“Kenapa Kamu nggak pernah membalas suratku?” tanya seorang bocah kepada perempuan berjilbab putih. Bocah itu berdiri dengan congkaknya.
“Apa-apaan sih, Gus? Surat apa? Yang mana?” ucap perempuan yang ditanya bocah tersebut balik menanya.
“Kamu kira aku nggak tahu? Kamu kira aku main-main? Aku benar-benar serius, Sof!”
Deg! Mata Sofi terbelalak. Piring basah berbusa yang dipegangnya hampir saja lepas dari genggaman. Hampir saja pecah. Gendang telinganya benar-benar terganggu oleh ucapan bocah yang akta kelahirannya bertuliskan `Ichsanuddin Syafi`i’ ini. Bukannya sakit hati diperlakukan semena-mena oleh salah satu keluarga ndalem, melainkan telah dipanggil dengan cara yang tidak sopan oleh bocah yang lebih muda dari dirinya. Ia tidak minta dihormati. Ia hanya ingin dihargai layaknya panggilan yang lebih muda kepada yang lebih tua.
Mendadak frekuensi pernapasan Sofi meningkat. Dadanya panas menahan amarah. Tapi dengan segenap hati, Sofi berusaha mengendalikan diri. Bagaimanapun keadaannya, gus Isan adalah bagian dari keluarga tempatnya mengabdi dan menuntut ilmu. Sofi pun melanjutkan aktivitasnya mencuci piring dan gelas. Ia mengacuhkan ucapan gus Isan. Hari itu adalah senin siang setelah dhuhur. Jadwal piket harian bagi santri puteri.
“Baiklah kalau itu yang kamu mau, Sof. Terserah kamu saja lah. Silakan saja surat-surat itu dibuang atau dibakar. Tapi ingat satu hal… bahwa aku tak akan pernah berhenti mengejar Kamu! Camkan itu!” ucap bocah itu sambil pergi.
Suasana dapur ndalem masih lengang beberapa detik setelah gus Isan pergi. Baru setelah Sofi selesai membilas gelas dari ember yag berisi air dari kran, bu Aini masuk ke dapur. Ia baru saja pulang dari pijat refleksi karena belakangan ini punggungnya terasa pegal-pegal. Pak Ashim senantiasa menemani bu Aini kemanapun istrinya pergi.