Pengagum Rahasia

Rosiana Quraisin
Chapter #3

2 - Pengagum Rahasia

Matahari mulai tenggelam dari singgasananya. Menciptakan warna langit perpaduan antara jingga dan ungu yang saat ini telah berubah menjadi gelap. Sebab, cahaya bulan dan bintang berhasil dikalahkan oleh gemerlap lampu gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi di kota Jakarta. Kendati begitu, jalan raya masih tampak ramai.

Always mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, membelah keramaian kendaraan yang melintas. Melalui kaca spion, laki-laki dengan iris mata berwarna cokelat itu menatap Happy di belakang. Mendadak ada sesuatu yang menjalar ngilu di dada saat melihat segurat lelah yang tampak jelas di balik wajah Happy. Gadis itu sedang menatap hiruk-pikuk ramainya kendaraan dan orang-orang yang berlalu-lalang silih berganti.

Awes mendesah ringan. Entah kenapa, terlepas dari jalanan yang ramai, dia merasa jika individu yang tinggal di dalamnya justru merasa sepi.

“Jakarta itu ramai dan indah, Wes. Tapi, terlepas dari keindahan itu, orang-orangnya justru malah merasa sepi. Di mana hiruk-pikuknya Jakarta, kesibukan para pekerja, orang-orang pengejar kereta, mereka yang selalu diburu oleh waktu, sudah habis tenaga dan tampak lesu saat malam selepas pulang kerja.”

Ya, Awes ingat jika hal itu yang selalu dikatakan oleh Gadis, neneknya, satu-satunya keluarga yang dimilikinya. Miris memang. Namun, mau bagaimana lagi? Sama halnya dengan Awes, yang harus banting tulang untuk menaklukkan kerasnya Jakarta dengan menjadi ojek online untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup dan kuliahnya. Awes tak bisa membayangkan jika dirinya tak bekerja keras, sudah pasti akan menjadi manusia yang tak bermoral hingga menambahkan angka tingginya kasus kriminalitas di kota ini.

Awes menghentikan laju motornya saat sorot lampu lalu lintas berubah merah. Netranya kembali beralih menatap Happy melalui kaca spionnya.

“Maaf, ya, tadi aku telat jemput kamu, soalnya aku harus anter customer dulu,” kata Awes memulai percakapan di antara keduanya. 

Happy menggeleng, tak keberatan. “Iya, enggak apa-apa, Wes. Aku ngerti kok. Harusnya aku yang minta maaf, soalnya aku ngerepotin kamu mulu.”

Awes tersenyum kikuk. “Eh, enggak. Enggak ngerepotin sama sekali, kok. Malahan aku seneng bisa anter jemput kamu. Lagian, kan, emang aku yang mau.” Dia terkekeh. Sebuah alasan yang cukup klise—yang selalu dilontarkan, meski pada kenyataannya Awes hanya ingin selalu dekat dengan gadis itu. 

Mendengar itu, Happy tersenyum. Namun, entah kenapa, hanya melihat senyum itu, membuat Awes bisa merasakan aliran hangat tercipta yang mengalir ke seluruh tubuhnya. Awes mengaku dalam hati, dia menyukai Happy. Dia mengerti benar hal itu. Bagaimana jantungnya berdebar kencang saat ada di dekat Happy, sudah lebih dari cukup untuk menjadi bukti. Meski tahu jika perasaannya itu tak akan pernah terbalas. Sebab, Awes sadar, jika keduanya bak air dan minyak yang tak mungkin bisa bersatu. 

“Oh, ya. Besok malam kamu dateng, kan, ke acara promnight kampus?” tanya Awes.

“Pasti, dooong … Sebagai sahabat yang baik, aku pasti dateng. Soalnya, aku juga mau liat kamu nyanyi, Wes.”

Awes tersenyum kecut. Sahabat katanya? Sepertinya, Awes juga harus sadar, jika selama ini Happy hanya menganggapnya sebagai sahabat. Tak lebih. Awes pun segera melajukan sepeda motornya saat sorot lampu berubah berwarna hijau. 

Awes membelokkan motornya ke arah kanan saat sampai di persimpangan jalan. Melewati jalan raya kecil untuk menghindari kemacetan lalu lintas. 

“Kita lewat sini aja, ya, Py. Biar enggak macet,” saran Awes. Suaranya sedikit berteriak supaya terdengar ke belakang.

Happy mengangguk. “Tapi, kamu tau jalannya, kan, Wes?”

“Aku pernah anter customer lewat jalan ini, tapi aku lupa-lupa inget, sih. Semoga aja kita enggak nyasar.”

Lihat selengkapnya