Siang itu ning Ulya memulai sesi pendonoran darah usai menjalani beberapa pemeriksaan. Nyai Robi`ah tidak ikut serta dalam kegiatan ini. Golongan darahnya berbeda dengan golongan darah kyai Ma`ruf. Hanya ning Ulya seorang yang sampai kesempatan siang itu cocok dengan golongan darah abahnya. Rencananya, sore nanti saudara-saudara ning Ulya yang telah berkeluarga serta kerabat dekat juga akan menjenguk kyai Ma`ruf sekaligus menjalani pemeriksaan golongan darah. Adapun di pondok Wahab Chasbullah sendiri telah dibuka rekrutmen terbuka bagi para santri putra dan putri yang memiliki golongan darah B untuk mendonorkan darahnya secara sukarela.
Ning Ulya meringis dan merintih saat jarum suntik menembus kulitnya, serta merta memasuki pembuluh darahnya. Suster bernama Rena beberapa kali meyakinkan ning Ulya bahwa tak akan terjadi apa-apa dalam kegiatan ini. Saat itu juga terlihat darah mengalir dalam selang transparan kecil menuju sebuah kemasan steril. Ning Ulya kembali meringis. Ia sangat tak nyaman dengan jarum itu.
Sementara nyai Robi`ah sedang membersihkan bantal dan seprei bagian atas yang pagi tadi terkena tumpahan darah muntahan kyai Ma`ruf. Pagi tadi kyai Ma`ruf kembali muntah darah meski hanya sedikit. Sekarang ia terbaring lemah tak berdaya. Tak jelas dalam kondisi sadar atau tidak. Tidak bisa dibedakan. Sama-sama terpejam dan napas yang dalam.
***