Suasana di lereng tersembunyi Gunung Lawu yang seharusnya menjadi tempat perlindungan terakhir, mendadak berubah menjadi panggung tragedi yang menyayat hati. Bau tanah basah dan sisa pembakaran energi dari pertarungan sebelumnya masih menggantung di udara, namun kini aroma kematian jauh lebih pekat.
Yudhis berdiri mematung. Matanya yang biasanya menyala dengan api keberanian, kini meredup, tergenang oleh air mata yang tumpah tak terkendali. Di depannya, di atas hamparan rumput yang mulai memerah, tubuh ringkih gurunya—Ki Ageng Waspada—terkulai lemah. Sebilah keris hitam legam dengan hiasan permata ungu masih tertancap di punggung pria tua itu, menembus hingga ke jantung.
Namun, yang membuat ulu hati Yudhis terasa seperti diremas bukan hanya kematian sang guru, melainkan sosok yang memegang hulu keris tersebut. Dia adalah Ki Ageng Durjana, paman guru Yudhis sendiri, saudara kandung Ki Ageng Waspada yang selama ini mereka percayai sebagai penjaga rahasia pegunungan.
"Paman... Kenapa?" suara Yudhis parau, nyaris tidak terdengar.
Ki Ageng Durjana menarik kerisnya dengan sekali sentakan kasar. Wajahnya yang dulu teduh kini tampak bengis, dengan urat-urat hitam yang menonjol di lehernya—tanda bahwa ia telah terpapar energi gelap dari artefak lain. Di belakangnya, muncul sosok Baron yang melayang pelan, Mahkota Rahwana di kepalanya bersinar dengan aura kemenangan.
"Dunia ini tidak membutuhkan orang suci yang menyembunyikan kekuatan, Yudhis," ucap Durjana dengan suara dingin yang tak menyisakan ruang bagi penyesalan. "Saudaraku ini terlalu kolot. Dia memegang Jubah Dewa Brahmana, artefak penciptaan yang bisa mengubah nasib sebuah bangsa, tapi dia malah menyimpannya di dalam gua untuk berlumut."
Pengkhianatan Berdarah
Yudhis mencoba melangkah maju, namun kakinya terasa seberat timah. Air matanya mengalir deras saat melihat gurunya terbatuk darah, mencoba meraih tangan Yudhis untuk terakhir kalinya.
"Yudhis... jangan... jangan benci pamanmu..." bisik Ki Ageng Waspada dengan sisa tenaga terakhirnya. "Dia... dia hanya... terpedaya."
"Terpedaya?" Baron tertawa terbahak-bahak, mendarat dengan angkuh di samping Durjana. "Aku tidak memaksanya, Yudhis. Aku hanya membukakan matanya. Aku menjanjikannya posisi sebagai Imam Besar di Kotaraja, di samping Pangeran Ramaswara. Sebagai imbalannya, dia hanya perlu memberikan apa yang selama ini menjadi milik keluarganya: Jubah Brahmana."
Baron membungkuk, dan dengan gerakan yang sangat tidak hormat, ia menarik kain putih bersih yang tersembunyi di balik pakaian luar Ki Ageng Waspada. Kain itu memancarkan cahaya keemasan yang murni, sangat kontras dengan aura hitam yang mengelilingi Baron. Itulah Jubah Dewa Brahmana, artefak yang memiliki kekuatan untuk menyembuhkan, menciptakan pelindung abadi, dan menyeimbangkan energi artefak lainnya.
"Sekarang, koleksiku hampir sempurna," gumam Baron sambil mengelus jubah emas itu.
Penjahat di Balik Layar
Lili dan Nanda muncul dari balik semak-semak, berniat membantu, namun mereka langsung terhenti oleh pemandangan mengerikan itu. Lili menutup mulutnya dengan tangan, menangis melihat Ki Ageng Waspada yang sudah tak bernyawa.
"Durjana, kau benar-benar iblis!" teriak Nanda, tangannya sudah siap melepaskan bilah angin dari jubahnya.
"Iblis adalah kata yang digunakan oleh mereka yang tidak punya ambisi," balas Durjana tenang. Ia menoleh ke arah Baron. "Aku sudah melakukan bagianku, Baron. Sekarang, berikan aku apa yang kau janjikan."
Baron tersenyum licik. "Tentu, sahabatku. Tapi ada satu hal lagi. Yudhis masih memegang tiga artefak dewa. Mengapa kau tidak membantuku mengambilnya? Bukankah kau yang mengajarinya beberapa jurus dasar? Kau tahu kelemahannya."
Yudhis menatap paman gurunya dengan tatapan kosong. Rasa hormat yang selama ini ia pupuk hancur berkeping-keping. Ia menyadari bahwa penjahat sebenarnya bukanlah orang asing yang datang dengan pedang terhunus, melainkan orang terdekat yang menusuk dari belakang saat kita sedang lengah.