Pencarian Rasa

she tshera ra
Chapter #2

The art


jangan minta berhenti,

jikalau masih menanti lagi.

————


But i just couldn't see until it was gone

A second once in life time

Maybe too much to ask, but I swear from now on

If ever you're in my arms again

this time, I'll love you much better

If ever you're in my arms again

this time, I'll hold you forever.


Sebuah playlist lagu terputar, entah untuk ke sekian kalinya di ulang. Seperti membaca buku dengan judul yang sama, tetap saja perasaannya nyata.

Lagu yang diputar menggunakan ponsel milik seorang gadis tak lain Karasa, Tak hentinya lagu terus berputar di indra pendengarannya, dengan harapan mendapat insipirasi untuk buku terbarunya.


Pada akhirnya Karasa memutuskan untuk ke dapur mengambil sedikit cemilan yang ia stock jauh-jauh hari saat berbelanja bulanan, hingga kembali lagi mendengar lagu yang sama.

Entahlah bagai kutukan rasanya hari ini, Karasa tak pernah merasa hari-hari nya berbeda dari sebelum nya, ia selalu merasa hidupnya lurus bagai vertikal, datar tanpa ekspresi, bahkan sendiri yang bersahabat dengan sunyi.

Hingga tengah malam pun insomnianya kambuh, tak bisa jika sekali saja ia tak memikirkan karyanya, yang belum sempat ia beri judul, karena kali ini ia menuliskan cerita baru tak seperti sebelum nya, fiksi yang di puja dalam market penjualan buku sekarang, bahkan ia pun menulis buku self- improvement dengan tesis menyemangati orang-orang dengan karyanya.


Padahal tak lain ia hanya menyemangati hidupnya yang hampa layak tak ada rasa. Hanya bersembunyi di balik namanya yang indah bagai penuh rasa warna—Karasa.


Karasa beranjak dari kamar tidurnya untuk mengambil minuman, dari sana ia bisa melihat gedung pencakar langit yang tinggi dan berkilau di malam hari, bagai hendak memberi harapan padanya lagi.


Dan ia memutuskan untuk pergi melihat city light, karena malam ini cukup dingin, hingga ia mengambil syal untuk meredakan rasa dingin di tubuhnya.


Satu detik. Dua detik berlalu begitu saja.


Karasa bagai hilang arah malam ini, Terbesit dalam benaknya untuk tak melanjutkan ceritanya, sebab ia pikir lagi akankah ia mampu menceritakan sebagian kisah hidupnya yang ia kubur dengan keikhlasan, lanjut ia merenung sepi.


Rasa bosannya datang bercampur keraguan. tak bergeming melihat padatnya jalanan, seperti padatnya harapan. Namun, sebelum ingin menyudahi buku yang mungkin tak ia terbitkan ini.


Drttt...


Drtt...

Lihat selengkapnya