Jangan terbawa rasa dulu,
barang kali itu yang memberi pilu.
———
Tung-gu! Mbak... Mbak...!!
Duh, denger nggak sih dia? Teriak perempuan diseberang pada seseorang.
Seorang gadis berlari kecil sambil terengah-engah memanggil seseorang di seberang sana. Namun wanita itu tak menoleh sedikit pun. Seolah dikejar deadline, dia bahkan tak punya waktu untuk sekadar berpaling. Itulah Karasa. Nama yang dielu-elukan banyak orang.
Di balik kerumunan itu, si gadis penggemar hanya berharap, sang penulis yang menginspirasinya bersedia menorehkan sedikit tanda tangan di buku diary kesayangannya.
Karasa baru saja berhasil keluar dari kepungan para penggemar yang mengejarnya hanya untuk dimintai foto atau tanda tangan eksklusif. Bukan karena tak mau, tapi karena suatu hal yang mengharuskannya untuk segera pergi dari sana. Ia kelimpungan menghadapinya.
"Mbak Rasa!!" Sahut salah satu fans.
"Rasa... boleh minta foto!" Teriak penggemar lainnya.
"Kak, please... ini buat skripsi aku. Besok aku uji tesis kimia" Teriak yang cukup lirih, dari seorang mahasiswi.
"Boleh minta tanda tangan, Kak!" Suara perempuan muda melengking di tengah keramaian.
Suasana makin kacau. Para penggemar makin mendesak. Bahkan staf dan pengawal Karasa kewalahan menghadapi lautan manusia yang bersahutan memanggil namanya.
Beberapa diantaranya mulai agresif, memaksa maju tanpa peduli batas. "S-sabar, Kak... Kasih lewat dulu, ya," pinta salah satu staf. Tapi suaranya lenyap begitu saja ditelan hiruk pikuk. Karasa panik. Tak tahu bagaimana keluar dari situasi ini.
Sampai ia mendengar suara gadis yang akan ujian tesis kimia. Ia tahu betul perjuangan menyusun skripsi seperti apa. Maka ia curi waktu sebentar. Ia terima sodoran pena dari tangan si penggemar, pena yang berukir nama Karasa's.