Penantian Tak Ada Ujung

Sukron Tajudin
Chapter #15

Lima Belas

Gus Isan mencium tangan nyai Robi`ah dengan lembut. Keduanya terlanjur intim meski tak ada hubungan darah ataupun persusuan. Lebih dari sekadar anak dan ibu angkat. Baginya, nyai Robi`ah adalah ibu yang di balik telapak kakinya tersimpan kunci untuk membuka hamparan surga-Nya kelak. Selesai menyalami nyai Robi`ah, gus Isan menghampiri kyai Ma`ruf yang kesehatannya lumayan membaik. Ia sedang duduk bersandar pada bantal yang menempel pada dinding. Kyai Ma`ruf tersenyum simpul. Senyumnya penuh ketulusan. Gigi-gigi depannya terlihat.

“Assalamu`alaikum, abah,” ucap gus Isan sembari mencium tangan dan pipi kyai Ma`ruf. Selanjutnya, giliran kyai Ma`ruf yang mencium kening gus Isan.

Kyai Ma`ruf melepas selang oksigen dan menjauhkannya ke samping. Ia hendak berbicara. “Apa Kamu sudah menemukan apa yang Kamu cari di Mesir?” suara kyai Ma`ruf terdengar serak dan terbata-bata.

Gus Isan mengangguk pelan. Penuh keraguan. Mukanya masih sangat kucel sebab belum cuci muka selama perjalanan yang melelahkan ini. Ia memandangi kyai Ma`ruf. Ingatannya kembali pada beberapa tahun silam saat dirinya mulai diasuh oleh keluarga kyai Ma`ruf.

“Mbah Kyai, apa boleh saya bermain dengan macam-macam permainan ini?” tanya Ichsan kecil.

Kyai Ma`ruf hanya tersenyum mendengarnya, “Tentu saja boleh. Mulai sekarang Kamu boleh bermain dengan semua permainan yang ada di sini. Kamu boleh makan semua makanan yang ada. Ajaklah anak itu biar Kamu tidak bosan,” ujar kyai Ma`ruf sambil menunjuk Ulya kecil.

“Mau lollipop?” tawar Ulya kecil suatu waktu. Di tangannya ada permen Jagoan Neon warna merah dan biru.

Dengan senang hati Ichsan kecil menerima tawaran itu. Ia mengambil lollipop warna biru, membuka bungkusnya, dan kemudian mengulumnya. Tak jarang mereka bermain monopoli bersama. Kadang bermain Ular tangga kadang juga dakon. Seterusnya dan seterusnya. Pengalaman hidup bersama dalam satu rumah menjadikan hanyut dalam suasana keakraban.

Melihat keceriaan ini, kyai Ma`ruf dan nyai Robi`ah tersenyum. “Aku tidak yakin dia sudah siap mengetahui dimana jasad orang tuanya dikuburkan,” ucap nyai Robi`ah kepada suaminya.

Kyai Ma`ruf berujar kepada istrinya, “Kalau begitu tugas kita adalah memberi kasih sayang yang cukup kepadanya.”

***

Sepasang mata turunan adam dan hawa itu semakin mendekat. Ada chemistry yang terbangun persis seperti beberapa tahun silam. Tiba-tiba, waktu berjalan begitu lambat saat Ichsan lewat di hadapan Sofi. Sebuah lagu syahdu mengalun dengan pelannya. Mengikuti detak jantung yang berdegup tak menentu. Suasana begitu romantis. Begitu syahdu sesyahdu Rahul saat bertemu Anjali di Summer Camp. Setelah belasan tahun tak bertemu dengan ekses-ekses cinta yang bisa bersemi kapan pun.

Ichsan menoleh ke arah Sofi. Senyumnya merekah. Tak ada suara. Yang ada hanya bahasa kalbu. Waktu kian berjalan lambat dan berhenti tepat saat mereka berdua berhadap-hadapan. Mata mereka beradu.

Lihat selengkapnya