Penantian Tak Ada Ujung

Sukron Tajudin
Chapter #9

Sembilan

Sudah dua hari ini kondisi kesehatan kyai Ma`ruf tak juga membaik. Meski kesadarannya selalu terjaga, penyakitnya mungkin tergolong parah. Mukanya menjadi tampak sangat pucat. Kulitnya berwarna agak kekuningan selama berada di rumah sakit. Beberapa kali ia mengerang kesakitan. Dan jika ingat semua cobaan ini datangnya dari Allah SWT, ia segera mengucap istighfar. Kyai Ma`ruf tak mampu ke mana-mana karena selalu merasa cepat lelah.

Siang itu, Kyai Ma`ruf terbaring lemah di ranjangnya. Ia memanggil-manggil nama ning Ulya. “Ulya… Ulya….”

Ning Ulya yang sedari tadi di samping abahnya menyahut dengan segera, “Iya Bah. Ulya di sini. Abah mau apa?”

Kyai Ma`ruf terdiam. Sesekali berusaha menghirup napas dengan kuat. Matanya terpejam. Dahinya berkeringat banyak.

“Nduk, abah ingin pulang saja. Abah tidak suka di rumah sakit. Abah ingin mengaji dan berkumpul dengan para santri di rumah.”

“Iya Bah. Semua ini pasti akan segera berakhir. Abah hanya perlu bersabar dan istirahat sebentar,” ucap ning Ulya yang mengira abahnya mengigau.

Kyai Ma`ruf kembali diam, mengambil nafas dalam-dalam. “Tidak, Nduk. Abah ingin pulang sekarang. Abah tidak mau berlama-lama di rumah sakit. Banyak yang harus abah kerjakan di rumah.”

“Bah, Abah tu sudah terlalu capek mengurus banyak kerjaan. Mengurus santri, pengajian rutin tarekatan, pengajian ceramah undangan dari luar, juga menjadi pengurus wilayah NU DIY. Mungkin sekarang memang waktunya abah beristirahat dulu sejenak. Semua orang maklum kok kalau abah absen. Jangan khawatir!”

Mata kyai Ma`ruf terbuka dengan lebar. Semua wajah di hadapannya dapat terlihat dengan jelas sekarang. “Panggilkan ummimu, Nduk!” pinta kyai Ma`ruf.

Ning Ulya yang dititipi izin umminya menjawab spontan, “Ummi baru istirahat sebentar di rumah, Bah. Tadi pas mau pamit Abah masih sare1. Jadi sekarang yang ada hanya Ulya. Abah mau apa? Biar Ulya yang gantiin ummi.”

“Coba panggilkan dokter, Nduk!” Kyai Ma`ruf terlihat tidak nyaman dengan berbagai cairan infus yang bersarang di tubuhnya. Ia hendak mengaduh kepada dokter yang menanganinya.

Ning Ulya bergegas melaksanakan apa yang diperintahkan abahnya. Kini ia sibuk mondar-mandir mencari dokter yang menangani abahnya, dokter Sukarsono. Ia berjalan menuju pusat layanan medis dan menjumpai banyak perawat sedang diskusi. Beberapa di antara mereka sedang istirahat.

“Permisi, bisa minta tolong dipanggilkan dokter Sukarsono!” ning Ulya meminta tolong pada seorang perawat yang sedang berjaga. Di depannya ada tumpukan rekam medik dan sebuah telepon.

“Mohon maaf, Anda keluarga dari pasien?” tanya perawat tadi dengan sopan.

“Ma`ruf Hidayat.” 

Beberapa saat kemudian, datanglah seorang dokter berkalung stetostop di lehernya. Ia terlihat baru saja menangani pasien lain dari bangsal lain. Dokter itu memperkenalkan diri kepada ning Ulya sebagai dokter Darmawan. Seorang residen spesialis penyakit dalam. “Mohon maaf, dokter Sukarsononya baru ada acara keluarga dan berhalangan hadir. Saya yang menggantikan beliau menangani pasien untuk sementara.”

Ning Ulya dan dokter Darmawan berjalan dengan langkah seribu. Sampai depan kamar, ning Ulya memersilakan dokter Darmawan untuk memeriksa abahnya. Tak lupa ia membaca hasil-hasil pemeriksaan sebelumnya. Agak lama dokter Darmawan berpikir dan kemudian ia mengambil kesimpulan, “Sepertinya kesehatan Bapak belum membaik. Bapak masih harus rawat inap di sini sampai beberapa hari lagi,” ucapnya pada kyai Ma`ruf.

Kyai Ma`ruf terlihat sedih mendengar ucapan dokter Darmawan, “Dok, saya ingin pulang saja. Saya sudah tidak betah di rumah sakit. Saya seperti terkurung di sini.”

Di luar, ning Ulya melihat dokter Darmawan dan abahnya sedang berdiskusi dengan alot. Berjibaku dengan pendapat masing-masing. Dokter Darmawan merasa tidak punya wewenang untuk memberikan izin pulang kepada kyai Ma`ruf. Namun kyai Ma`ruf begitu ngotot ingin dipulangkan. Dokter Darmawan kembali melihat rekam medik kyai Ma`ruf. Dilihatnya dengan cermat hasil CT Scan bagian thoraks-abdomen pasien dihadapannya ini.

Dokter Darmawan keluar dengan segenap kegelisahan. “Permisi, bisa bicara dengan keluarga bapak Ma`ruf?”

Spontan saja ning Ulya mendekat pada sumber suara. Suasana begitu mencekam. Gelisah tidak hanya menghinggapi dokter muda ini tapi juga pada diri ning Ulya.

“Mohon maaf Mbak, bisa minta tolong bapak Mbak ini dibilangi agar tetap mau tinggal di sini? Saya jujur angkat tangan karena Bapak Mbak berada dalam tanggung jawab penuh dokter Sukarsono, senior saya. Saya pribadi tidak punya wewenang mengizinkan beliau pulang. Perlu diketahui bila bapak Ma`ruf tetap ngotot ingin pulang, maka jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan berarti itu diluar tanggung jawab kami. Mohon kerjasamanya, Mbak!”

Ning Ulya balik merasakan grogi dan cemas. Kepada siapa ia akan meminta pendapat dan memberi persetujuan bila tidak ada umminya? Ning Ulya kembali ke dalam kamar. Sementara dokter itu kembali menangani pasien yang lain, ning Ulya terlihat sibuk mengobrol ringan dengan abahnya. Ia hanya berusaha mengalihkan perhatian agar abahnya bisa melupakan keinginannya untuk pulang.

Lihat selengkapnya