“Nah. Ya Allah! Tuh kan selalu beginii... Bapak selaluuu saja datang tiba-tiba dan tak pernah memberi tahu Sofi lebih dulu.”
“Maaf, Sof. Ini juga mendadak. Kemarin sore ada pengurus pesantren menelepon rumah katanya simbah kyai mau mengenalkan calon suami ke Kamu,” kata pak Yusuf lirih. “Kalau tidak segera diikat nanti keburu diambil orang lain. Orangnya katanya alim, ganteng, dan bulan depan saja, dia sudah punya izin untuk memberi kuliah di UIN. Lulusan S2 lo!” pak Yusuf melanjutkan cerita dengan antusias.
“Apa-apaan lagi sih, Pak? Selama ini Bapak tidak pernah mengompromikan masalah perjodohan dengan Sofi. Tahu-tahu sudah ada rembug di belakang. Padahal yang mau menikah kan Sofi?”
Pak Yusuf terdiam sejenak. Ada raut kekecewaan yang tergambar lewat ekspresi mukanya yang datar. Sofi menundukkan kepala. Terlihat matanya mulai berkaca-kaca. Ia menahan amarah.
Sejurus lamanya keduanya termenung, pak Yusuf mencoba mencairkan suasana, mengurai perasaan Sofi yang sedang ruwet dan kacau.
“Sebenarnya, apa sih masalah Kamu, Sof? Bapak tidak habis pikir kenapa Kamu selalu menolak segala bentuk perjodohan yang bapak inginkan, yang bapak idam-idamkan. Apa Kamu tidak pernah berpikir sejenak, merenung, atau ber-muhasabah1 sebentaaar saja betapa keluarga simbah Kyai telah begitu baik kepada keluarga kita… kepada Kamu, khususnya! Dan apakah Kamu pernah berpikir atau memahami barang sedikit saja, bagaimana rasa malunya bapak saat Kamu selalu menolak dan menolak calon yang simbah kyai tawarkan?”
Tak terasa air mata Sofi meleleh, mengalir melewati ceruk dangkal di antara hidung dan pipi. Sofi tak tega melihat bapaknya begitu sedih menanggung beban psikis karena dirinya. Terlampau sering Sofi menolak calon suami yang diinginkan oleh bapaknya. Sofi sering merenung terhadap apa yang telah dilakukannya. Ia tak tahu apakah ini benar atau salah. Yang ia tahu hanya berusaha memegang janji Ichsanuddin Syafi`i sekian tahun silam.
Ia sering memejamkan mata agar mendapat sedikit pencerahan. Tapi saat matanya terpejam, tak ada ilham yang membimbing keputusannya. Saat itu, hanya berteriak sekencang-kencangnya yang ia inginkan, “Gus2, kapan Kau akan pulang dan berikan aku kepastian?”
“Pak, maafkan Sofi, kalau kata-kata Sofi tadi benar-benar tidak enak didengar. Sofi juga sungguh mohon maaf belum bisa menjadi anak yang berbakti selama ini… Masalahnya adalah…,” Sofi menghentikan perkataanya.
“Masalahnya apa? Ayo terus terang biar kita cari solusinya bersama-sama,” terang pak Yusuf yang sangat berharap putrinya mau terbuka.
“Tidak jadi, Pak. Tidak penting. “ pungkas Sofi cepat.
Pak Yusuf merubah posisi duduknya hingga jaraknya tak lebih dari sehasta dari tempat duduk Sofi. Pandangannya lekat menatap mata putri semata wayangnya. Ia nyaris tak bergerak barang untuk berkedip sekalipun. Sesekali pak Yusuf membetulkan posisi kopiah yang dikenakannya.
“Sof, Bapak adalah orang tua kandung Kamu. Asal Kamu tahu saja, apa yang seorang anak simpan dari orang tuanya benar-benar bisa kami rasakan. Kami adalah orang-orang tua yang tak pernah berhenti berdoa untuk kebahagiaan anak. Jadi mohon berterus teranglah kepada Bapak karena pasti akan bapak carikan solusinya… Untuk Kamu dan untuk kita bersama.”
Sofi hanya terdiam. Membisu. Kini ia berada dalam posisi sulit yang mengharuskan dirinya untuk dapat berpikir dengan jernih. Ia benar-benar tak tahu harus bagaimana. Akankah hari ini menjadi hari terakhir baginya untuk meluapkan segala kegundahanya selama ini ataukah orang terdekat di hadapannya ini akan pulang dengan segenap tanda tanya? Bagai makan buah simalakama. Sofi tetap diam dan membisu. Mungkin memikirkan rancangan jawaban, mungkin juga tidak.
“Baiklah kalau Kamu belum mau berterus terang. Tetapi satu hal yang wajib Kamu camkan adalah orang yang Kamu cintai dalam hidup ini terkadang bukanlah jodoh yang Allah SWT tetapkan untuk Kamu. Banyak hal yang tak terduga dalam hidup ini, Sof. Contohnya saja bapak yang umurnya terpaut sebelas tahun dengan umur ibu kamu. Andai boleh memilih pasti dulu bapak sudah menikah dengan bude Rohmah karena pada awalnya kita lebih nyambung. Tapi kenyataan tidak selalu sesuai dengan skenario yang kita harapkan. Dan terkadang apa yang kita cari dengan kerja keras dan susah payah belum tentu berbuah manis seperti apa yang kita rancang dari awal. Tuhan selalu punya cara lain untuk menunjukkan sifat ketuhanannya.”
“Lantas, Apa Bapak yakin bahwa ibu adalah jodoh sejati untuk bapak?” tanya Sofi dengan segenap keberanian.