Penantian Tak Ada Ujung

Sukron Tajudin
Chapter #7

Tujuh

“Mbak, nanti temenin aku ke Sekaten ya.. ,“ pinta ning Ulya kepada Sofi.

“Waduh, kerjaan Ning maiiin terus… kapan?”

“Yaelah Mbak, orang sudah berabad-abad nggak menginjakkan kaki di tanah air beta juga. Kangen suasana malam hari di kota Jogja… tadi sih aku sudah bilang sama Lutfi buat nganter kita jalan-jalan malam ini.”

“Emang dasar mis Lebay!” kata Sofi

Ning Ulya cengar-cengir.

“Malam ini ya? Hmmm…. Bisa nggak ya?” lanjut Sofi.

“Halah sok sibuk!”

Giliran Sofi cengar-cengir. Mukanya agak nyebelin.

***

Sofi dan ning Ulya beristirahat di bawah pohon besar di depan masjid Gedhe Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Keduanya asyik menikmati wedang ronde yang hangat dan harum baunya. Lutfi masih belum kelihatan. Nampaknya ia masih asyik melihat-lihat pakaian obral. Mungkin.

“Jam berapa Ning sekarang?” tanya Sofi. “Sepertinya sudah larut ini. Tu, parkirannya saja sudah banyak yang kosong gitu.” Lanjutnya sambil melirik memberi isyarat.

“Jam sebelas mbak. Wah, nggak kerasa juga ya walau cuman jalan-jalan,” jawab ning Ulya setelah melirik jam tangannya.

Kini Sofi dan ning Ulya membisu. Mungkin sudah kehabisan bahan bicara. Mungkin juga terlalu capek. Keduanya melihat-lihat sisi kanan-kiri, mengamati lingkungan sekitar, berharap Lutfi segera datang sehingga mereka bisa cepat pulang. Ning Ulya sesekali melongok arlojinya kembali.

“Di miskol kenapa Ning,” pinta Sofi.

“Oke Mbak… “

Ning Ulya mengeluarkan sebuah HP Android layar sentuh dari dalam tas jinjingnya. Begitu menghidupkan lampu layar, alangkah kagetnya ia mendapati tujuh panggilan tak terjawab. Begitu hape diaktifkan, ning Ulya tambah cemas karena ketujuh panggilan itu berasal dari nomor yang sama: nomor abahnya.

Ning Ulya balik melakukan panggilan. Batinnya mengutuk diri sendiri kenapa tadi hapenya di silent. Kini ia menjadi sangat cemas. Ia takut terjadi sesuatu pada umminya. Mukanya menjadi pucat. “Mbak, ada 7 missed call dari hape abah.”

Tanpa perlu penjelasan lebih lanjut, Sofi langsung paham maksud dari ning Ulya. “Coba di telepon abah ning!”

“Sudah, Mbak. Tapi nggak diangkat sama abah.”

Dari kejauhan nampak Lutfi keluar dari kerumunan yang kian melengang. Ia membawa plastik yang entah berisi apa. Kelihatannya ia sangat puas dengan apa yang diraihnya malam ini. Langkah gus Lutfi segera dipercepat setelah melihat reaksi ning Ulya yang meneriakinya agar berlari.

“Lut, cepet pulang sekarang! Aku takut ada apa-apa dengan ummi.” Kata ning Ulya tanpa basa-basi. Gus Lutfi yang masih ngos-ngosan hanya menurut.

“Iya tante, iya… “ jawab gus Lutfi mengiyakan ning Ulya. Ia pun segera beranjak menuju parkiran mobil.

Setelah gus Lutfi mengeluarkan mobil dari parkiran, Sofi dan ning Ulya segera masuk ke dalamnya. Mobil melaju kencang menuju arah Krapyak. Tak ada yang berkata dalam mobil: Gus Lutfi sibuk menyetir mobil; Ning Ulya sibuk dengan kecemasannya; dan Sofi mencemaskan ning Ulya sekaligus ummi ningnya ini.

Lihat selengkapnya