Pemburu Artefak

Hargo Trapsilo
Chapter #14

Rahasia Artefak milik Lili

Suasana di lereng Gunung Lawu kian mencekam setelah kepergian Baron yang membawa lari Jubah Brahmana. Yudhis terkapar lemas dengan napas yang tersenggal, sementara Nanda mencoba bangkit dari hantaman energi hitam Mahkota Rahwana. Namun, perhatian mereka segera teralihkan oleh Lili.


Gadis itu berdiri mematung di samping jasad Ki Ageng Waspada. Wajahnya yang biasanya lembut kini tampak pucat, seputih pualam. Tubuhnya bergetar hebat, bukan karena takut, melainkan karena sebuah gejolak energi yang selama ini ia kunci rapat di dalam dadanya mulai meronta minta dilepaskan.


"Yudhis... Nanda... maafkan aku," bisik Lili. Suaranya terdengar seperti gema dari masa lalu yang jauh.


Tiba-tiba, dari balik jubahnya, Lili mengeluarkan sebuah benda yang selama ini ia sebut sebagai "rahasia yang tidak boleh diketahui". Benda itu bukan senjata, bukan pula perhiasan emas. Itu adalah sebuah kuncup bunga berwarna putih bersih yang memancarkan cahaya hijau lembut yang menenangkan.


Begitu kuncup itu terkena udara malam, ia mekar dengan anggun. Kelopaknya memanjang, mengeluarkan aroma wangi yang seketika melenyapkan bau sangit daging terbakar di tempat itu.


"Itu... Kembang Wijaya Kusuma milik Dewa Wisnu?" Nanda terbelalak, suaranya tercekat di tenggorokan. "Artefak Dewa Kresna yang paling langka... bunga yang bisa membolak-balikkan takdir kematian?"


Lili berlutut di samping Yudhis. Cahaya hijau dari bunga itu mulai merayap ke tubuh Yudhis, menyembuhkan luka-luka bakarnya secara instan. Namun, wajah Lili justru semakin pucat setiap kali bunga itu bersinar.


"Yudhis, kau bertanya padaku mengapa aku begitu takut pada pangeran dan Baron," ucap Lili sambil menatap mata emas Yudhis. "Kau bertanya mengapa aku tidak ingin kembali ke Kotaraja. Jawabannya adalah... karena aku sebenarnya tidak seharusnya ada di sini."


Yudhis mencoba duduk, rasa sakit di tubuhnya menghilang secara ajaib, namun hatinya justru merasa semakin berat. "Apa maksudmu, Lili?"


"Sepuluh tahun yang lalu, saat desa kita dibakar oleh pasukan Ki Unggul dan Baron... aku tidak berhasil melarikan diri sepertimu, Yudhis," Lili mulai terisak. "Aku terjebak di dalam rumah pamanku yang terbakar. Aku... aku sudah mati malam itu. Asap itu memenuhi paru-paruku, dan api melahap tubuhku."


Yudhis tertegun. Nanda pun terdiam seribu bahasa.


"Pamanku, yang saat itu merupakan salah satu penjaga rahasia artefak kerajaan, tidak sanggup kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa. Dia menggunakan Kembang Wijaya Kusuma yang ia curi dari perbendaharaan rahasia kakek Pangeran Ramaswara. Dia menghidupkanku kembali."


Lili menyentuh dadanya. Di sana, di balik kulitnya, tampak pendaran cahaya hijau yang berdenyut seirama dengan detak jantungnya.


"Aku adalah makhluk yang hidup karena kekuatan artefak. Kembang ini adalah jantungku. Jika bunga ini hancur, atau jika kekuatannya habis, aku akan kembali menjadi abu," jelas Lili. "Inilah alasan mengapa Pangeran Ramaswara begitu menginginkanku. Dia bukan mencintaiku. Dia ingin mengambil Kembang Wijaya Kusuma yang tertanam di jiwaku untuk menghidupkan kembali pasukan perang masa lalu."


Lihat selengkapnya