Pemburu Artefak

Hargo Trapsilo
Chapter #13

Paman Guru dan Murid

Langit di atas lereng Gunung Lawu seolah terbelah. Di satu sisi, awan hitam bergulung membawa guntur yang dipicu oleh Kalung Maruta, sementara di sisi lain, pendaran emas dari Jubah Dewa Brahmana menciptakan bayangan-bayangan panjang yang mengerikan di permukaan tebing.


Yudhis berdiri dengan kaki kiri yang bergetar hebat. Energi dari Gelang Dewa Hanoman menyatu dengan hawa panas Pakaian Agni, menciptakan uap yang keluar dari pori-porinya. Namun, lawan di depannya bukan lagi sekadar penjahat biasa. Ki Ageng Durjana, paman gurunya sendiri, berdiri dengan kuda-kuda yang sangat ia kenal.


"Kau ingin melawanku dengan ilmu yang kuajarkan sendiri, Yudhis?" Durjana mendesis, tangannya membentuk segel Cakra Manggala, sebuah teknik pertahanan tingkat tinggi yang hanya diajarkan kepada murid kesayangan. "Itu adalah kesia-siaan. Aku tahu setiap celah dalam gerakmu."


Yudhis tidak menjawab. Matanya yang merah karena tangis dan amarah kini terfokus tajam. Ia mengambil napas dalam, membiarkan aliran energi Agni membungkus telapak tangannya.


"Ilmu ini adalah milik Ki Ageng Waspada, Guruku dan saudara kandungmu yang kau khianati," ucap Yudhis rendah. "Aku akan mengembalikannya kepadamu dalam bentuk pembalasan!"


Yudhis melesat. Ia menggunakan teknik Langkah Bayu yang dikombinasikan dengan daya ledak Hanoman. Dalam sekejap, ia sudah berada di depan Durjana, meluncurkan pukulan bertubi-tubi. Durjana menangkis dengan tenang, setiap benturan tangan mereka menciptakan gelombang kejut yang merontokkan dedaunan dari pohon-pohon di sekitar.


DUAK! BLAARR!


Pertarungan mati-matian pun pecah. Yudhis menggunakan jurus-jurus yang diajarkan paman gurunya dengan modifikasi kekuatan artefak. Ia tidak lagi sekadar menangkis, tapi membiarkan api Agni menyambar setiap kali tangan mereka bersentuhan. Durjana, di sisi lain, menggunakan pengalaman berpuluh-puluh tahun. Ia memutar tubuh Yudhis, memanfaatkan momentum serangan Yudhis untuk melemparkannya ke arah bebatuan tajam.


Ratusan jurus telah terlewati. Udara di sekitar mereka menjadi sangat panas hingga rumput-rumput mengering dan terbakar spontan. Keduanya terengah-engah, tubuh mereka dipenuhi luka memar dan bekas sayatan energi. Namun, Yudhis tidak berhenti. Setiap kali ia terjatuh, bayangan jasad gurunya yang tewas tertusuk memberikan kekuatan baru bagi kakinya untuk bangkit.


Senyum Sang Tiran

Di atas sebuah batu besar yang menjorok ke jurang, Baron duduk dengan angkuh. Mahkota Rahwana di kepalanya bersinar redup, seolah menikmati pemandangan tragis di bawahnya. Ia memegang Jubah Brahmana yang baru saja ia rebut, membiarkan kain emas itu berkibar ditiup angin pegunungan.


Baron tersenyum lebar. Baginya, pertarungan antara paman dan murid ini adalah hiburan terbaik. "Lihatlah mereka, Kujaka," ucap Baron pada tangan kanannya yang berdiri tak jauh dari sana. "Dua anjing yang saling menggigit demi kesetiaan dan ketamakan yang sia-sia. Biarkan mereka saling menghancurkan. Siapa pun yang menang, mereka akan terlalu lemah untuk menghentikanku membawa pulang semua harta ini."


Lihat selengkapnya