Pemburu Artefak

Hargo Trapsilo
Chapter #10

Wajah Sang Buronan

Angin kencang di puncak Gunung Lawu membawa aroma hujan yang belum tumpah, namun bagi Yudhis, aroma yang paling menyengat saat ini adalah aroma pengkhianatan dan fitnah. Di tangan Nanda, sebuah lembaran kain dari kulit domba yang halus—kualitas yang hanya bisa dihasilkan oleh penyamak terbaik di Kotaraja—terbentang lebar.


Yudhis menatap gambar di kain itu dengan mata tak berkedip. Di sana, di atas latar belakang segel kerajaan yang resmi, terlukis wajahnya dengan sangat detail. Setiap guratan di keningnya, bentuk rahangnya, hingga sorot matanya yang tajam digambarkan dengan ketelitian yang mengerikan. Di bawah gambar itu, tertulis maklumat dalam aksara Jawa yang tegas:


BURONAN: YUDHIS SIPENCULIK DAN SANG PENCURI ARTEFAK

Dicari karena pengkhianatan terhadap kerajaan dan penculikan terhadap Dyah Ayu Lili, calon permaisuri Pangeran Ramaswara. Hadiah: Seratus Ribu Keping Uang Emas bagi siapa saja yang membawanya hidup-hidup ke hadapan Patih Agung Baron.


Yudhis merasakan panas menjalar dari dadanya, bukan dari Pakaian Agni, melainkan dari api amarah yang murni. "Calon istri? Penculikan?" suaranya rendah namun bergetar hebat. "Ini adalah kebohongan yang paling busuk yang pernah kudengar!"


Lili, yang berdiri di sampingnya, tampak pucat pasi. Tangannya gemetar saat menyentuh pinggiran kain kulit domba itu. "Ramaswara... dia benar-benar melakukannya. Dia menggunakan perjodohan lama yang dipaksakan pamanku sebagai senjata untuk membuat seluruh rakyat membencimu, Yudhis."


Nanda melipat kembali kain itu dengan wajah serius, tanpa senyum jenaka yang biasanya menghiasi bibirnya. "Seratus ribu keping emas, Yudhis. Itu jumlah yang cukup untuk membeli sebuah kadipaten kecil beserta isinya. Sekarang, kau bukan hanya diburu oleh para pencari artefak, tapi oleh setiap petani, pedagang, dan pendekar yang punya utang atau ambisi. Kau telah menjadi wajah dari segala kejahatan di mata publik."


Fitnah yang Sistematis

"Ramaswara sangat cerdik," gumam Nanda sambil menatap ke arah lembah. "Dia tahu bahwa jika dia hanya menuduhmu mencuri artefak, rakyat mungkin tidak akan peduli. Tapi dengan membawa narasi 'penculikan putri yang dicintai rakyat', dia menyentuh harga diri bangsa. Sekarang, kau dianggap sebagai penjahat moral, bukan sekadar pesaing politik."


Yudhis menghentakkan kakinya, membuat tanah di sekitarnya sedikit hangus. "Aku tidak pernah berniat membawa Lili dalam bahaya. Lili ikut denganku karena pilihannya sendiri!"


"Rakyat tidak tahu itu, Yudhis," sahut Lili dengan suara parau. "Di mata mereka, aku adalah korban yang malang, dan kau adalah monster yang menggunakan kekuatan artefak untuk mencuci otakku. Pangeran Ramaswara memposisikan dirinya sebagai pahlawan yang berduka, sementara Baron menjadi pedang keadilannya."


Situasi ini jauh lebih berbahaya daripada dikeroyok seratus anak buah Baron. Kekuatan fisik bisa dilawan dengan api dan tenaga Hanoman, namun bagaimana cara melawan kebencian jutaan orang yang percaya pada sebuah kebohongan resmi?


Pengkhianatan di Setiap Sudut

Saat mereka bergerak menuruni jalur tersembunyi untuk menghindari pasukan Suro Menggala, mereka sampai di sebuah pemukiman kecil para pencari kayu di lereng bawah. Di sana, Yudhis melihat pemandangan yang menghancurkan hatinya.

Lihat selengkapnya