Lantai marmer ruang utama Istana Kotaraja yang biasanya bersih mengkilap, kini ternoda oleh bercak darah yang mulai mengering. Di tengah ruangan, tubuh sang Raja tua tergeletak tanpa nyawa, matanya masih membelalak menatap langit-langit, merekam detik-detik terakhir ketika Mahkota Rahwana di kepala Baron memancarkan kilatan hitam yang menghentikan detak jantungnya.
Pangeran Ramaswara berdiri hanya beberapa langkah dari jasad ayahnya. Tidak ada air mata di pipinya. Tidak ada teriakan histeris atau hunusan keris untuk membalas dendam. Sebaliknya, wajahnya tetap tenang, sedatar permukaan telaga di pagi hari. Ramaswara adalah pemuda yang cerdas, jauh lebih licik daripada yang disangka orang-orang istana. Sejak lama, ia telah memendam ambisi untuk berkuasa, namun ia selalu terhalang oleh sifat ayahnya yang kolot dan terlalu berhati-hati.
Baron berdiri di depan takhta, napasnya memburu, sisa-sisa energi kegelapan masih menari-nari di ujung jemarinya. Ia menoleh ke arah Ramaswara dengan tatapan mengancam, seolah menantang sang pangeran untuk melawan.
"Ayahmu terlalu lemah, Pangeran," desis Baron sambil menyeka noda darah di pipinya. "Dia adalah penghalang bagi kemajuan bangsa ini. Sekarang, siapa yang akan menghentikanku?"
Ramaswara perlahan berlutut. Gerakannya sangat halus dan penuh hormat, sebuah sandiwara yang sempurna.
"Tidak ada yang akan menghentikanmu, Patih Agung Baron," ucap Ramaswara dengan suara yang mantap. "Ayahanda memang sudah terlalu tua untuk memahami zaman artefak ini. Kematiannya adalah awal dari era baru. Aku, sebagai putranya, menyatakan tunduk pada kekuatanmu."
Baron tertegun sejenak, lalu tawa menggelegar keluar dari tenggorokannya. "Hahaha! Ternyata kau punya otak, bocah! Aku mengira kau akan menyerangku seperti pahlawan bodoh di dalam dongeng."
"Aku seorang realistis, Baron," jawab Ramaswara sambil berdiri kembali. "Kau memiliki Mahkota Rahwana. Melawanmu sekarang adalah tindakan bunuh diri. Lebih baik aku membantumu menguasai negeri ini, asalkan kau memberiku tempat di sampingmu."
Kujaka, yang berdiri di bayang-bayang pilar, menyipitkan mata. Ia merasakan sesuatu yang tidak beres. Ia mengenal tipe orang seperti Ramaswara—orang yang bisa tersenyum sambil memegang belati di balik punggungnya. Namun, Baron yang mulai terpengaruh oleh kesombongan Mahkota Rahwana, merasa telah berhasil menaklukkan sang pewaris takhta secara mental.
Persekutuan Dua Ular
Malam itu, di ruang kerja rahasia milik pangeran, Ramaswara dan Baron duduk berhadapan. Di atas meja terletak peta pergerakan Yudhis yang terakhir dilaporkan oleh mata-mata.
"Yudhis berada di Gunung Lawu," lapor Ramaswara sambil menunjuk sebuah titik di peta. "Dia sedang mencari petapa yang mengetahui rahasia Gelang Hanoman. Jika kita mengirim pasukan besar sekarang, dia akan melarikan diri ke dalam gua-gua yang sulit dijangkau."
Baron menggebrak meja. "Aku tidak peduli! Aku ingin kepalanya sekarang!"
"Sabar, Baron," sela Ramaswara dengan nada menenangkan. "Biarkan dia mendapatkan kekuatan itu. Artefak yang tidak bangkit kekuatannya hanyalah benda mati. Jika Yudhis berhasil membuka segel Hanoman, maka saat kau merebutnya nanti, kau akan mendapatkan artefak dalam kondisi paling sakti. Sementara itu, gunakan pengaruhku untuk melegalkan statusmu di mata rakyat. Aku akan mengumumkan bahwa ayahanda wafat karena sakit mendadak dan kau adalah pelaksana tugas kerajaan atas wasiatnya."