Pengantin Lembah Bangkai

Haris Fadilah Hryadi
Chapter #1

Nyai Sekar Sonten

KABUT TIPIS MENYELINAP di antara celah-celah dinding kayu jati Kademangangan Kembang Mayang, membawa aroma tanah basah dan melati hutan yang menusuk kalbu. Di luar, suara jangkrik dan burung malam bersahut-sahutan, menciptakan simfoni sunyi di bawah naungan langit Mataram yang dipenuhi bintang. Kerajaan ini sedang berada di puncak kejayaannya di bawah panji Panembahan Senopati yang bergelar Panembahan Senopati ing Alaga Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa. Gelar ini bermakna panglima perang yang bertugas menata agama dan menjadi pemimpin spiritual atau pemerintahan di tanah Jawa, sang penguasa yang ketegasan dan kebijakannya menggema hingga ke pelosok desa. Di dalam kamar utama yang luas, cahaya temaram dari pelita minyak kelapa menari-nari di dinding, memantulkan bayangan dua insan yang baru saja tuntas memadu kasih. Arya Teja, sang Demang yang gagah, berbaring dengan napas yang perlahan mulai teratur. Dada bidangnya naik turun, mencerminkan sisa-sisa gelora yang baru saja padam. Masyarakat lebih mengenalnya sebagai Demang Kembang Mayang. Nama itu bukan sekadar gelar, melainkan simbol kemakmuran wilayah yang ia pimpin—sebuah desa yang subur, hijau, dan selalu tampak seperti "kembang yang sedang mekar". Namun, malam ini, pikiran sang Demang tidak tertuju pada pajak desa atau urusan upeti ke Mataram. Pikirannya tertambat pada sosok perempuan yang kini bersandar di lengan kekarnya.

Nyai Sekar Sonten. Nama itu seindah rupa pemiliknya. Di bawah cahaya redup, kulitnya tampak sehalus sutra dari negeri seberang, bercahaya seolah-olah menyerap sinar rembulan. Rambutnya yang hitam legam tergerai acak di atas bantal, mengeluarkan aroma kemuning yang memabukkan. Arya Teja menoleh, menatap wajah istrinya lekat-lekat. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, sebuah keheranan yang telah bertahun-tahun ia simpan dalam peti sanubari yang paling dalam. Seharusnya, waktu telah meninggalkan jejak-jejak keriput di sudut mata Sekar Sonten. Seharusnya, usia yang sudah berkepala empat—sepantaran dengannya—telah memudarkan rona merah di pipi itu. Namun, Sekar Sonten seolah berdiri di luar lingkaran waktu. Ia masih tampak seperti gadis belia yang pertama kali Arya pinang belasan tahun lalu di bawah pohon beringin kembar.

"Mengapa kau menatapku seperti itu, Kakang?" suara Sekar Sonten memecah keheningan, lembut bagai gesekan dawai kecapi.

Arya Teja terkesiap, namun ia tak memalingkan wajah. Ia teringat akan bisik-bisik yang kian kencang di pasar desa, di bawah pohon randu tempat para tetua berkumpul, hingga ke telinga para pembantunya di dapur kademangangan.

"Nyai Demang itu bukan manusia biasa," bisik seorang pedagang kain tempo hari. "Mana ada perempuan seumur itu masih kencang kulitnya kalau tidak pakai susuk atau ritual ilmu hitam?" timpal yang lain sambil bergidik.

Awalnya, Arya menganggap itu hanyalah kecemburuan para warga terhadap kecantikan istrinya. Namun, desas-desus itu kian tajam, seolah-olah ada rahasia gelap yang terkubur di bawah fondasi rumah mereka sendiri.

Arya menghela napas panjang, jemarinya mengusap lembut pipi Sekar Sonten. "Sekar, ada sesuatu yang membebani pikiranku. Sesuatu yang membuat tidurku tak lagi nyenyak belakangan ini."

Sekar Sonten memiringkan tubuhnya, menatap suaminya dengan mata yang jernih, tanpa ada sedikit pun gurat kecemasan.

"Katakanlah, Kakang. Bukankah tidak ada tabir rahasia di antara kita selama ini?"

"Warga desa... mereka mulai berbisik," ujar Arya dengan nada rendah, nyaris seperti gumaman.

 "Mereka heran, bahkan aku pun diam-diam merasa heran. Tahun demi tahun berganti, musim kemarau dan penghujan silih berganti membasahi bumi Mataram, namun kau... kau seolah tidak menua sedikit pun. Apa rahasiamu, Istriku? Apakah benar kau menjalani ritual tertentu? Atau adakah ilmu yang kau pelajari tanpa sepengetahuanku?"

Lihat selengkapnya