan orang-orang kasar seperti Ki Unggul atau Baron yang ambisius itu."
Diplomasi di Balik Ancaman
Yudhis tidak menurunkan kewaspadaannya. Ia bisa merasakan bahwa pria di depannya ini jauh lebih berbahaya daripada Ki Unggul. Jika Ki Unggul adalah badai yang mengamuk secara membabi buta, Nanda adalah angin sepoi-sepoi yang bisa berubah menjadi belati udara dalam sekejap tanpa peringatan.
"Apa maumu, Nanda? Jika kau menginginkan gelang di kakiku atau jubah Agni ini, kau harus mengambilnya dari jasadku," tantang Yudhis.
Nanda menggelengkan kepala, helai rambutnya tertiup angin yang ia kendalikan sendiri. "Bertarung melawan orang yang memiliki kekuatan api di atas tanah kering seperti ini? Itu bukan gayaku. Aku lebih suka kerja sama yang saling menguntungkan. Yudhis, kau punya kekuatan, tapi kau kurang informasi. Kau tahu bahwa Baron sedang mengincarmu?"
Yudhis terdiam. Nama Baron baru saja ia dengar dari desas-desus, namun ia belum tahu seberapa besar ancaman pria itu.
"Baron memiliki seratus satu pengikut dan memegang Dadu Sengkuni serta Mahkota Rahwana," lanjut Nanda, mulai berjalan melingkar, menjaga jarak aman. "Dia baru saja kehilangan Seruling Dewa Kresna karena pengkhianatan internal. Sekarang dia sedang kalap. Dia akan mengirim seluruh pasukannya untuk memburu siapa pun yang memegang artefak dewa, terutama kau yang memegang kunci kekuatan Kurawa."