Hal serupa terjadi pada Gandari, seorang gadis remaja yang tengah beranjak dewasa. Terlalu banyak rahasia dalam hidupnya yang dipendam sendiri. Bukan tanpa alasan, dia hanya terlalu takut pada dunia yang dirasa bukan tempatnya. Dia mendapati dunia yang dihuninya penuh dengan “monster jahat” yang memiliki kekuatan mengacau. Ada ketimpangan yang diyakininya sebagai kejahatan manusia lebih besar daripada kebaikan. Kesendirian dan kesepian adalah teman yang tidak pernah meninggalkannya. Tak satu pun memberi perhatian tulus pada Gandari. Terkadang dia merasa terlahir sebagai dirinya adalah sebuah kesalahan besar.
Perasaan terdalam Gandari seakan bangkit hanya untuk mengatakan bahwa dirinya harus mati agar tahu betapa menakjubkan dunianya. Berulang kali kematian merasuki benaknya, dia hanya merasa lega masih bisa bertahan dalam kerasnya hidup. Setidaknya sedikit kewarasan masih ada di dalam diri Gandari. Sungguh tragis jika kebanyakan orang harus merasakan kematian sebelum memahami berharganya hidup ini.
Gandari tidak pernah ingin terjebak dalam buaian nestapa. Tapi kenyataan yang tidak diharapkan selalu mencari tempat di hatinya, dan sialnya selalu ada ruang kosong seakan menjadi kutukan yang tidak mungkin terlepas. Setiap isi kepalanya ingin memuntahkan banyak pertanyaan, dia bergegas berdiri menuju cermin di kamarnya, menatap dirinya dengan rasa iba. Gandari akan mengarahkan jari telunjuk ke pantulan dirinya, semakin mendekat hingga ujung jari menempel pada permukaan cermin, tepat menunjuk dahi datarnya.
“Kenapa kekacauan kerap muncul di hidupmu Gandari? Masihkah kau percaya takdir? Apakah ini hukuman dari semesta?”