Sudah dua hari ini kyai Ma`ruf menjalani rawat jalan, tapi belum juga menunjukkan adanya peningkatan kondisi kesehatan. Ia bahkan sempat mengalami penurunan kesadaran dalam beberapa kesempatan. Sesekali waktu ia mengigau saat tertidur. Kadang ia memanggil-manggil nyai Robi`ah seperti orang kesurupan padahal istrinya senantiasa di sampingnya. Nama ning Ulya dan gus Isan juga tak luput masuk dalam ingatan bawah sadarnya, dalam racauannya.
Malam itu ning Ulya sungguh gundah gulana. Sebenarnya besok adalah hari terakhirnya izin pulang dari pesantrennya di Jombang. Ia sudah berjanji kepada nyai Kholifah akan kembali ke pesantren besok. Ia berusaha sedisiplin mungkin. Tapi di sisi yang lain, ia tak mungkin meninggalkan abahnya dalam kondisi seperti ini. Abahnya sangat membutuhkan dukungan untuk melawan penyakitnya. Dan ia sadar dirinya menjadi bagian terbesar dari dukungan itu.
Ning Ulya mendekati nyai Robi`ah. Ia meminta umminya untuk mengizinkan dirinya agar bisa berada di rumah lebih lama. Tanpa ba-bi-bu, nyai Robi`ah segera mengabulkan permintaan bungsunya ini. Ia berjalan ke ruang tamu. Di sanalah telepon berada. Setelah menunggu barang setengah menit, seseorang mengangkat telepon dari tempat nomor tujuan.
“Assalamu`alaikum…, iya ini dengan siapa? dari mana?“
“Waalaikum salam, Nyai. Ini saya bu Robi`ah dari Krapyak.”
“Oh ya, Ibu Nyai. Ada yang bisa saya bantu?” ucap nyai Kholifah rendah hati.
“Begini Nyai. Saya mohon maaf sebesar-besarnya karena putri saya, Ulya, belum bisa kembali ke pondok …”
***
Matahari mulai bersijingkat saat ayam berkokok untuk yang ketiga kalinya. Suasana tampak cerah tak berawan. Udara begitu segar serupa embun yang menetes dari daun-daun talas saat musim penghujan. Terdengar alunan ayat suci al-Qur`an yang dikumandangkan lewat piringan kaset elektronik. Sungguh merdu nan menyejukkan hati.
Nyai Robi`ah duduk terkantuk-kantuk di samping suaminya yang perutnya kian membusung karena penyakit yang dideritanya. Sesekali kepala dan separuh badan nyai Robi`ah limbung ke depan dan ke samping. Di hadapannya terbaring kyai Ma`ruf yang kulitnya semakin menguning. Durasi ketaksadarannya belakangan ini juga semakin lama. Menghadapi cobaan ini, nyai Robi`ah hanya mencoba bersabar dan terus bersabar. Menunggu hari esok pun terasa begitu lama.
Selang beberapa lama, nyai Robi`ah terbangun dari tidurnya. Matahari telah sepenggalah naik, menciptakan bayang-bayang hingga dua kali panjang benda aslinya. Ia segera sadar dan bermaksud menyiapkan sarapan bubur untuk suaminya. Ketika hendak beranjak dari kursi tempatnya duduk, sebuah tangan buru-buru menyambar pergelangan tangannya. Seketika nyai Robi`ah terperangah menyaksikan suaminya berusaha dengan keras menahannya. “Jangan pergi! Tetaplah di sini!” ucap kyai Ma`ruf dengan napas yang susah.
Nyai Robi`ah pun mengurungkan niatnya. Ia kembali duduk seperti sedia kala. Dipandanginya kyai Ma`ruf yang kian melemah. Nyai Robi`ah kembali terperanjat saat melihat bibir suaminya telah berwarna merah nyala tak merata. Astaghfirullahal adziem, itu adalah darah, batinnya dalam hati.
Nyai Robi`ah meminta kyai Ma`ruf untuk membuka mulut dan betapa terkejutnya ia sesaat setelah melihat gusi suaminya telah mengalami perdarahan kecil dimana-mana. Buru-buru ia memanggil Ulya agar menyiapkan air hangat dan kain kasa untuk membersihkan darah dalam mulut abahnya.