Usai mengucapkan salam, Sofi tak beranjak dari tempat duduk. Ia tak kemana-mana. Posisi kaki kanannya tetap diam menindih kaki kiri layaknya gerakan tasyahud akhir. Demi banyak hati dan jiwa yang harus dikorbankan, demi cinta yang harus tersakiti, Sofi meneteskan air mata. Selapis rukuh yang dikenakannya basah oleh air mata yang jatuh terjuntai oleh gravitasi. Kedua tangannya diangkat dan ia berdo`a sejadi-jadinya.
Setelah melipat rukuh dan mukena, ia kembali menyusun rencana. Ia akan bertemu dengan gus Isan sebagaimana yang ia janjikan kepadanya kemarin sore. Dan sekarang adalah waktu yang dijanjikan itu. Untung langit bersahabat. Di banding hari-hari biasanya yang lumayan panas, siang ini nampak begitu teduh. Hanya ada awan mendung berarak di belahan barat. Menurut prakiraan Sofi, dalam dua tiga jam kedepan tidak mungkin turun hujan. Hujan baru akan turun mungkin nanti sore. Itupun jika angin barat menggerakkan awan-awan itu ke timur. Jadi kesimpulannya, perjumpaan Sofi dan gus Isan tidak akan diganggu oleh suatu apapun.
***
Sofi berjalan di depan. Ia hendak menunjukkan suatu tempat yang sudah tidak asing baginya. Di belakangnya, gus Isan berjalan lebih lambat. Ia agak cemas. Mungkin takut ada sepasang mata yang memergoki mereka lantas curiga ia akan berlaku semena-mena kepada gadis yang berjalan di depannya. Gus Isan berkali-kali mengamati sisi kanan dan kiri. Kadang juga menoleh ke belakang, berharap tak ada yang bergerak mengendap-endap, mengamati langkah mereka diam-diam.
Tempatnya sendiri sebenarnya tak jauh. Tempat yang sudah sangat familiar bagi Sofi. Dulu, ia dan Azka sering ke sana. Jika kebosanan terasa begitu mencekam jiwa, tempat itu selalu menjadi tempat pelarian yang pertama dan utama. Di sana lah Sofi pertama kali berterus terang pada Azka bahwa ia mencintai gus Isan apa adanya.
Setelah berjalan cukup lama, akhirnya mereka sampai juga. Tempatnya sudah nampak dari kejauhan meski kaki mereka belum sampai menjamahnya. Gus Isan yang sedari tadi hanya diam, kini mulai bertanya, “Kemana kita akan pergi?”
Sofi tak merespon dan tetap berjalan.
Keduanya berhenti tepat di bawah pohon kelapa yang nyiurnya melambai-lambai. Tak jauh dari pohon itu berjajar tanaman perdu yang menghiasi tepi jalan. Sebenarnya tepian perdu itu bukanlah jalan. Bahkan lebih nampak seperti pematang yang rata dengan tanah di samping kanan-kirinya. Di ujung barisan perdu ada pepohonan pinang berkelopak mayang. Baru dekat dengan pepohonan pinang tumbuh sebuah pohon mangga yang rimbun. Di sekitar pohon inilah hamparan ilalang memberikan kesaksian bahwa Sofi membalas cinta gus Isan. Krik jangkrik juga berandil menyaksikan persahabatan yang intim antara Sofi dan Azka. Tapi kini kursi kayu panjang yang dulu pernah didudukinya bersama Azka sudah tak ada. Barangkali dimakan rayap atau entahlah. Yang paling jelas karena faktor usia.
“Apa Kamu tahu kenapa aku mengajakmu ke sini?” tanya Sofi menggoda. Senyumnya mengembang menawarkan pesona lesung pipit yang cukup dalam di pipi sebelah kiri. Senyum itu cukup membuat gus Isan mati rasa.
Gus Isan menggeleng-gelengkan kepala, merespon pertanyaan Sofi.
“Apa Kamu lupa pernah berjanji akan mengajakku ke negeri dongeng? Dengan demikian kita tak kan pernah berurusan dengan hiruk pikuk dunia yang melalaikan jati diri dan kemanusiaan… Kita hanya berdua. Dalam beribadah dan mendidik anak-anak kita agar mengenal Tuhan…“
Gus Isan manggut-manggut. Tapi ia belum bisa mengambil benang merah dari semua ini.
“Dengarkan baik-baik pangeranku, selama bertahun-tahun aku sudah menderita, tak pernah bertemu dan melihat romanmu. Dan aku sangat takut dengan melangkah ke depan, hanya satu langkah yang salah, bisa menjadikan kita menderita seumur hidup.” Sofi berkata pelan.
Gus Isan tertawa girang. Senyumnya mengembang lebar. “Apa Kamu baru saja memutuskan untuk kembali merajut hubungan kita?” kini ia merasakan kebahagiaan tiada terkira. “Bagaimana mungkin bisa?”
Sofi ikut merasakan kebahagiaan gus Isan. Ia tersenyum dan sama sekali tak tampak murung seperti pemandangan yang kemarin-kemarin, “Tentu saja bisa. Andai Kamu tahu bahwa berhari-hari aku hanya memikirkan hal ini. Aku sama sekali tak bernafsu untuk makan sebelum menemukan jawaban terbaik dari semua ini. Dan aku sudah yakin sekarang. Bahwa dengan berumah tangga kita bisa bahagia. Kita. Aku dan Kamu.”
Gus Isan masih belum bisa mempercayai seratus persen ucapan Sofi barusan. Ia sangat gembira mendengarnya. Tapi di sisi lain, ia sadar pada akhirnya harus ada hati yang tersakiti. “Lalu bagaimana dengan mas Farhan?”
Sofi menghirup napas dalam-dalam lalu tersenyum. “Aku sudah memikirkan masak-masak keputusan ini. Aku tahu pasti mas Farhan akan sakit hati. Tapi aku yakin itu tak sebanding dengan harga yang harus kita bayar jika kita berpisah kelak. Andai Kamu tahu pangeranku, yang begitu menyebalkan tapi sangat kurindukan, aku pernah menerima sepucuk surat dari mas Farhan… Ia akan paham dengan jalan kisah cinta kita.” Sofi menyodorkan sepucuk surat itu kepada gus Isan.
Gus Isan tidak yakin tapi kemudian ia membacanya juga.
Dear dek Sofi yang penuh misteri
Assalamu`alaikum wr wb,
Aku ucapkan salam sebagaimana budaya saudara sebangsa kita saat berjumpa. Untuk itu, maknailah surat ini sebagai perjumpaan kita. Meski terasa wagu, tapi terima sajalah sebagai obat kerinduanku terhadapmu.
Jujur, tak pernah rasanya aku melihat perempuan secantik Kamu di negeri ini. Yang lebih pandai mencuri perhatian lelaki sungguh amatlah banyak. Tapi kali ini sungguh berbeda saat melihat pesonamu. Meski waktu yang tersedia amatlah singkat, namun sangatlah cukup bagiku menjadi waktu terindah dalam hidup ini. Kurasakan waktu berhenti berjalan, darah berhenti mengalir, juga air yang menetes lebih pelan dari padasan. Semua itu tak pernah terjadi sebelumnya dalam kehidupanku. Hanya Kamu seorang. Seorang yang mungkin akan menemaniku dalam hari-hari terakhir hembusan napasku. Aku sangat mengharapkan hal itu, semoga Kamu juga.
Tapi kiranya aku juga tak bisa berharap terlalu tinggi. Bahwa ketika aku sadar aku sedang jatuh cinta, ternyata seseorang yang kita cintai belum tentu menganggap baik i`tikad ini. Dengan kata lain, sungguh perih menyadari bahwa cintaku telah bertepuk sebelah tangan. Sejujurnya aku tak pernah bisa menerima kenyataan ini, tapi aku sadar, siapakah orang yang bisa lari dari kenyataan? Aku sudah menduga hal itu dari perjumpaan kita saat lamaran kemarin. Kamu hanya diam, tertunduk, dan tak jelas apa itu pertanda malu atau tidak mau tahu. Kamu selalu membuang pandang saat sorot mata kita saling jatuh pandang. Aku merasakan sengatan listrik yang begitu menggairahkan tapi dirimu justru sebaliknya. Ada sesuatu yang bergayut dalam hatimu. Ada laki-laki lain yang telah mengisi ruang hampa itu. Dan ironisnya, laki-laki itu bukanlah aku.
Tak perlu mengarungi samudera, tak perlu menimba ilmu sampai Andalusia, dan sama sekali tak perlu menanyai opini tiap kepala untuk tahu bahwa Kamu hanya berusaha mengulur pernikahan kita. Tak pelak lagi, bagaimana mungkin pernikahan bisa tertangguhkan sampai batas waktu yang tak ditentukan? Entahlah, yang aku tahu aku selalu beri`tikad untuk memperbarui niatku dalam menjalani sunnah rasul. Sudahkah aku berada dalam jalur yang telah digariskan atau belum? Dan alangkah kecewanya ketika menemukan jawaban dari semua ini hanya berujung pada kebuntuan. Adakah hamba telah salah dalam hal ini, Tuhan?
Baiklah, dek Sofi. Mungkin Kamu butuh waktu untuk berpikir dengan jernih dalam menanggapi surat ini. Tapi ketahuilah, terlalu banyak waktu yang terbuang jika kita hanya berada dalam genangan air yang stagnan. Bergeraklah dan segera kabari aku jawabannya. Insya Allah aku akan menerima apapun jawabannya.
Wassalamu`alaikum wr wb.
Farhan Quresyi
Gus Isan terdiam penuh hayat. Ia memandang Sofi tanpa berkedip sekalipun. “Apa Kamu yakin dengan jalan yang Kamu pilih?”
“Insya Allah, Gus! Tak salah lagi, `ainul yaqiin!1” jawab Sofi.
Kini keduanya diliputi perasaan bahagia nan tak terperikan. Ingin sekali gus Isan memeluk Sofi. Tapi ia sadar ia tak boleh. Sofi hanya tersenyum-senyum telah meluapkan segala kepenatannya selama ini.
“Baiklah Sof, aku tak ingin kehilangan Kamu untuk yang kedua kalinya. Aku janji setelah kondisi abah lebih baik, aku akan berterus terang dan meminta restu beliau. Dengan demikian Kamu tak perlu cemas lagi dengan ketidakpastian yang Kamu rasakan selama ini.”
Sofi mengangguk pelan. Dalam hati ia bersyukur setinggi-tingginya kepada Tuhan semesta alam. Kini ia berada dalam kondisi psikis yang jauh lebih baik. Rasa optimismenya juga kian terbangun oleh membaiknya kondisi kyai Ma`ruf seharian ini.
Sayup-sayup suara burung gagak terdengar melantang. Awan-awan mendung berarakan, bergerak lebih cepat dari yang diperkirakan. Sofi memandang langit di atasnya yang sebagian telah berwarna gelap. Gus Isan meminta Sofi untuk pulang seperti saat siang tadi. Ia meminta Sofi berjalan di depan agar ia bisa mengawasinya dari hal-hal yang mungkin membahayakan. “Bergegaslah, hujan akan segera turun!” kata gus Isan kepada Sofi seraya mengingatkan.
Mereka kemudian berjalan cepat. Gus Isan terpaut beberapa langkah dari Sofi. Ia mengatur jarak agar tak terjadi fitnah jika seseorang mungkin memergoki mereka berdua jalan berdua-duaan. Persis seperti saat mereka datang tadi.
Awan bergerak lebih cepat dari langkah Sofi maupun gus Isan. Dalam sekejap air hujan turun membasahi bumi. Tanah menjadi becek. Sofi berjalan sambil menutupi kepalanya dengan tangan yang menengadah. Usahanya tak berefek banyak. Bajunya telanjur basah kuyup. Kerudung yang dikenakannya apa lagi. Tapi perjalanan pulang selalu lebih cepat daripada perjalanan keberangkatan. Akhirnya, Sofi dan gus Isan pun sampai ke pesantren dalam kondisi yang tak berkurang suatu apapun. Alhamdulillah!
***
Di depan pintu kamar Sofi, ning Ulya telah berdiri menunggu. Dengan wajah yang berseri-seri. Tak kalah cerah dibanding wajah Sofi. Raut wajah mereka tak sejalan dengan wajah langit yang menyuguhkan aura kengerian. Petir bertalu-talu di penjuru negeri. Tetesan hujan telah sebanding dengan volum kerikil yang dilempar saat lontar jumroh. Gemericik seng `teng teng’ tak mengurangi kebahagiaan yang menyelimuti masing-masing dari mereka.