Pencarian Rasa

she tshera ra
Chapter #3

Particle

Pada akhirnya hanya rasa,

yang pergi ke ranah dukanya.

————


Kala hari berganti malam rabu datang lagi, tak lupa membawa rindu, menghantui Rasa di tengah 5 pagi, dengan kamar yang sudah seperti kapal pecah. Buku-buku tak di tempatnya dan hanya kopi yang menjadi saksi bisu atas terjaganya sang empu.


Akhirnya Rasa memutuskan beranjak dari tempatnya menuju kasur, menutup diri dengan selimut, menatap plafon kamarnya. Dan menunggu bunga tidurmenjemput mimpinya.

Mungkin mimpi yang paling sadis dalam masa lalu dan terukir berdarah di masa depan. Satu sedetik berlalu dalam pejam hangat.


***


"M-maaf Nilma ..."

"Gu-gue janji bakal jadi babu lo, seumur hidup gue"mohon seorang gadis sambil tersedu

"Heh! lo tu harusnya tau diri ya gembel. Hari ini harus lancar sesuai briefing gue! kalau nggak bokap lo gue buat sengsara seumur hidup di penjara." gertak Nilma dongan suara mengancam.

"Tt-tapi Nil ..."

"Tapi atau mati?"

Di lanjut dengan tatapan sinis gadis berambut hitam itu.


Vini terdiam mendengar itu, tak banyak pilihan yang bisa ia ambil. Dalam kondisi menangis ia berusaha berdiri semampunya dan segera mengikuti arahan aksi keji yang sudah direncanakan Nilma. Pada seorang gadis cantik yang tampak sibuk berada di seberang sana, dengan kilau silhouette rambut chestnut brownnya.


***


Di seberang gudang balkon Karasa yang tengah sibuk menghitung perlengkapan farewell party yang akan ditampilkan seluruh murid IHS.

Bzzz... bzzz...

Getar ponselnya berbunyi segera gadis itu menjawabnya, "Iya, Ma, kenapa?" tanya Rasa di balik benda pintar itu

"Sayang cepat pulang ya, hari ini kita ada dinner bareng. Mama tunggu di tempat biasa nak,"

"Ohh-gitu, oke Maa, jumpa nanti ya."

Tut

Rasa melirik jam lewat ponselnya, dan membalas chat yang tertimbun seadanya. 

Satu detik. Dua detik

"Akh tolong jangann ...! " teriak histeris dari seorang gadis

"Dasar gembel! gue gak mau tau, pokoknya rencana kali ini harus berhasil. Lo buat Karasa tergugah kesini, bangsat!" bisik Nilma sambil melotot.

Teriakan Vini semakin keras, kakinya di tendang berulang-ulang oleh Nilma. Membuatnya menangis tak tertahan, Vini mengigit bibirnya untuk menyalurkan rasa sakitnya.


Lihat selengkapnya