Langkah kaki ribuan kuda membelah kesunyian hutan jati yang membatasi wilayah pinggiran dengan pusat peradaban. Di barisan paling depan, sebuah kereta kencana berwarna hitam legam dengan ukiran emas berbentuk naga raksasa melaju dengan angkuh. Kereta itu tidak ditarik oleh kuda biasa, melainkan oleh empat ekor kuda jantan pilihan yang matanya memancarkan rona merah—sebuah efek samping dari energi gelap yang dipancarkan oleh penumpangnya.
Di dalam kereta tersebut, Baron duduk dengan tegak. Di atas kepalanya, Mahkota Rahwana melingkar dengan megah. Sepuluh wajah raksasa yang terukir kecil pada lingkar mahkota itu tampak seolah-olah bernapas, mata-mata mungilnya berkedip seiring dengan detak jantung Baron. Setiap kali Baron menarik napas, aura hitam tipis keluar dari mahkota tersebut, menyelimuti tubuhnya dan memberinya kekuatan fisik yang melampaui batas manusia.
"Kotaraja..." gumam Baron sambil menyibak tirai sutra keretanya. "Tempat di mana mimpi-mimpi besar dikubur oleh aturan yang lemah. Sudah saatnya aturan itu diganti dengan kehendakku."
Baron tidak lagi sekadar ingin menjadi pemimpin para pemburu. Nafsunya telah membengkak. Setelah kehilangan Seruling Dewa Kresna, ia menyadari bahwa mengandalkan kesetiaan anak buah saja tidak cukup. Ia membutuhkan legitimasi. Ia membutuhkan takhta. Dengan menjadi Raja, setiap pasang mata di seluruh negeri akan menjadi matanya, dan setiap tangan akan menjadi tangannya untuk menangkap Yudhis.
Intrik di Balik Gerbang Istana
Rombongan Baron tiba di gerbang utama Kotaraja saat matahari tepat berada di puncaknya. Para prajurit penjaga gerbang segera menyilangkan tombak mereka, menghalangi jalan.
"Berhenti! Siapa kalian yang berani membawa pasukan sebanyak ini ke gerbang suci?" teriak kepala pengawal kerajaan.
Baron keluar dari keretanya. Kehadirannya seketika mengubah atmosfer di sekitar gerbang menjadi berat dan menyesakkan. Beberapa prajurit yang nyalinya kecil mulai gemetar, lutut mereka lemas hanya dengan menatap Mahkota Rahwana yang dipakai Baron. Kekuatan mahkota itu mampu memanipulasi rasa takut; ia memperbesar keraguan di hati lawan dan menghancurkan mental mereka sebelum pedang sempat dihunus.
"Aku adalah Baron," suaranya menggelegar, dibantu oleh energi gaib. "Aku datang bukan sebagai musuh, melainkan sebagai penyelamat. Sampaikan pada Rajamu, bahwa aku membawa berita tentang ancaman besar yang dibawa oleh seorang pemberontak bernama Yudhis, sang pencuri Artefak Dewa."
Baron telah menyusun rencana yang licik. Ia tahu bahwa sang Raja saat ini sedang dilanda kecemasan karena hilangnya beberapa artefak penting dari perbendaharaan negara. Dengan memposisikan Yudhis sebagai kambing hitam dan dirinya sebagai pahlawan yang membawa solusi, Baron yakin jalan menuju takhta akan terbuka lebar.
Kujaka, yang berada di samping Baron, tersenyum tipis. Ia mengagumi betapa cepat Baron beradaptasi dengan peran barunya sebagai calon politikus. Namun, di dalam hatinya, Kujaka tetap waspada. Ia tahu bahwa Mahkota Rahwana bukan sekadar pemberi kekuatan; benda itu perlahan-lahan memakan kewarasan pemakainya, mengubah ambisi menjadi kegilaan yang tak terkendali.
Pertemuan di Ruang Sidang
Setelah melalui negosiasi yang tegang, Baron diizinkan masuk ke ruang sidang istana dengan hanya dikawal oleh Kujaka. Di sana, Raja yang sudah berumur tampak duduk dengan gelisah, dikelilingi oleh para menteri dan penasihat spiritualnya.
"Baron," ucap Sang Raja dengan nada curiga. "Namamu dikenal sebagai pemimpin penjahat. Apa yang membuatmu berani menginjakkan kaki di lantai marmer ini?"