Pemilik Hati yang Mati

Hana Firya Putri Arimbi
Chapter #2

BAB 1

“Kamu pergi setelah cukup memberikan bahagia di hidupku, tapi bagaimana denganmu? Apakah aku sudah cukup memberikan bahagia di hidupmu? Kenapa aku merasa belum cukup? Kamu memberiku lebih, sedangkan aku masih merasa kurang untukmu.”


><><><


“Naomi, biarkan ibu tinggal di sini sementara waktu, ya?”

“Kamu nggak bisa sendirian, Na. Kakak akan menginap.”

“Nio dan Gio masih kecil. Kami bisa membantu.”

Namun, jawaban Naomi masih sama. “Aku bisa sendiri.”

Pagi ini Naomi bangun seperti biasa, pukul lima pagi. Sebelum bangkit dari kasur, Naomi menoleh ke sisi kasur lainnya yang tampak sunyi. Embusan napas pelan terdengar, kemudian Naomi berdiri.

Rumah tidak tidak berubah, tetap berbentuk rumah. Namun, suasana di dalamnya yang tidak sama lagi. Naomi pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Sesekali Naomi memanggil nama kedua putranya—menyuruh mereka bangun.

“Nio, ayo bangun! Gio! Ini hari pertama kalian masuk sekolah, lho!”

Kedua tangan Naomi sibuk. Satu sibuk menggoyang-goyangkan wajan berisi nasi, sedangkan tangan lain mulai memasukkan potongan ayam suwir. Setelah nasi berubah warna menjadi agak kecokelatan, Naomi mematikan kompor.

Tiba-tiba terdengar suara ribut dari arah belakang. Pintu kamar terbuka, langkah kaki terburu-buru, seseorang yang jatuh dan mengaduh kesakitan. Naomi berbalik pelan, melihat kedua putranya. Nio sudah memakai seragam putih birunya dengan rapi, menggendong ransel di pundak, tapi Gio … anak bungsunya yang hari ini resmi menjadi murid Sekolah Dasar terlihat kerepotan.

Dia adalah seseorang yang jatuh itu.

Seragam Nio agak kebesaran, topinya dipasang miring, ranselnya terasa tidak bisa diajak kerja sama sehingga akhirnya Nio menyeret ranseln itu dan menyusul kakaknya yang sudah sampai di meja makan.

Naomi meletakkan dua piring di hadapan Nio dan Gio, kemudian menuangkan air ke masing-masing gelas. Nio mengangkat wajah, melihat Naomi yang melakukan semua itu dengan raut wajah datar. Nio tidak berkata apa-apa.

Namun, Gio … anak bungsu yang belum mengerti arti kehilangan yang sebenarnya. “Mama … terima kasih,” ucapnya dengan senyum cerah, tapi Naomi tidak membalas dan berbalik ke dapur.

Nio menoleh ke tempat adiknya. Gio hanya bingung sebentar, lalu mulai menyantap sarapan tanpa berucap apa-apa. Namun, Nio yang merasakannya. Sedih, tapi Nio tidak bicara karena tidak mau suasana pagi ini menjadi lebih rumit.

“Kak … sekolah itu … nggak serem, ‘kan?”

Nio kembali menoleh ketika adik bungsunya tiba-tiba bertanya. Wajah polos itu … berhasil memunculkan senyum kecil di wajah Nio. “Kan sebelum ini kamu udah TK. Nggak serem, ‘kan?”

Gio menggeleng pelan, tapi masih tidak yakin. “TK sama SD beda, Kak ….”

“Iya, sih, tapi gak pa-pa. Kakak yakin kamu bakalan suka.”

“Beneran?” tanya Gio dengan mata berbinar, sedangkan Nio mengangguk yakin.

Di dapur, Naomi mendengar pembicaraan singkat kedua putranya. Naomi sempat menoleh, tapi tidak lama. Naomi kembali menyibukkan dirinya mencuci peralatan yang tadi dipakai memasak. Karena memang itulah yang Naomi lakukan selama beberapa hari ini. Menyibukkan diri.

Naomi hanya tidak sanggup kalau harus berdiam diri terlalu lama dan berakhir dengan ingatan buruk yang kembali masuk ke kepalanya. Aku pergi dulu, ya. Tubuh Naomi menegang. Tangannya berhenti mengusap wajan dengan spons.

“—Ma? Kita udah selese sarapannya.”

Lihat selengkapnya