Penantian Tak Ada Ujung

Sukron Tajudin
Chapter #3

Tiga

“Assalamu`alaikum, Mbak... “ terdengar salam sesaat setelah pintu terbuka. Suaranya begitu familiar di telinga Sofi. Tak butuh waktu lama baginya untuk menyimpulkan bahwa orang yang baru masuk ke kamar pengurus putri ini adalah ning1 Ulya.

Perawakan ning Ulya tidak pendek dan tidak terlalu tinggi untuk ukuran ras Mongoloid. Sebenarnya cukup tinggi juga untuk ukuran perempuan Jawa pada umumnya. Kulitnya putih cemerlang. Hidungnya mancung mewarisi sifat umminya, nyai Robi`ah. Dan yang paling sering diperbincangkan santri putra adalah bibirnya yang tipis dan warnanya yang merah basah. Sungguh membuat setiap santri putera yang melihatnya jadi hilang kendali. Dasar kurang ajar!

Berkali-kali jabat tangan silih berganti menyambut kedatangan ning Ulya. Tak terkecuali Sofi yang langsung memeluk ningnya ini dengan erat. Seperti kakak beradik yang tak berjumpa sekian tahun lamanya. Ada semacam kerinduan yang mendalam, yang menyeruak dalam belukar memori yang rumit. Yang mendarah daging.

“Ning, kapan pulangnya?” tanya Juwairiyah, pengurus bidang Pendidikan.

“Tadi malam, mbak. Tapi saya langsung tepar dan baru bangun subuh tadi. Wahh! Banyak yang sudah berubah ya dari pondok ini,” tutur ning Ulya sambil melihat-lihat isi kamar pengurus putri.

“Iya Ning. Sudah tiga tahun ini pembangunan fisik dilaksanakan secara besar-besaran. Sekarang juga masih terus dilakukan,” timpal Ummi Salamah, mudir `amm2 pesantren Wahab Chasbullah periode ini.

“Oh ya?” tanya ning Ulya setengah retoris. Tak mau berlama-lama di dalam ruangan, ia keluar dari kamar pengurus putri.

Kini ning Ulya mulai berjalan melintasi beberapa kamar santri. Sebagian santri yang sedang duduk-duduk di selasar kamar bangkit menyalaminya. Beberapa bertanya mengenai kepulangannya. Yang lain agak bingung harus bagaimana, tapi akhirnya ikut menyalaminya juga.

Sampai depan kamar paling ujung, ning Ulya belok ke arah kanan dan menjumpai sebuah tangga yang membentuk sudut kemiringan sekitar 45 derajat dengan lantai. Ia menaikinya. Ternyata di atas sudah dibangun sebuah perpustakaan dan empat ruang belajar. Perpustakaan itu terkunci dan mustahil ning Ulya mampu meraih jendela untuk sekadar mengintip bagian dalamnya. Jendela kaca ruangan itu satu panjang mistar lebih tinggi dari tinggi badannya. Hanya papan bertuliskan `Maktabah’ yang memberi pengertian bahwa ruangan itu adalah perpustakaan. Semua fasilitas ini jauh lebih baik ketimbang saat sebelum ia berangkat nyantri di Jombang, Jawa Timur.

Sudah puas mengamati lantai atas, kini ning Ulya tertarik dengan tangga di ujung barat yang ia sendiri belum tahu menuju ke mana. Tangga ini belum dibangun dengan sempurna. Masih bersemen dan belum dihaluskan. Dengan mengucap basmalah, akhirnya ning Ulya mampu menaiki tangga ini.

Lantai teratas ternyata tanpa atap. Terbuka bagian atasnya langsung menghadap ke langit. Sejauh mata memandang, yang ada hanyalah beberapa tiang kayu yang berderet terpancang di bagian utara dan selatan. Kayu-kayu berlawanan posisi ini dihubungkan bagian puncaknya oleh kawat tebal berdiameter entah berapa. Disinilah santri putri menjemur pakaian.

Di pojok timur terlihat sebuah gazebo sederhana yang alasnya tersusun rata dengan lantai. Tanpa kursi dan meja. Hanya ada satu rak yang bagian belakangnya berhimpit dengan dinding pembatas. Ada sejumlah Qur`an di dalamnya. Tersusun berserakan dan tidak rapi.

Ning Ulya kembali menyusuri lantai teratas ini. Ia berjalan menuju arah barat. Ternyata batas dinding pelindung pada bagian ini belum dibangun dengan sempurna juga. Tinggi dindingnya baru setumit orang dewasa sehingga panorama di barat pondok dapat terlihat dengan saksama. Dari dekat terlihat rerimbunan pohon aren yang lebat serta pepohonan kelapa yang menjulang tinggi. Beberapa dari pohon kelapa itu sudah ditebang menyisakan batang setinggi pinggang orang dewasa.

Halaman belakang pondok dari lantai teratas ini terlihat lumayan asri. Selain pohon aren dan pohon kelapa, ada juga tanaman cabai dan sawi yang sengaja ditanam untuk menghemat kebutuhan memasak keluarga ndalem setiap harinya. Pak Ashim, suami bu Aini, ibu dapur yang sehari-harinya memasak untuk makan santri, terlihat sedang memberi makan bebek dan angsa. Secara garis besar, bisa disimpulkan bahwa pembangunan fisik yang dilakukan tidak banyak mengubah komposisi lingkungan biotik sekitar.

Baru khusuknya ning Ulya memandangi hijaunya rerimbunan, datanglah Sofi dengan tergopoh-gopoh. Mukenanya masih terpasang sehabis salat dhuha tadi. Wajahnya berseri-seri sebening cerah langit.

“Ning, gimana kabarnya? Maaf, tadi pas baru dapat dua rakaat salat dhuha. Jadi nanggung kalau ditinggal.”

“Alhamdulillah, Mbak. Baik banget kabarnya. Luar biasaa. Mbak sendiri gimana?”

“Aku Alhamdulillah baik.”

“Wahh, kaget banget Mbak. Pondok ini sudah banyak berubah.” Lontar ning Ulya setengah geleng-geleng.

“Iya ya? Kalau mbak Sofi sih ngerasainnya biasa saja. Kan tiap hari juga ngikutin perkembangan pondok. Tapi... kalau diingat-ingat memang sudah jauh beda sih dibanding pas jaman Mbak masuk dulu. Dulu mah serba kayu. Banyak hewan kecil-kecil gitu yang suka makan serpihan kayu. Pas habis ngaji jadi bentol-bentol pantatnya.”

“Yaelahh, masa abad dua puluh satu mau dibandingin sama zaman prasejarah?” celetuk ning Ulya mengejek.

“Heh, gak selebay itu juga ya, Ning!” Sofi membela diri.

Keduanya kemudian duduk sambil memandang ke bawah, ke halaman belakang. Pak Ashim sudah tidak ada di area kandang bebek dan angsa. Mereka mulai bernostalgia, mengingat sejumlah kenangan yang pernah mewarnai kehidupan mereka.

Tiba-tiba, pandangan ning Ulya tertuju pada sebuah kolam yang dipenuhi oleh tanaman pandan. Tatapannya lekat seolah pemandangan itu benar-benar mengusik dan menyita perhatiannya. Dalam sekejap, ia langsung bangkit dan berusaha menata langkahnya.

“Mbak, ayo turun ke situ!”

“Kemana, Ning?” tanya Sofi ingin tahu.

“Ke kolam di halaman belakang.” Jawab ning Ulya sambil bergegas menuju tangga.

Menuruni anak tangga per anak tangga, melewati mushola, masuk dan menyusuri halaman parkir, ning Ulya berlari seperti singa yang baru mengejar mangsanya. Sofi berusaha mengikutinya dengan langkah agak tertatih-tatih. Sarung yang dikenakannya membatasi jangkauan langkahnya, menghambat laju larinya. Dilewatinya Laili yang sedang mencuci piring dan gelas ndalem sebagai piket harian bagi santri putri.

“Kemana, Mbak?” tanya Laili agak heran.

“Ke kolam,” jawab Sofi sambil lalu.

Sofi sampai ke kolam saat ning Ulya sedang memungut sampah-sampah plastik yang menggenang di permukaan kolam. Jumlahnya tak banyak tapi ning Ulya tampak kelelahan melakukannya. Barangkali efek dari lari-lari tadi.

“Mbak Sofi, ini bagaimana ceritanya bisa banyak tanaman Pandan seperti ini?”

“Wahh, ini puaanjang ceritanya, Ning. Abah ning sendiri yang dhawuh3. Beliau trauma sekali lo ning saat ning Ulya dan gus Isan dulu hampir tenggelam di kolam ini. Dua tahun kemudian, peristiwa ini terulang lagi pada gus Lutfi yang waktu itu masih empat tahun. Sayang ning Ulya sudah berangkat ke pondok. Jadinya tidak tahu.”

“Terus?” potong ning Ulya tak sabar.

“Makanya sejak tragedi itu, beliau memberi instruksi untuk mengubur kolam dengan pasir. Tapi karena beberapa pertimbangan, aku lupa waktu itu karena apa, jadinya kolam cukup dibuat menjadi lebih dangkal... Lagipula santri-santri sekarang banyak banget yang masih SMP. Beda banget sama dulu yang santrinya sudah gedhe-gedhe. Lulusan SMP sudah yang paling kecil... Terus kembali ke yang Pandan tadi, daripada kolam ngganggur mending dibuat budidaya tanaman Pandan.”

Ingatan ning Ulya seketika kembali pada masa-masa silam saat dirinya tenggelam sampai dasar kolam di hadapannya ini. Waktu itu ia lari-lari dekat kolam untuk memberi makan ikan. Akibat pijakan yang licin oleh air, ia terpeleset dan tercebur. Tanpa berpikir panjang, gus Isan yang bersama ning Ulya langsung terjun dan berusaha menyelamatkan ning Ulya. Cerobohnya, gus Isan belum pernah mengikuti kelas berenang dimanapun sebelumnya. Tragis! Keduanya hampir tenggelam dan tangan gus Isan terlihat bergerak-gerak berusaha menggapai apapun yang ada. 

“Pasti Ning sedang mengingat kejadian waktu itu?” Sofi menduga.

“Iya, Mbak. Ketawa sendiri kalau ingat. Sumpah! Aku masih ingat bagaimana rasa eceng gondok di tenggorokanku sampai sekarang.”

“Ah, dasar miss Lebay!.”

Lihat selengkapnya