Pengagum Rahasia

Rosiana Quraisin
Chapter #7

6 - Seperti Mobil Ambulan

“Elo mau langsung balik atau narik dulu, Ja?” 

Awes masih betah merangkul Raja, meski tinggi keduanya berbeda. Di mana Raja memiliki postur tubuh yang lebih tinggi dua sentimeter dari Awes. Langkah mereka sejalan menyusuri koridor, menuju ke tempat parkir motor.

Raja mendengkus, dia melepas paksa tautan rangkulan Awes. Jujur saja, Raja tak suka jika Awes tampak sok akrab dengan dirinya. “Gue enggak suka, ya, kalau elo sok akrab sama gue kayak gini!”

Kening Awes tertaut. “Loh, kenapa? Kita, kan, temen? Gue udah kenal sama elo dari SMA, Ja.”

Seketika langkah Raja terhenti. Menatap Awes tajam. “Gue bukan temen lo. Jangan mentang-mentang elo udah ngerekomendasiin gue ke bang Ali, elo jadi seenaknya ngaku temen gue!” 

Awes tercengung saat menatap manik Raja yang menyemburkan kobaran api kebencian terhadapnya. Tatapan yang sama saat keduanya masih SMA dulu. Di mana enam tahun silam, Raja merupakan anak dari seorang pengusaha terkaya di Indonesia. Dia terkenal dengan sifatnya yang arogan. Namun, tiba-tiba kehidupan Raja berubah drastis saat ayahnya ditangkap oleh polisi, karena tertuduh melakukan korupsi. Sejak saat itu, Raja memilih untuk menyendiri dengan pindah sekolah dan tinggal bersama ibunya di sebuah kontrakan kecil. Saat itulah, Awes membantu Raja dengan merekomendasikan laki-laki itu ke pemilik ojek online OJOLALI. Berkat kerja keras Raja, laki-laki itu juga mendapatkan apresiasi dan mendapat beasiswa untuk kuliah dari perusahaan. 

Awes bergidik. “Terserah elo mau ngomong apa tentang gue! Yang jelas, gue tetap anggap elo teman gue, Ja!” tegasnya.

Raja menyeringai. “Kenapa elo masih belom ngerti juga, sih, Wes?” Gue itu benci elo!” ketusnya penuh penekanan. “Jadi, jangan pernah berharap gue mau jadi teman elo!” Raja menunjuk Awes dengan berang.

Raja mulai kembali melangkah hendak meninggalkan Awes, ketika kakinya kembali terhenti. “Dan ... satu lagi!” peringatnya, “sampe kapan pun gue enggak bakal rela kalo elo pacaran sama Happy. Happy itu milik gue! Ngerti?” cecarnya kemudian sebelum Raja benar-benar pergi. 

Awes termangu menatap punggung Raja yang sudah semakin menjauh. Dia mendesah pelan. “Kapan elo mau berubah, sih, Ja?” gumamnya.

Awes sudah akan kembali melangkah, ketika ponsel yang disimpan pada saku celana jeans-nya bergetar. Awes mengambil benda itu lalu membaca pesan yang datang dari Yoga.

Yoga: [Wes, elo di mana? Gue udah di perpus. Jadi ngerjain tugas bareng enggak?]

Awes menepuk keningnya. “Ya, ampun, gue lupa!” tuturnya.

Awes pun bergegas putar arah. Berlari menyusuri koridor untuk sampai ke perpustakaan. 

***

Suasana perpustakaan pada siang ini tampak begitu hening. Hanya ada segelintir mahasiswa yang bisa dihitung dengan jari, masih betah berlama-lama di tempat seperti ini. Salah satunya, adalah Yoga. Laki-laki yang terkenal pintar dengan nilai IPK yang nyaris sempurna itu tampak sibuk di depan laptopnya. Sementara jari-jemarinya dengan lincah mengetikkan tugas di atas papan keyboard

Awes mendesah pelan. Membosankan, batinnya. Jika bukan karena tugas yang diberikan oleh dosennya, Awes tak akan pernah mau berada di perpustakaan seperti ini. Sebab, sudah pasti Awes akan lebih memilih untuk mencari order

Awes sudah ingin kembali menulis untuk melanjutkan pekerjaannya. Namun, keningnya mengerut bingung saat bolpoint yang diletakkan di atas meja tiba-tiba menghilang. Dia menundukkan tubuh untuk mencoba mencarinya di bawah kolong meja, tetapi nihil. Kini, maniknya melirik ke arah laki-laki di sampingnya. Yoga masih fokus menatap layar, tetapi Awes melihat keganjilan pada temannya itu. Di mana saat ini, Yoga hanya mengetik dengan menggunakan satu tangannya. 

Awes menggeleng sambil berdecak kecil. “Yoga! Balikin enggak pulpen gue?” pintanya dengan menoyor kepala Yoga.

Yoga mencoba mengelak. “Anjrit, tukang ojek! Pulpen apaan, sih? Ngapain juga gue ngambil pulpen elo. Gue, kan, tajir, gue bisa beli yang lebih bagus dan mahal dari punya elo, lah!”

“Udah, deh, elo enggak usah pura-pura bego! Itu yang di tangan kiri elo apaan?” ungkap Awes melirik ke arah tangan kiri Yoga yang diletakkan di samping tubuh laki-laki itu.

Yoga menoleh ke tangan kirinya. Lalu, tersenyum kecut. Perlahan, tangan kirinya bergerak, lalu membuka tangannya yang tak lama memperlihatkan bolpoint milik Awes. “Eh, kok bisa ada di tangan gue, sih?” elaknya menyeringai lebar.

“Anjir, ternyata klepto elo belom ilang-ilang juga, ya, Ga!” Awes segera merebut pulpennya dari genggaman tangan Yoga.

Yoga menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Hehehe … Sorry, Wes.”

Awes berdecak, “Udah cepetan selesain tugasnya. Gue mau narik abis ini,” tukasnya.

Yoga mengangguk. Keduanya pun kembali fokus dengan tugasnya masing-masing. Sesaat keheningan tercipta di antara keduanya, sebelum akhirnya Yoga membuka suara. 

Lihat selengkapnya