Pengantin Lembah Bangkai

Haris Fadilah Hryadi
Chapter #3

Begundal Pasar

Perkelahian itu berakhir. Pasar kembali riuh, namun kali ini bukan oleh tawar-menawar, melainkan oleh sorak-sorai dan pujian dari warga pasar untuk Bagus Kamandaka, sang Pekatik yang telah menjadi pahlawan di tengah Badai Pasar Kotagede. Suasana di tepi pasar yang baru saja reda dari perkelahian mendadak berubah menjadi mencekam. Dari arah gerbang utama Kotagede, terdengar derap langkah kaki kuda yang serempak. Kerumunan pedagang dan pembeli yang tadi bersorak untuk Kamandaka, seketika bungkam dan membelah jalan, memberikan ruang bagi rombongan prajurit Mataram yang datang dengan formasi tempur.

Di barisan terdepan, menunggangi kuda putih yang tinggi besar, muncul sosok yang kehadirannya selalu membawa hawa dingin: Tumenggung Widura. Wajahnya yang kaku tampak lebih keras dari biasanya. Rupanya, kabar tentang kekacauan di pasar telah sampai ke telinganya melalui seorang pedagang di pasar.

"Hentikan semua ini!" suara Widura menggelegar, beradu dengan suara kepakan sayap burung-burung dara yang terbang terkejut dari atap pasar.

Begitu melihat putrinya berdiri di pojok lorong dengan wajah pucat dan pakaian yang sedikit berdebu, Widura langsung melompat dari kudanya. Ia mengabaikan dua perusuh yang terkapar di tanah.

"Kinasih! Kau tidak apa-apa?" tanyanya sambil memegang bahu putrinya, matanya meneliti setiap jengkal  tubuh Kinasih, memastikan tidak ada luka sedikit pun.

"Saya baik-baik saja, Romo," jawab Kinasih dengan suara gemetar, namun matanya langsung beralih kepada Bagus Kamandaka yang berdiri beberapa langkah di belakangnya, masih mengatur napas yang memburu.

"Beruntung ada pemuda itu. Jika dia tidak datang tepat waktu, Kidang Panjer dan Kebo Dungkul pasti sudah mencelakai hamba dan Mbok Rondo."

Kinasih menoleh ke arah Kamandaka dengan tatapan penuh rasa syukur dan kekaguman yang tak bisa disembunyikan. Ia berharap ayahnya akan memberikan setidaknya satu patah kata penghargaan bagi sang penyelamat. Namun, Tumenggung Widura hanyalah diam. Ia menoleh perlahan ke arah Kamandaka. Sorot matanya sangat dingin, datar, dan tajam. Ia melihat luka lecet di tangan Kamandaka dan peluh yang membasahi dahi pemuda itu, namun baginya, Kamandaka tetaplah hanya seorang pekatik—seorang pelayan yang kebetulan berada di tempat yang benar. Baginya, martabat seorang putri Tumenggung tidak seharusnya diselamatkan oleh tangan kasar seorang pengurus kuda.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, bahkan tanpa anggukan kepala sebagai tanda terima kasih, Widura memalingkan wajahnya kembali kepada Kinasih.

"Cukup berbelanjanya. Kita pulang sekarang. Pasar ini bukan tempat yang aman untukmu tanpa pengawalan prajurit Mataram," ucap Widura pendek.

Widura kemudian memberi isyarat kepada para prajuritnya dengan lambaian tangan yang meremehkan ke arah dua penjahat yang masih mengerang di tanah.

"Seret dua anjing ini ke penjara bawah tanah Mataram," perintah Widura kepada kepala regu prajurit.

"Pastikan mereka mendapatkan hukuman yang membuat mereka lupa caranya berdiri, apalagi mengganggu ketentraman di wilayahku."

Kidang Panjer dan Kebo Dungkul yang tadinya garang kini tampak lumer nyalinya. Mereka diseret dengan kasar oleh para prajurit, tangan mereka diikat dengan rantai besi yang bergemerincing di atas batu jalanan. Tidak ada lagi keberanian di wajah mereka; mereka tahu bahwa masuk ke penjara bawah tanah Tumenggung Widura berarti memasuki pintu neraka di dunia.

Saat rombongan Tumenggung Widura mulai bergerak meninggalkan pasar, Woro Kinasih dipaksa naik ke atas tandu yang telah disiapkan. Sebelum tirai tandu ditutup, Kinasih sempat melirik kembali ke arah Kamandaka. Pemuda itu masih berdiri di tempat yang sama, diam membisu, menundukkan kepalanya dalam-dalam sebagai bentuk hormat kepada sang tumenggung yang baru saja mengabaikan keberadaannya.

Mbok Rondo menyentuh lengan Kamandaka sekilas, sebuah tanda terima kasih tulus dari seorang rakyat jelata kepada sesamanya, sebelum ia berlari kecil mengikuti tandu sang majikan.

Kamandaka tetap mematung hingga debu dari derap kuda pasukan Widura menghilang dari pandangan. Ia merasakan perih di tangannya, namun rasa perih itu tak sebanding dengan kekosongan yang ia rasakan di hatinya. Ia menyadari sepenuhnya bahwa di mata tumenggung Widura, ia hanyalah debu yang tertiup angin—tak terlihat, tak dianggap, meskipun ia baru saja mempertaruhkan nyawa untuk menjaga Woro Kinasih.

Di sekelilingnya, pasar kembali riuh. Para pedagang kembali berteriak, namun nama Kamandaka mulai dibisikkan dari mulut ke mulut. Tumenggung Widura menunggang kuda dengan punggung yang tegak lurus, melambangkan keangkuhan kasta yang tak tergoyahkan. Di belakangnya, tandu Kinasih bergoyang perlahan, menyembunyikan wajah sang putri yang didera kesedihan. Sementara itu, Kamandaka berdiri sendirian di tengah keramaian pasar, mengusap peluh di dahi dengan punggung tangan, menatap bayang-bayang prajurit Mataram yang kian menjauh.

Pagi itu di kediaman Tumenggung Widura terasa lebih menyesakkan bagi Woro Kinasih. Dinding-dinding kediaman yang megah seolah-olah merapat, menghimpit napasnya. Bayangan wajah Bagus Kamandaka yang berdiri mematung di tengah pasar, diabaikan oleh ayahnya, terus menghantui setiap kedipan matanya. Ada sebuah beban di dadanya yang hanya bisa terangkat jika ia mengucapkan satu kata yang seharusnya diucapkan ayahnya kemarin: Terima kasih.

Lihat selengkapnya