Pengantin Lembah Bangkai

Haris Fadilah Hryadi
Chapter #2

Asmara Beda Kasta #2

MATAHARI MULAI CONDONG ke ufuk barat, menyiramkan warna tembaga di atas hamparan rumput luas di pinggiran Kotagede. Di sinilah, di antara aroma rumput potong dan bau apak pelana kulit, takdir dua insan yang berbeda kasta itu bertaut. Bagus Kamandaka mengusap peluh di dahinya dengan kain lusuh yang melingkar di lehernya. Otot-otot lengannya yang legam terbakar matahari tampak menonjol saat ia menuntun seekor kuda jantan gagah berbulu hitam mengkilap. Kamandaka bukanlah seorang ksatria dengan keris bertatahkan emas, bukan pula putra bangsawan yang pandai bersajak. Ia hanyalah seorang Pekatik—seorang perawat kuda, kasta terendah dalam hierarki pengabdian di kadipaten. Namun, di balik pakaiannya yang bersahaja, Kamandaka memiliki sorot mata setajam elang dan ketangkasan yang melampaui kedudukannya. Ia tahu setiap jengkal urat nadi kuda-kuda milik Mataram, namun ia tak pernah tahu bagaimana cara menjinakkan debar jantungnya sendiri setiap kali melihat kereta kencana itu lewat. Di balik rimbunnya pohon beringin tua yang akarnya menjuntai bagai tirai alam, seorang gadis berdiri dengan anggun. Woro Kinasih. Namanya berarti "gadis yang dicintai", dan kecantikannya memang sepadan dengan makna itu. Ia adalah putri tunggal dari Tumenggung Widura, salah satu panglima perang kepercayaan Panembahan Senopati yang dikenal bertangan besi dan tak kenal ampun. Woro Kinasih mengenakan kemben sutra berwarna hijau pupus dengan kain jarik bermotif parang yang melilit pinggang rampingnya. Kulitnya kuning langsat, kontras dengan bayang-bayang pohon tempat ia bersembunyi.

"Kau datang, Kamandaka?" bisik Woro Kinasih.

Suaranya kecil, nyaris tenggelam oleh desau angin, namun bagi Kamandaka, itu adalah titah yang lebih agung dari titah raja mana pun.

Kamandaka membungkuk dalam, memberikan hormat yang seharusnya, namun matanya mencuri pandang ke wajah sang putri. "Aku takkan berani ingkar janji, Kinasih. Meski nyawa ku adalah taruhannya jika pengawal Gusti Tumenggung melihat kita di sini."

Woro Kinasih melangkah mendekat, mengabaikan aturan pingitan yang mengekangnya. Ia menyentuh lengan kasar Kamandaka dengan jemarinya yang halus. Perbedaan tekstur kulit mereka adalah gambaran nyata dari jurang yang memisahkan mereka: sutra dan rami, emas dan tanah.

"Ayahku sedang merencanakan perjodohan dengan putra Tumenggung dari Bangwetan," ucap Woro Kinasih dengan nada getir.

 "Ia ingin memperkuat kedudukannya. Baginya, aku hanyalah bidak catur di atas papan kekuasaan Mataram."

Di sudut lain istana, Tumenggung Widura sedang duduk di kursi jati berukir naga. Wajahnya yang dihiasi bekas luka parang tampak kaku dan dingin. Di tangannya, ia memegang sebuah cambuk kuda yang sesekali ia lecutkan ke lantai, menciptakan suara "cedas!" yang memilukan.

Ia telah mendengar desas-desus dari mata-matanya. Tentang putrinya yang sering terlihat menyelinap ke kandang kuda, tentang tatapan mata yang tak lazim antara Kinasih dan si Pekatik rendah itu.

"Seorang Pekatik?" geram Widura, suaranya berat bagai guntur yang tertahan di balik awan.

"Seorang pembersih kotoran kuda berani menyentuh rembulan di langit? Darah Widura tidak akan pernah bercampur dengan lumpur jalanan!"

Bagi Widura, kehormatan adalah segalanya. Di era Mataram yang penuh persaingan harga diri ini, seorang putri Tumenggung yang berhubungan dengan pelayan kuda adalah aib yang hanya bisa dicuci dengan darah atau pengasingan.

Kembali ke bawah beringin tua, Kamandaka menggenggam tangan Kinasih dengan erat. Ia tahu posisi dirinya. Ia tahu bahwa mencintai Kinasih adalah bentuk bunuh diri yang paling indah.

Lihat selengkapnya