Penantian Tak Ada Ujung

Sukron Tajudin
Chapter #18

Delapan Belas

Tiga hari menjelang pemakaman kyai Ma`ruf, jumlah pentakziah berangsur-angsur turun dibanding hari-hari sebelumnya. Selama itu pula Sofi tak pernah bertegur sapa dengan gus Isan. Bukannya membuang muka dalam tiap sesi perjumpaan, melainkan munculnya keambiguitasan saat kedua mata itu saling jatuh pandang, apa lagi yang mesti dibahas? Bukankah ini semua sudah jelas? Sofi menahan pilu menghadapi kenyataan pahit ini. Meski hatinya sakit, tapi ia berusaha serasional mungkin. Tidak mungkin gus Isan tega mengecewakan kyai Ma`ruf dalam detik-detik terakhir hembusan napasnya. Ia pun mungkin akan berbuat demikian bila berada dalam posisi gus Isan.

Tapi masalahnya adalah, apa janji yang terucap kala itu benar-benar dilandasi niat yang ikhlas tanpa keterpaksaan? Sofi masih menaruh harap meski itu tak mungkin. Lagipula jauh dalam lubuk hatinya, ia membenarkan ucapan kyai Ma`ruf. Ning Ulya dan gus Isan adalah pasangan yang amat serasi ditinjau dari proporsi usia keduanya. Ning Ulya, tentu saja, lebih cantik dan lebih cerdas dari dirinya. Ia hanya butuh sedikit polesan agar lebih dewasa. Dengan sentuhan gus Isan, pasti ia bisa menjadi `mutiara dalam kerajaan’ kelak. Dan lagi, bukankah kebahagiaan gus Isan adalah kebahagiaannya juga? Paling tidak untuk saat ini, jawabannya adalah iya.

Sofi banyak merenung belakangan ini. Ia tampak lebih banyak berduaan dengan pak Yusuf yang sudah dua hari ini menginap di pesantren. Sebenarnya tujuan utamanya adalah takziah, tapi ia bisa tinggal lebih lama lagi kalau ada urusan lain.

Ning Ulya dan anggota keluarga lainnya sudah lebih baikan daripada kemarin-kemarin. Wajah mereka sudah kembali cerah. Hari esok masih panjang. Oleh karena itu, mereka harus bersemangat memandang hamparan jalan ke depan. Adapun gus Isan, sepeninggal kyai Ma`ruf, ia tampak lebih dewasa daripada biasanya. Terlihat beberapa pentakziah menyalami dan menepuk bahunya. Salah satu dari mereka menyemangati gus Isan agar tegar menghadapi cobaan ini. Yang lainnya `mendukung’ sepenuhnya wasiat dari kyai Ma`ruf. Aduhai, ternyata berita ini sudah menyebar sedemikian cepatnya.

Beberapa dari pentakziah ini adalah teman-teman pesantren gus Isan saat menimba ilmu di Lirboyo, Kediri. Yang lain, yang jumlahnya jauh lebih banyak, adalah orang-orang dari berbagai macam kalangan. Ada pegawai kementerian agama propinsi DIY, pengurus wilayah dan cabang NU, polisi setempat, kyai-kyai sepuh seperjuangan kyai Ma`ruf, alumni pesantren Wahab Chasbullah yang bejibun banyaknya, jamaah tarekat Qadiriyyah Naqsyabandiyah yang menyemut saat ada pengajian rutin, serta dari masyarakat sekitar.

***

Ning Ulya mondar-mandir ke sana-sini tak tentu arah. Rupanya ia sedang mencari Sofi. Ia ingin sekali bicara padanya sejak kemarin. Dan memang baru kali ini kesempatan itu datang. Ia ingin memastikan kondisi Sofi setelah apa yang telah terjadi.

Ning Ulya mendapati Sofi sedang mengambil air wudhu untuk melaksanakan salat dhuha. Saat ia memanggil Sofi, buru-buru Sofi menoleh dan menebarkan senyum ringan padanya. Ia pun membalas senyum Sofi. Ia lalu mendekat ke arah Sofi dan berkata: “Mbak, habis solat dhuha bisa ngobrol bentar nggak?”

“Apasih yang tidak untuk Kamu, Ning?” jawab Sofi sambil tersenyum kecil.

Sesaat kemudian, Sofi telah siap dengan busana sederhana, baju atasan warna hijau dan rok hitam lebar. Kerudungnya hijau marun serasi dengan warna atasan. “Mau ngobrol tentang apa, Ning?” tanya Sofi serius.

“Ada pokoknya, Mbak. Yuk, temenin aku jalan-jalan di pematang. Aku rindu suasana sawah. Di sana suasananya tenang dan damai.

Lihat selengkapnya