Pagi merangkak siang. Awan mendung di langit kota Jakarta pun telah menumpahkan hujan gerimis yang tipis. Beberapa mahasiswa yang sedang duduk di taman memilih untuk berteduh, karena tak ingin membiarkan baju mereka basah oleh rintik-rintik hujan.
Awes terduduk dengan menopang kedua tangannya pada dagu di atas meja. Pandangannya menerawang ke depan, menatap rintik-rintik gerimis yang perlahan kian menderas dari balik kaca jendela kelas yang terbuka lebar. Perlahan, angin dingin mulai masuk dan berdesir lembut mengenai tubuhnya. Awes berdesis, lalu memeluk tubuh dan mengusap bahu dengan kedua tangannya.
“Tutup jendelanya, dong, Wes!”
Mendadak lamunan Awes pudar. Terkesiap saat tiba-tiba saja Yoga memukul kepalanya dengan kertas yang telah digulung. Meski tak terasa sakit, tapi tetap saja membuat jantungnya terasa ingin melompat.
“Anjrit si klepto, ngagetin gue aja!” umpatnya sembari memukul bahu laki-laki di sampingnya. Awes pun bangkit, lalu menutup kaca jendela rapat-rapat sebelum kembali duduk.
Yoga tergelak. “Lagian gue liat lo bengong aja! Mikirin apaan?” tanyanya, “Oh … gue tahu!” Dia menunjuk Awes dengan jari telunjuk. “Pasti otak lo lagi ngeres, ya? Ngaku, lo!” tebaknya kemudian.
Awes menjitak kepala Yoga. “Enak aja! Emangnya gue itu elo apa, yang suka ngeres.”
Keduanya sama-sama tergelak bebas. Sebebas mata kuliah yang kosong pada siang hari ini. Sekilas, Awes melihat arloji di pergelangan tangan kanannya. Sebelum kemudian, bangkit sembari mencangklong ranselnya.
“Eh, Wes, lo mau ke mana?” tanya Yoga heran.
“Mau ke gedung sastra,” jawab Awes. “Gue duluan, ya?” Awes pun berlari hendak meninggalkan kelas.
“Mau pacaran sama Happy lo, ya?” terka Yoga.
“KEPO!” Awes sedikit berteriak saat tubuhnya sudah berada di luar kelas.
Universitas Jakarta memiliki bangunan yang cukup luas dan berbentuk persegi. Di setiap sisi bangunan, terdapat empat gedung dengan jurusan yang berbeda, seperti; Jurusan Teknik Informatika, Jurusan sastra yang terbagi atas Sastra Jepang, Sastra Mandarin, dan Sastra Korea, Jurusan tekhnik mesin, dan yang terakhir Jurusan Bisnis.
Awes memilih berjalan menyusuri koridor kampus yang panjang dan mulai sepi. Memilih lajur sebelah kiri untuk bisa sampai ke gedung jurusan sastra. Pandangannya menyapu sekitar, mencari seseorang yang mungkin saja masih betah berada di kampus. Sayangnya, nihil. Mengernyit bingung, ke mana semua mahasiswa yang biasanya masih berlalu-lalang di koridor ini? Mungkinkah mereka sudah pulang dengan menerobos hujan? Entahlah. Awes bergidik, lalu memilih untuk tak peduli dengan terus melangkahkan kaki untuk bertemu sang pujaan hati.
Di tempat berbeda, Happy mematut diri di depan cermin wastafel. Menggulung rambut panjangnya ke belakang dan mencepolnya. Setelah itu, memoleskan bedak tipis, lalu mengoleskan lipbalm berwarna merah muda di bibirnya. Happy tersenyum puas menatap pantulan dirinya yang sudah tampak lebih cerah. Kemudian, melangkahkan kaki keluar toilet.
Seperti biasa, Happy selalu tersenyum ramah sembari menyapa teman-temannya yang melintas di sepanjang koridor kampus. Namun, tercengung kala teman-temannya tak membalas, melainkan menatap heran ke arahnya. Mendadak suasana hatinya berubah menjadi gelisah. Ada apa dengan semua orang? Bukankah biasanya mereka selalu membalas sapaannya?
Happy mencoba untuk tak acuh dengan duduk di kursi yang ada di depan gedung sastra, menatap hujan yang mulai kembali reda. Ada banyak mahasiswa yang berlalu-lalang di depannya.
“Eh, Happy tuh!”
“Iya.”
“Cantik, ya? Tapi, kok mau sih sama Awes?”
“Iyalah. Gue denger-denger, sih, dia cuma mau manfaatin Awes doang buat anter jemput dia.”
“Masa, sih?”
“Duh, kasian dong Awes.”
“Padahal gue liat, Awes tuh udah cinta mati banget sama Happy. Enggak kebayang gimana sakitnya kalau tahu cuma dimanfaatin aja.”
Deg! Happy merasakan dadanya terasa sesak dan kedua telinganya memanas saat mendengar beberapa mahasiswa tampak asyik menggosipkannya. Dia menggeleng kecil. Itu enggak bener! Batinnya meronta. Sebab, Happy benar-benar tulus mencintai Awes. Sifat unik, senyum manis, suara merdu, keromantisan, dan kebaikan hati laki-laki itu yang telah berhasil meluluhkan hatinya.
Namun, kini Happy tercengung kala tiba-tiba saja telinganya tertutup oleh sebuah headphone. Dia menoleh dan terpegun saat maniknya menemukan Awes yang telah duduk di sampingnya.
“Jangan dicopot!” perintah Awes saat gadisnya itu akan melepaskan headphone miliknya yang baru saja dia pakaikan ke telinga Happy.