Matahari kembali mengulang siklus harinya. Kali ini cahayanya lebih terang. Sinarnya tak mampu menembus pepohonan rindang yang merimbun kokoh di kebun halaman belakang pesantren. Sinar itu berbuah bayang-bayang yang rebah di halaman belakang dekat kolam. Semakin ke barat matahari bergerak, bayang-bayang itu juga semakin memanjang ke timur. Suasana menjadi kian gelap sebab raja siang telah bersiap-siap purna tugas sore itu.
Sesekali terdengar bunyi diesel dihidupkan. Mati lampu kali ini adalah mati lampu kesekian kalinya yang memaksa santri-santri pesantren Wahab Chasbullah untuk lebih bersahabat dengan temaram malam. Sekali mesin diesel hidup, lampu-lampu di pesantren itu pun nyala. Lampu di mushola, di kelas, terutama di ndalem. Proses belajar mengajar pun tetap berlangsung seperti sedia kala.
Belakangan ini Sofi banyak termenung. Masalah pertunangannya dengan Farhan menjadi kian ruwet. Benar-benar tak terbayangkan sebelumnya. Dulu ia pernah berpikir bahwa sebuah pertunangan dan pernikahan adalah suatu hal yang sangat sakral, suci, dan sangat menantang. Barangkali juga mengasyikkan. Tapi yang dihadapinya saat ini benar-benar jauh dari angan-angannya itu. Ia terjebak dalam sebuah kondisi yang berada jauh di luar pilihannya.
Dan hari-hari berlalu dengan nada sendu. Ia tak pernah punya kesempatan untuk memberikan penjelasan atas semua hal yang telah terjadi ini kepada gus Isan. Gus Isan hampir tak punya waktu untuk pulang dari rumah sakit. Barangkali ia terlampau sedih mengetahui kekasihnya telah bertunangan sehingga butuh waktu untuk menenangkan pikirannya. Mungkin juga memang waktu yang belum mempertemukan keduanya.
***
Langkah Sofi terhenti oleh suara hentak kaki di atas lantai bersemen. Sofi agak ragu tapi ia harus memeriksa apa yang tengah terjadi. Dari bayang-bayang yang terbentuk, Sofi tahu bahwa ia bukanlah seorang perempuan. Tak memakai kerudung, tandasnya dalam hati. Begitu terkejutnya ia menemukan gus Isan telah berdiri tepat di belakangnya. Wajahnya geram dan garang seperti raksasa yang hendak menculik Timun Emas. Kalau saja halal, gus Isan akan menarik paksa tangan kuning langsat itu. Tapi ia hanya berdiri terpaku. Sedetik kemudian ia berinstruksi, “Masuklah ke dalam! Ada yang harus kita bicarakan. Tenanglah, tak ada ummi dan abah.”
Setengah ragu Sofi menuruti permintaan gusnya ini. Ini adalah waktu yang tepat untuk menyelesaikan semuanya, pikirnya dalam hati. Sepanjang perjalanan ke ndalem, Sofi hanya tercenung memikirkan apa yang akan ia katakan kepada gus Isan. Ia tidak sampai hati membuat hati gusnya ini terluka.
Di dalam, gus Isan telah menunggu kedatangan Sofi. Di dalam rumah itu hanya ada mereka berdua.
“Selamat ya Sof, Kamu telah menemukan laki-laki yang Kamu idam-idamkan sepanjang hidup ini. Kudengar ia sangat mapan. Aku hanya ingin memastikan Kamu bahagia dengan ikatan ini,” ujar gus Isan pada Sofi. Ucapannya mengandung ungkapan selamat, tapi nadanya seperti mencibir.
Sofi hanya terdiam dan menunduk. Tak ada sepatah katapun keluar dari bibirnya.
“Apa Kamu puas telah mengkhianati cintaku?” tanya gus Isan dengan emosi yang tiba-tiba meledak. Raut wajahnya penuh keangkeran. Matanya tidak memandang Sofi sama sekali.
Sofi menutup mata. Ia sangat ketakutan. Demi aliran darah yang mengitari tubuhnya, lidahnya mendadak kelu. Jantungnya berdegup kencang. Tak terkendali.
“Sungguh. Sungguh bodohnya diriku. Harusnya aku tahu Kamu tak pernah benar-benar memiliki rasa kepadaku. Harusnya aku tak mengalami rasa sesakit ini jika Kamu tak berpura-pura mencintaiku, membalas cintaku. Sakit. Sakit sekali…”
Sofi mulai meneteskan air mata. Ia belum berani berkata sedikitpun.
“Kenapa sekarang malah menangis?” bentak gus Isan menjadi-jadi.
Sofi mengusap air matanya yang bercucuran. Dengan segenap keberanian ia mulai menyusun kalimatnya. “Apa Kamu tahu bagaimana rasanya menjadi seorang perempuan dengan status kekasih yang tidak jelas? Bertahun-tahun lamanya aku harus menyaksikan teman-teman seangkatan pergi memadu kasih dengan yang tercinta. Selama itu juga aku harus mempertahankan cinta yang entah aku sendiri tidak tahu dimana pangkal ujungnya. Yang terlihat hanyalah hamparan jalan yang panjang dan penuh ketidakpastian. Apa seseorang harus disalahkan karena terlalu rapuh menanggung semua ini?”
“Kenapa tidak katakan aku akan meminangmu kelak?” tanya gus Isan tak mau kalah.
“Kepada siapa aku harus mengatakan? Kyai Ma`ruf? Bapak? Tidak mungkin! Sekali lagi tidak mungkin. Aku hanya akan terlihat seperti pungguk merindukan bulan. Yang tak punya malu dan selalu meminta lebih. Keluarga abah kamu sudah terlampau baik kepada kami. Apa kami pantas meminta ginjal setelah beliau memberikan hatinya? Ini akan sangat tidak pantas bagi keluarga kami.”
Gus Isan menelan ludah. Ia terperanjat dengan jawaban Sofi yang sungguh di luar dugaannya.