Langit malam minggu ditaburi oleh gemerlap bintang di angkasa. Awan-awan putih yang terlihat seperti kabut pun menutupi sekitarnya. Sementara rembulan bersinar cerah, seakan tersenyum menyambut malam promnight di Universitas Jakarta.
Di sebuah ruangan berukuran lima kali enam meter itu tampak begitu sunyi, seperti tak berpenghuni. Lampu tak menyala. Hanya cahaya rembulan yang berusaha menembus celah gorden jendela yang tak tertutup rapat.
Dua insan yang tak terikat pernikahan tampak bergelung penuh gairah di atas sofa. Memadu kasih dan berusaha memarkirkan jeda waktu sesaat jika malam ini hanya untuk mereka berdua.
“Ahhh ….” Erangan Tiara keluar begitu saja. Gadis berusia dua puluh satu tahun itu meremas punggung Setya kuat. Dia terengah. Dalam kungkungan tubuh sang rektor dan juga sentuhan di setiap tubuh mulusnya, napas Tiara terputus-putus, lalu melenguh ketika pria itu menyusuri tiap bagian tubuhnya bersamaan dengan isapan hangat di leher. Dia bisa merasakan napas Setya yang kian menggila.
“Kau sangat cantik … Tiara,” ucap Setya parau.
Desahan pun saling bersahutan. Berbalut peluh dan gairah yang memuncak, keduanya saling memacu adrenalin dalam hentakan yang sama.
Klik !
Seketika ruangan yang lebih mirip ruang kerja ini terang benderang ketika Setya menekan saklar lampu di dinding. Setya merapikan kemejanya sembari melangkah ke arah Tiara yang telah terbalut mini dress terbuka yang tampak seksi. Gadis itu sedang merapikan rambut panjang sepunggungnya di atas sofa.
“Makasih, ya, Tiara. Service kamu bener-bener bikin saya puas banget malam ini. Malahan, saya enggak pernah merasa sepuas ini kalau sama istri saya,” curhat Setya. Pria berusia empat puluh tahun itu duduk di samping Tiara. Merogoh saku celana bahannya dan mengambil sebuah amplop berwarna cokelat. “Ini uang service kamu. Saya kasih tips buat mahasiswi secantik kamu,” godanya sambil menyodorkan amplop tersebut kepada Tiara, lalu mengelus pipi gadis itu.
Netra Tiara langsung berbinar senang kala melihat amplop tersebut. Dia tersenyum sembari buru-buru meraihnya. “Sama-sama, Pak. Kalau Bapak kepengen lagi, jangan sungkan buat hubungin mami. Aku siap kok nemenin Bapak.”
Setya tertawa. “Oke. Tapi, kalau kita lagi berduaan gini, jangan panggil saya bapak dong. Panggil aja saya Setya.”
Tiara tersenyum kecut, tetapi mengangguk. “Oke, Pak—eh, Setya.”
Lagi-lagi Setya tertawa melihat tingkah menggemaskan mahasiswinya itu. “Ngomong-ngomong kamu bekerja kayak gini udah berapa lama?” tanyanya penasaran. Sebab, dengan service yang cukup memuaskan, tak mungkin jika Tiara melakukannya hanya sekali.
Tiara tampak mengingat-ingat. “Hmmm … kayaknya sejak impian aku buat menjadi model direbut sama Happy,” akunya kemudian sambil tersenyum getir.
“Happy yang anaknya Kombes Pol Adam itu?”
Tiara berdehem, tak berminat membicarakan gadis yang merupakan saingannya itu. Seorang gadis yang juga telah merebut laki-laki yang sangat disukainya, Raja. Entah pelet apa yang digunakan, membuat Raja terus mengejar Happy, hingga sampai menolak kehadirannya.
“Sepertinya saya harus pergi.” Setya beranjak dari duduknya. “Kamu pakai dress kayak gini, mau ikut promnight?” tanyanya, yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Tiara.
“Kalau gitu kamu boleh pergi sekarang. Pastikan saat keluar nanti enggak ada mahasiswa yang melihat kamu keluar dari ruangan saya.”
****
Petik demi petik senar gitar terdengar mengalun indah di ruang aula yang cukup megah ini. Semua siswa telah larut dalam irama musik membuat suasana tampak begitu syahdu.
Malam kehadiran cinta, sambut jiwa baru
Telah lama kutunggu hadirmu di sini
Namun hanya ruang semu yang nampak padaku
Meski sulit harus kudapatkan