Pemburu Artefak

Hargo Trapsilo
Chapter #11

Pencurian Artefak

Malam di pusat Kotaraja tidak pernah benar-benar gelap. Cahaya lampion dari rumah-rumah bangsawan dan obor penjaga istana menciptakan bayang-bayang panjang yang menari di atas dinding batu. Namun, di balik kemegahan itu, terdapat sebuah bangunan tambahan yang baru saja dibangun atas perintah Patih Agung Baron: Gedung Perbendaharaan Hitam. Di sinilah Baron menyimpan puluhan artefak yang telah ia rampas, sebuah museum kegelapan yang dijaga lebih ketat daripada kamar sang Raja sendiri.

Yudhis dan Nanda bertiarap di atas atap sebuah paviliun yang menghadap langsung ke gedung tersebut. Yudhis mengenakan pakaian serba hitam yang mampu meredam hawa panas dari Pakaian Agni, sementara Nanda menyelimuti mereka berdua dengan manipulasi udara dari Jubah Dewa Bayu agar suara napas mereka tidak terdengar oleh telinga-telinga yang tajam di bawah sana.

"Kau lihat sepuluh pemuda di depan pintu besar itu?" bisik Nanda, matanya menyipit tajam. "Mereka bukan prajurit biasa. Mereka adalah Dasa Satria Artefak, unit elit yang dibentuk Baron. Masing-masing dari mereka diberikan satu artefak hasil jarahan untuk dijaga dan digunakan."

Yudhis mengamati kesepuluh pemuda itu. Mereka berdiri diam seperti patung, namun aura yang terpancar dari tubuh mereka sangat kacau dan kuat. Ada yang membawa tombak yang mengeluarkan percikan listrik, ada yang mengenakan sarung tangan yang membuat tanah di bawah kakinya bergetar, dan ada pula yang matanya bersinar hijau seperti kucing hutan.

"Rencana kita tetap sama," ucap Yudhis rendah. "Aku akan menjadi umpan, kau gunakan kecepatan anginmu untuk masuk dan mengambil kembali Kalung Maruta dan Seruling Kresna jika benda itu memang dikembalikan ke sana."

"Hati-hati, Yudhis. Baron bukan orang bodoh. Dia memasang jebakan yang tidak hanya mengandalkan fisik, tapi juga magis," peringat Nanda.

Yudhis melompat turun dari atap dengan dentuman yang sengaja dibuat keras. BUM! Tanah di halaman gedung retak. Sepuluh pemuda penjaga itu langsung menoleh secara serempak.

"Itu dia! Si Buronan Seratus Ribu Emas!" teriak salah satu penjaga yang memegang sebuah gada besar bermata satu—Gada Kyai Guntur.

Tanpa membuang waktu, Yudhis mengaktifkan kekuatan barunya. Kaki kirinya yang mengenakan Gelang Hanoman berpendar emas, sementara tubuhnya diselimuti api merah kehitaman. Ia melesat seperti peluru api ke arah para penjaga.

Namun, koordinasi para penjaga ini luar biasa. Penjaga dengan Perisai Karang maju ke depan, menancapkan perisainya ke tanah. Seketika, sebuah dinding batu setebal satu meter muncul dari bumi, menahan terjangan Yudhis. Di saat yang sama, dua penjaga lainnya melompat dari sisi kiri dan kanan. Salah satunya menggunakan Pedang Bayu Ireng yang menciptakan vakum udara untuk menarik tubuh Yudhis agar kehilangan keseimbangan.

"Kalian pikir artefak kelas rendah bisa menahan kekuatan dewa?" geram Yudhis.

Yudhis melakukan putaran kaki kiri, melepaskan teknik Vajra-Agni Padas. Sebuah gelombang panas melingkar menghantam dinding batu hingga hancur menjadi kerikil panas. Namun, jebakan Baron mulai bekerja. Begitu dinding itu hancur, ribuan jarum tipis yang tersembunyi di dalam batu tersebut melesat ke arah Yudhis. Jarum-jarum itu dilapisi racun pemutus aliran energi.

Yudhis terpaksa melakukan lompatan tinggi ke udara untuk menghindar, namun di atas, ia sudah disambut oleh penjaga yang memiliki Busur Cahaya. Anak panah energi meluncur cepat, mengincar sendi-sendi kaki Yudhis.

Di saat Yudhis sibuk meladeni sepuluh penjaga elit tersebut, Nanda bergerak seperti hantu. Dengan Jubah Dewa Bayu, ia melayang tanpa suara melewati jendela ventilasi di bagian atas gedung. Ia mendarat di dalam ruangan yang dipenuhi oleh peti-peti kayu cendana.

"Luar biasa... Baron benar-benar seorang penjarah sejati," gumam Nanda melihat deretan artefak yang berjejer.

Namun, begitu Nanda melangkah satu inci menuju meja utama, seluruh ruangan itu tiba-tiba berubah warna menjadi ungu pekat. Nanda merasakan tubuhnya menjadi sangat berat, seolah-olah gravitasi di tempat itu meningkat seratus kali lipat.

Lihat selengkapnya