Setiap pagi aku selalu harus berangkat kerja. Aku bekerja sebagai petugas kebersihan di area Pom bensin yang ada di kota. Hanya ini jabatan paling tinggi yang bisa aku capai sebagai orang miskin. Dari pada dulu, sejak kecil aku habiskan waktu untuk memulung sampah. Pekerjaan hina dan paling rendah derajatnya.
“Bu, aku berangkat dulu! Ibu istirahat dan jangan lupa diminum obatnya ketika siang hari.” Aku berpamitan kepada ibuku yang masih terbaring lemas di kasur.
“Iya nak, kamu juga hati-hati ya.” Jawab seseorang dengan suara yang terpatah-patah.
“Baik bu. Nanti sepulang aku kerja, Ibu akan saya seka dan ganti baju.”
“Maaf ibu ya nak sudah merepotkanmu.” Ucap seseorang sambil terbaring lemas di kasur.
“Sudah bu, tidak perlu minta maaf. Aku berangkat dulu.”
Aku harus sampai di tempat kerja sebelum matahari terbit. Butuh waktu setengah jam untuk sampai jika ditempuh dengan sepeda kayuh. Harus melintasi beberapa gang-gang sempit agar cepat sampai. Sepeda inilah satu-satunya hartaku yang paling berharga. Senjata yang bisa membawaku dari dulu ke mana-mana. Teman perjalanan yang setia.
Cahaya matahari bersinar terang saat aku sudah sampai di tujuan. Sinarnya memantul pada permukaan aspal basah bekas hujan semalaman. Suara kendaraan datang menyambutku secara bergantian. Mulai dari suara motor tua yang meraung keras atau suara mobil keluarga yang tenang sedang berhenti untuk mengisi bahan bakar.
“Pertamax, isi penuh!” terdengar pengunjung mengisi bahan bakar dan petugas sibuk melayani pelanggan yang datang silih berganti.
Aroma khas yang sudah akrab di hidung. Bau bensin yang sudah bercampur asap knalpot. Bau pesing toilet umum yang harus segera aku bersihkan. Tak kalah kecutnya aroma sopir angkot mewarnai kesibukan area ini.
“Halo sobat, selamat pagi dan selamat bekerja.” Sapa Rodi dengan penuh antusias di ruang lobi Pom.
“Halo, selamat pagi juga. Tumben sampai sini pagi, biasanya kau terlambat.” Aku balas sapaannya.
Begitulah Rodi, partner kerja sekaligus sahabatku. Pria gendut yang selalu ceria. Kami berdua sama-sama petugas kebersihan di Pom ini. Teman kerja dan teman berbincang selama seharian bekerja. Tak lama kami langsung mengambil peralatan kebersihan untuk segera bekerja.
“Bagaimana kondisi ibumu Lingga?” tanya Rodi sambil berdiri menyapu area halaman Pom.
“Ya masih tetap seperti itu. Aku lagi pusing sobat, obat ibuku hampir habis. Aku butuh uang untuk membeli obat.” Aku menjawab di sebelahnya yang ikut membantu menyapu.
“Kenapa kau tak minta tolong ke Pak Haji Heri saja!” Rodi coba memberikan saran.
“Tidak, aku sungkan dan tidak ingin merepotkan Pak Haji lagi. Aku sudah banyak dibantu oleh beliau.”