Sofi dan Azka masih asyik menyusuri tepian jalan Yos Sudarso. Di tangan Azka terjinjing dua buah plastik berisi getuk dan thiwul mbah Marto. Langkahnya cepat, mencoba mengimbangi langkah Sofi yang memiliki kaki lebih panjang darinya.
Tanpa terasa, telah sekian ratus meter mereka berjalan. Sejauh kaki melangkah, hanya bau aspal cair yang tercium. Proyek pengaspalan jalan merupakan proyek abadi yang tak berkesudahan.
Tiba-tiba langkah mereka terhenti setelah sebuah sepeda melintas di depan mereka. Sofi dan Azka saling pandang. Tak butuh waktu lama untuk menebak si pengendara sepeda. Ia masih berseragam SMA. Jelas sekali bahwa ia telah membolos hari itu. Ia tak lain dan tak bukan adalah gus Isan.
Mulut gus Isan seperti berbusa. Seperti serigala yang menemukan mangsa.
“Cukup! Cukup semua ini, Sof! Mari buat perhitungan kenapa Kamu selalu menghindar dariku. Apa salahnya seorang pemuda mencintai wanita yang lebih tua darinya?” gus Isan ngos-ngosan. Peluhnya bercucuran sebab ngebut. Raut wajahnya angker tak kenal ampun.
Sofi dan Azka agak gemetaran. Mata mereka saling jatuh pandang. Suasana hening. Yang terdengar hanya hingar bingar kendaraan berseliweran. Klakson berbunyi di sana-sini. Angin berhembus lebih lambat dari biasanya. Azka meyakinkan Sofi bahwa sudah saatnya berterus terang. Tidak mungkin selamanya dia diam.
“Apa coba istimewanya saya di mata Gus? Saya hanya seorang anak petani sedang Gus punya darah ulama. Sumpah gus, sungguh, dan sekali lagi sungguh saya tak pantas buat Gus dan keluarga Njenengan. Gus itu masih muda dan punya kesempatan lebih luas untuk memilih. Gus berhak mendapat jodoh yang jauh lebih baik daripada saya. Titik.”