Tembakan flash camera terus terpancar ke arah seorang gadis yang sedang berpose di depan sana. Manik cokelatnya tampak apik dibingkai kelopak dengan bulu mata lentik. Semua orang yang melihatnya, seolah tak mau lepas dari sosok model bersurai panjang sepunggung itu. Seulas senyum yang selalu terhias di bibir, tak pernah gagal membuat banyak orang berdecak kagum.
“Coba liat ke kiri, Py.” Sang fotografer mencoba mengarahkan.
Sang model pun menurut. Menolehkan sedikit kepalanya ke kiri. Membuat rambut berwarna hitam yang hari ini terurai, jatuh dan terjuntai halus. Memperlihatkan dengan jelas lekukan indah sepanjang sisi wajah hingga ke leher jenjangnya.
Angga, sang fotografer mulai menekan tombol kameranya, mengambil foto yang tak perlu usaha keras—yang dia yakin—sudah menghasilkan foto yang sempurna. Setelah itu, menurunkan kameranya.
“Gavin, sekarang giliran kamu. Coba kamu berdiri di belakang Happy,” interupsi Angga kepada seorang cowok bertubuh tinggi atletis dengan wajah yang putih bersih. Sedari tadi berdiri tak jauh dari tempat pemotretan, menunggu gilirannya datang.
Tanpa sepatah kata, Gavin langsung menghampiri Happy di depan.
“Oke! Sekarang coba kamu peluk Happy dari belakang!”
Gavin menurut dan langsung mengambil pose memeluk partner kerjanya itu, tanpa canggung sedikit pun.
“Liat ke sini.” Laki-laki dengan rambut panjang sebahu yang diikat ke belakang itu, kembali mengangkat kameranya dan bersiap membidik keduanya.
Mata Happy dan Gavin menatap ke arah lensa. Sementara sang fotografer mulai mengabadikan gambar dua model tersebut. Dia sangat bersemangat mengambil segala sisi tampilan model-modelnya yang nyaris sempurna.
“Nice. Perfect!” sahut Angga sembari menurunkan kamera dengan senyum semringah di wajahnya.
Seketika, suara gemuruh tepuk tangan terdengar di studio.
“Sempurna,” sahut Teddi si direktur utama sekaligus pemimpin redaksi majalah remaja Bintang. Mengiringi dua modelnya itu yang sedang berjalan menghampiri dengan tepuk tangan dan senyum yang menawan.
Laki-laki yang tahun ini memasuki kepala tiga itu, menepuk bahu Gavin dan Happy bergantian saat telah berada di hadapannya. “Kerja bagus! Nggak sia-sia kalian saya duetkan. Saya yakin banget kalau foto kalian berdua ini bakalan laku keras di pasaran. Jadi, buat next project nanti, saya udah mutusin cuma pake kalian doang,” optimis Teddi.
Happy tersenyum dan mengangguk. “Makasih banyak buat kepercayaannya, Om. Aku juga berharap semoga hasilnya memuaskan,” katanya. Sebagai model baru yang sedang naik daun, Happy juga mengharapkan hal yang sama seperti atasannya itu.
Teddi mengangguk. “Oke, sekarang kalian boleh istirahat,” titahnya, lalu berjalan meninggalkan studio.
Happy dan Gavin pun memilih rehat sejenak sebelum pulang ke rumah masing-masing. Mata Gavin sempat bersirobok dengan manik Rosa saat melintasi gadis itu yang sedang duduk di sofa.
Rosa tersenyum manis ke arah sang idola. Manik bulatnya terus mengikuti ke mana arah laki-laki itu melangkah, seakan tak ingin sedetik pun kehilangan pemandangan indah di depannya. Meski tak pernah disambut baik oleh Gavin, tetapi Rosa tak peduli. Bahkan, sikap dingin Gavin, membuat Rosa semakin gemas terhadapnya. “Ya, ampun… Kenapa, sih, Vin, kamu ganteng banget?” gumamnya saat melihat Gavin telah duduk di sofa seberangnya.
Happy duduk di samping sahabatnya itu. Menggeleng sambil mencepol rambutnya ke belakang. Dia tersenyum kecil, mengikuti arah pandang Rosa yang tertuju ke arah Gavin, teman SMA mereka. Cowok beralis tebal itu tampak sedang meneguk air mineralnya, lalu memilih fokus dengan gawainya.
Menatap Gavin, Happy jadi teringat saat lima tahun silam. Gavin sangat gemar mengoleksi miniatur motor balap. Bahkan, sering kali mengikuti balap motor. Namun, Happy tak pernah mengira jika Gavin malah lebih memilih untuk gap year demi fokus berkarir menjadi model ternama. Seperti saat ini. Bahkan, berkat ketenaran dan berkolaborasi dengan laki-laki itu, membuat nama Happy semakin melejit cepat.
Happy memilih untuk membiarkan Rosa terus hanyut mengagumi sosok sang idola. Mengeluarkan ponsel dan bersiap untuk berselancar di dunia maya. Rasa lelah yang sedari tadi membekap, kini seakan lari terbirit-birit saat netra Happy mulai membaca satu persatu komentar-komentar positif dari unggahan foto di akun sosial medianya, yang kini total pengikutnya telah mencapai belasan juta orang.