Pemburu Artefak

Hargo Trapsilo
Chapter #9

Bangkitnya Kekuatan Baru

Hawa dingin di lereng Gunung Lawu biasanya mampu menusuk hingga ke sumsum tulang, namun malam itu, atmosfer di sekitar gubuk tua tempat Yudhis bersemedi terasa berbeda. Udara bergetar, terdistorsi oleh gelombang panas yang tidak kasat mata. Lili dan Nanda yang berjaga di luar gubuk mulai merasa cemas. Kuda hitam mereka meringkik ketakutan, menjauh dari bangunan kayu yang mulai mengeluarkan asap tipis dari sela-sela dindingnya.


"Yudhis! Apa yang terjadi di dalam?" teriak Lili. Ia mencoba mendekat, namun hawa panas yang menyengat memaksanya mundur. Gelang Pelindung Shinta di pergelangan tangannya berpendar biru redup, mencoba menahan radiasi panas yang luar biasa itu.


Nanda, yang biasanya bersikap santai dengan Jubah Dewa Bayu-nya, kini tampak tegang. Ia terbang rendah, mencoba mengintip melalui celah jendela. "Energinya kacau, Lili! Ini bukan sekadar meditasi biasa. Sepertinya ada benturan antara kekuatan Agni dan Hanoman di dalam tubuhnya!"


Di dalam gubuk, Yudhis sedang berada dalam neraka pribadinya. Segalanya bermula ketika ia mencoba menyelaraskan detak jantungnya dengan aliran energi dari Gelang Dewa Hanoman di kaki kirinya. Namun, alih-alih mendapatkan ketenangan, Pakaian Dewa Agni yang melekat di tubuhnya tiba-tiba bereaksi dengan ganas.


Tiba-tiba, WUSH!


Lidah api raksasa menyambar keluar dari pori-pori kain pakaian itu. Namun, bukannya melindungi Yudhis dari panas luar, api itu justru berbalik menyerang pemakainya. Tubuh Yudhis seketika dibalut oleh api merah keemasan. Ia meraung kesakitan, suaranya tenggelam dalam gemuruh api yang melalap bangunan gubuk tersebut.


"Argghhh! Panas! Ini... ini tidak mungkin!" jerit Yudhis.


Selama ini, Pakaian Dewa Agni berfungsi sebagai pelindung pasif—sebuah perisai yang menahan serangan api dari luar. Namun kini, pakaian itu seolah-olah hidup dan menuntut penyatuan yang lebih dalam. Api itu tidak membakar kulitnya menjadi abu, melainkan meresap masuk ke dalam pori-porinya, mencari jalan menuju pembuluh darahnya.


Penyatuan Dua Unsur

Saat api Agni mencoba menguasai tubuh Yudhis, Gelang Dewa Hanoman di kaki kirinya memberikan reaksi balasan. Gelang itu bergetar hebat, memancarkan energi fisik yang masif. Kekuatan Hanoman adalah kekuatan bumi dan otot, sementara Agni adalah kekuatan langit dan energi. Dua artefak yang berbeda kasta dan unsur ini mulai bertempur di dalam tubuh Yudhis sebagai medan perangnya.


Yudhis merasa tubuhnya seperti ditarik oleh dua ekor gajah raksasa ke arah yang berlawanan. Tulang-tulangnya berderak. Di tengah siksaan itu, sebuah memori muncul di benaknya—suara gurunya yang dulu sering ia abaikan.


"Yudhis, artefak bukanlah senjata. Mereka adalah bagian dari jiwa dewa yang tertinggal. Kau tidak bisa memerintah mereka, kau harus menjadi wadah yang selaras bagi mereka."


Yudhis memaksakan dirinya untuk berhenti melawan. Ia mengatur napasnya yang sesak oleh uap panas. Ia berhenti mencoba memadamkan api Agni dan berhenti mencoba menahan ledakan Hanoman. Ia membuka batinnya selebar mungkin, membiarkan kedua energi itu mengalir dan bertemu di pusat dadanya.


Lihat selengkapnya