“Astaghfirullahal Adziem… ya Allah.. ya Allah… mas.. mas…, “ ucap sebuah suara dengan penuh ketegangan.
Seorang perempuan muda buru-buru mengambil perlengkapan kebersihan agar darah yang muncrat ke sana-sini itu tidak membasahi semuanya. Tapi, lagi-lagi laki-laki paruh baya itu kembali muntah dan muntah lagi. Kali ini warnanya agak hitam. Tidak sesegar muntahan hari-hari yang telah lewat. Wajahnya begitu pucat.
Seisi ruangan tiba-tiba menjadi panik. Beberapa orang terlihat sangat bingung harus melakukan apa. Seorang paruh baya yang lain mengajak anak-anak dalam ruangan itu untuk keluar agar tak menyaksikan darah bersimbahan, menggenang di lantai. Seseorang berlari setengah mati mencari dokter, perawat, atau siapapun yang bisa menghentikan darah-darah itu keluar dari mulut si laki-laki paruh baya.
Selang beberapa lama, pasien itu berhenti muntah. Wajahnya mengerut serupa kakek-kakek berusia delapan puluhan. Padahal ia tak setua itu. Tubuhnya kurus kering kerontang. Dari ujung rambut sampai ujung kaki hanya tersisa tulang berbalut selapis kulit ari. Lebih parah lagi, perutnya membesar dua kali lipat dari ukuran perut orang normal. Sekujur tubuhnya, bahkan putih matanya, telah menguning akibat kegagalan hati yang sangat parah. Sesekali anak kecil tadi mengintip ketakutan dari balik pintu.
Dokter spesialis penyakit dalam segera masuk ke ruangan. Ia mulai bekerja dengan sigap. Dari aksinya, terlihat kalau jam terbangnya sudah tinggi. Ia bekerja tak kenal jijik. Seakan pemandangan seperti ini sudah dilihatnya saban hari.
Seorang ibu-ibu yang memanggil-manggil pasien dengan “mas” tadi tampak begitu deg-degan menyaksikan dokter bekerja. Ia menunggu penjelasan dokter dengan saksama. “Bagaimana perkembangan ayah saya, dok?” tanya perempuan muda yang mencoba membersihkan darah tadi.