Pemburu Artefak

Hargo Trapsilo
Chapter #15

Karma untuk Baron

Langit di atas alun-alun Kotaraja berubah menjadi merah darah, bukan karena senja, melainkan karena radiasi energi penghancur yang terpancar dari Trisula Dewa Siwa. Senjata yang selama ini menjadi legenda itu kini berada di genggaman Baron. Ujung-ujung trisula itu bergetar, mengeluarkan dengungan frekuensi tinggi yang mampu meretakkan batu-batu candi di sekitarnya.


Yudhis terlutut, napasnya berat dan berbau tembaga. Pakaian Agni yang selama ini menjadi pelindung setianya kini hancur berkeping-keping, menyisakan kain compang-camping yang tak lagi mampu menahan hawa panas maupun serangan fisik. Dada Yudhis robek oleh goresan ujung trisula, darah segar mengalir membasahi tanah, memadamkan bara api yang biasanya keluar dari pori-porinya.


"Lihat dirimu, Yudhis," Baron melangkah maju, Mahkota Rahwana di kepalanya bersinar dengan kegilaan yang memuncak. "Tanpa pakaian dewa itu, kau hanyalah daging lemah yang mudah tercabik. Kau telah menggagalkan rencanaku terlalu sering, dan sekarang, aku akan mengoyak tubuhmu hingga tak ada satu pun artefak yang bisa mengenalimu lagi!"


Baron mengayunkan Trisula Siwa dengan kekuatan penuh. Setiap ayunan menciptakan gelombang vakum yang menghancurkan apa pun yang dilewatinya. Yudhis mencoba menghindar, namun tanpa perlindungan Agni, tubuhnya sangat rapuh. Sebuah hantaman samping dari gagang trisula mengenai rusuknya, melemparkannya hingga menabrak dinding istana.


Ketidakberdayaan Sahabat

Di sudut alun-alun, Lili dan Nanda tertahan oleh pasukan elit kerajaan yang kini dipimpin langsung oleh Pangeran Ramaswara. Ramaswara berdiri di podium tinggi, mengenakan zirah emas, menatap pertumpahan darah itu dengan senyum kepuasan.


"Jangan bergerak, Nanda! Jika kau menggunakan jubahmu, aku akan memerintahkan pemanah dengan Artefak Busur Indra untuk menghancurkan Kembang Wijaya Kusuma di dada Lili!" teriak Ramaswara.


Nanda mengepalkan tinju hingga kuku-kukunya berdarah. Ia tahu bahwa Trisula Siwa memiliki kemampuan Pralaya—penghancuran total. Jika ia mencoba maju dan artefak miliknya atau milik Lili terkena kontak langsung dengan trisula itu, artefak tersebut akan hancur selamanya, dan pemiliknya akan lenyap bersama ledakan energinya.


Lili menangis, kelopak terakhir Kembang Wijaya Kusuma di tangannya bergetar hebat. Ia bisa merasakan nyawa Yudhis yang meredup seperti lilin di tengah badai. "Yudhis... jangan menyerah..." bisiknya parau.


Puncak Kecongkakan

Baron menapakkan kakinya di atas dada Yudhis yang bersimbah darah. Ia mengangkat Trisula Siwa tinggi-tinggi, mengarahkan ujung tajamnya tepat ke jantung Yudhis.


"Setelah kau mati, aku akan mengambil Gelang Hanoman dan Kalung Maruta ini. Lalu, aku akan membunuh pangeran kecil itu dan menjadi penguasa tunggal Jawa!" seru Baron, tak lagi mempedulikan aliansinya dengan Ramaswara.


Mendengar itu, wajah Ramaswara berubah pucat. "Apa? Baron! Kita punya kesepakatan!"


Lihat selengkapnya