PENCABUT MATA

Wafa Nabila
Chapter #6

JURNALIS YANG MATI MENDADAK

Turnet Claes, pria berpangkat inspektur itu membungkus kedua tangannya dengan sarung tangan hitam sembari membawaku ke salah satu bilik yang agak besar di kediaman Richard.

Wajahnya pucat dibingkai kumis tipis yang beradu dengan bibirnya. Tubuhnya pun jangkung, dan sangat kurus. Ia juga tampak serius bersamaan gayanya yang terlihat kaku, namun terkesan berwibawa.

Ia menggiringku ke salah satu kursi kayu beserta meja yang di atasnya sebuah mesin rekorder. Sudah ada dua orang polisi yang sedang mendengarkan suara dari dalam mesinnya. Bunyinya sangat bising mirip bunyi tawon beterbangan. Banyak. Lalu suara Richard yang muncul kemudian senyap. Bahkan tawon di dalam tape rekorder pun ikut senyap.

“Tuan Catwhile sepertinya beberapa hari ini melakukan penelitian pribadi terkait kasus kematian mendadak, baik manusia maupun anjing-anjing itu,” kata Turnet. Ia duduk di kursi kayu di hadapanku, menggeserkan tape rekorder hingga berada tepat di antara kami. Kemudian, dengan dagu, ia menyuruhku untuk duduk. Dua orang yang sejak tadi ada di sana langsung menegakkan badan dan melangkah mundur, melipir ke sisi yang tidak jauh dari kursi.

“Di studio cetak yang ada di ruang bawah tanah, dia menyimpan banyak sekali foto. Lebih dari seratus. Semuanya berkaitan dengan kasus yang sedang kami tangani. Dan kali ini, kelihatannya ia sangat serius. Sampai-sampai kami menemukan sebuah ruangan tersembunyi di balik dinding ruang bawah tanah rumahnya.”

Turnet menjedanya sebentar sambil mengambil napas.

“Kami menemukan mesin perekam ini di atas meja ruang tamu. Ada beberapa kaset yang sudah berisi rekaman suaranya. Sebagian besar isinya adalah catatan penelitiannya tentang kasus kematian itu, dan dia menyebut nama Anda beberapa kali. Tidak ada yang ganjil dalam rekaman-rekaman tersebut. Kecuali satu. Ada kaset yang berbeda dari koleksi lain milik Tuan Catwhile.”

Turnet mengusap permukaan mesin perekam itu sebelum telunjuknya menekan tombol pada badan mesin. Ia menatapku lekat-lekat, tatapannya seakan hendak menguliti pikiranku dan membacanya satu per satu.

Kurasa ia tau hatiku berantakan. Aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak meninggalkan air mata di kedua pipi. Itu sangat sulit.

Padahal aku bukan sosok yang melankolis. Tapi, ini soal Richard. Sahabatku. Ia diketemukan tergeletak tak berdaya di depan rumahnya sendiri, masih mengenakan pakaian tidur. Lengkap. Wajahnya yang menghadap ke langit-langit itu terbayang jelas di dalam kepalaku tidak mau pergi.

Akhirnya Turnet menekan salah satu tombol. Klik. Penutup mesin perekam terbuka. Pria itu mengambil kaset di dalamnya dan mengganti kaset lain untuk kemudian dinyalakan.

Bunyi dentingan gelas menjadi pengisi suara pertama di heningnya ruangan. Samar samar deheman dan suara Richard mulai bersuara.

“Ekhm ... Seperti biasa, aku Richard, sedang menginvestigasi soal kasus kematian anjing-anjing itu dengan sahabatku Addie. Tapi, malam ini sepertinya berbeda dari malam-malam lainnya, ada sesuatu yang tidak beres dengan frekuensi radioku dan beberapa alat kamera.” Suara Richard terdengar serak, jauh lebih berat dari yang kuingat. Suara gesekan kursi kayu yang ditarik menyusul kemudian, dibarengi napasnya.

Lihat selengkapnya