Mata Sofi masih terlihat sembap sedari sore tadi. Entah berapa liter air mata telah ditumpahkannya. Ia minta absen mengimami jama`ah salat Maghrib. Sebagai gantinya, ia meminta Juwairiyyah untuk menggantikannya menjadi imam. Tingkahnya ganjil tak seperti biasanya. Ada sesuatu yang disembunyikan olehnya.
“Mbak, ada apa lagi sih Mbak?” tanya Laili yang sedang berhalangan salat. Ia baru saja selesai membaca maulid Syaroful anam.
Sofi hanya terdiam dan membisu. Dirapatkannya selimut hingga membungkus sekujur tubuhnya. Sesekali isak tangisnya terdengar sampai telinga Laili.
“Mbak, ayo dong Mbak dibagi-bagi kalau ada masalah. Kali aja aku bisa bantu. Atau paling nggak, aku bisa menjadi pendengar setia.”
Sofi masih bersikukuh dengan selimutnya. Sama sekali tak merubah posisinya. Laili semakin khawatir dengan keadaan seniornya ini. Baru sekali ini ia melihat pemandangan yang tak lazim dari seorang Sofi.
“Mbak, ayo dong Mbak cerita! Sumpah deh aku nggak bakalan bocorin sedikitpun ke orang lain.”
Seteguh apapun Sofi merahasiakan kemelut batinnya, tapi ia tetaplah manusia biasa yang butuh tempat untuk berkeluh kesah. Benteng pertahanannya perlahan runtuh oleh perjuangan Laili yang pantang menyerah dengan ketulusannya dalam berempati. Perlahan Sofi membuka selimutnya. Ia memalingkan wajahnya ke arah Laili.
Suasana kamar masih sepi. Semua santri putri sedang melakukan mujahadah ba`da maghrib. Hanya Sofi dan Laili yang kebetulan ada di kamar.
“Nah, begitu dong mbak… sebuah masalah memang harus di share-kan agar kita semakin tegar dan semakin kuat menghadapi cobaan dalam hidup ini. Tenang Mbak, kita tidak sendirian menghadapinya.”
“Kamu mengingatkanku pada Azka, sahabatku dulu.” Suara Sofi terdengar serak. Hidungnya hampir penuh terisi ingus.
“Oh ya? Memangnya apa miripnya aku dengan sahabat Mbak itu?” tanya Laili sekadar melegakan, menyenangkan hati Sofi.
“Entahlah dimana kemiripannya. Yang jelas, ia adalah sahabat mbak yang paling mbak ingat. Baru ia seorang lah yang selama ini mbak percaya untuk meluapkan segala permasalahan mbak. Ia boleh lebih muda dari mbak dan teman-teman seangkatan. Tapi ia selalu ingin dianggap dewasa oleh semua orang disekelilingnya…” Tanpa jeda Sofi menerangkan kebaikan Azka. Laili hanya menyimak dan menyimak. Itu konsekuensi yang harus ia ambil.
“Terus?” Laili paham Sofi belum merampungkan ucapannya.
“Aku hanya sedih saja mengingatnya. Kangeen sekali sudah lama nggak bertemu.” Mata Sofi terpejam.
Laili tahu masalah Sofi tak sesederhana itu. Ia menepuk bahu Sofi yang memalingkan badannya kembali, membelakangi dirinya, “Apa Mbak yakin mau menyimpannya sendiri?”