Jakarta, 22:00 WIB
Awan hitam menyelimuti megahnya sang cakrawala yang telah menumpahkan hujan gerimis yang tipis. Tidak ada bintang, hanya cahaya rembulan yang menemani Happy melangkah menembus kelamnya malam di sebuah taman kompleks yang sepi.
“Awes, kamu di mana, Wes?” teriaknya cemas.
Sreeek … sreeek ….
Happy langsung menghentikan langkah dengan penuh kewaspadaan. Ia celingukan, bersamaan dengan peluh dan napas yang memburu. Sementara, degup jantungnya tak beraturan. Perasaannya mulai tak enak. Happy bisa mendengar suara langkah kaki yang mengikutinya di belakang. Namun, bodohnya Happy tak berani menoleh dan kembali berjalan. Meski udara terasa beku, tetapi berubah menjadi hawa panas yang mencekam. Sebab, ketakutan berhasil menguasai.
“Awes …,” panggilnya lagi.
Happy masih fokus dengan langkahnya. Namun, tergemap tatkala mendengar suara langkah seseorang yang dekat dan tak jauh dari arah belakangnya. Happy mematung di tempat. Keringat dingin mulai membasahi dahinya. Happy tak mampu hanya sekadar untuk menoleh ke belakang, sebab dia tahu jika orang itu–si penguntit dan pembunuh berdarah dingin–sedang mengawasinya. Happy meneguk salivanya. Meskipun saat ini Happy ketakutan setengah mati, tetapi dia tak bisa meninggalkan Awes seorang diri. Laki-laki itu sedang tak berdaya dan disekap oleh si penguntit. Happy tak ingin Awes bernasib sama seperti temannya yang tewas akibat dibunuh oleh si penguntit.