Pengantin Pengganti Sang Raja Tak Terduga

Titah Kesumawardani
Chapter #1

Bab 1 - Pengantin Pengganti dan Mahar yang Tak Terduga

"Jadi, biar aku perjelas jalan pikiran kalian yang benar-benar di luar nalar ini."

Suara Titah menggelegar membelah keheningan ruang tamu yang berantakan. Ia menatap kedua orang tuanya dengan tatapan tajam bak elang yang siap menerkam mangsa. Tangan kanannya masih mencengkeram draf skripsi yang penuh coretan merah dari dosen pembimbingnya.

"Kakakku yang terhormat, si Ratu Kecantikan dan Suka Bermain Drama, Tania Azzahra, menabrak mobil orang. Lalu keluarga korban—yang katanya sangat kolot—meminta Tania menikahi anak mereka sebagai ganti rugi. Alasannya? Karena anak mereka itu jelek, bodoh, tidak bisa apa-apa, dan pengangguran abadi! Kakakku tentu saja kabur karena tidak sudi. Dan sekarang, kalian menyuruhku yang masih pusing tujuh keliling memikirkan revisi ini untuk menggantikannya jadi tumbal?!"

Ibu Titah, Nyonya Larasati Dewi, mengusap wajahnya yang pucat pasi dengan tisu mahal yang sudah lecek.

"Kecilkan suaramu, Titah! Ini bukan soal tumbal-tumbalan. Ini soal menyelamatkan nyawa dan martabat keluarga kita! Keluarga yang ditabrak kakakmu itu bukan orang sembarangan. Kalau kita tidak memenuhi janji untuk menyerahkan anak perempuan kita, Ayah dan Ibumu ini akan dijebloskan ke penjara karena tuduhan penggelapan dan perusakan aset bernilai miliaran!"

"Lalu kenapa tidak dari kemarin-kemarin kalian ikat saja Kak Tania di tiang jemuran?! Kenapa baru sekarang panik saat orangnya sudah hilang ditelan bumi?!"

Titah berkacak pinggang. Gadis berjaket denim pudar dengan rambut diikat asal-asalan itu benar-benar tak habis pikir. Baru saja ia pulang dari kampus dengan sisa-sisa kewarasan, kini disuguhi drama luar biasa di rumahnya sendiri.

Tuan Sujatno, ayah Titah, memijat pelipisnya yang berdenyut keras hingga uratnya menonjol. "Tania mematikan semua akses komunikasinya, Tah. Nomornya tidak aktif, akunnya semuanya lenyap. Kami tak bisa menghubunginya sama sekali. Ah, sudahlah! Waktunya sudah sangat mepet. Pihak keluarga pria sudah menunggu di masjid untuk akad. Kamu harus bersiap sekarang juga!"

"Aku?! Menikah dadakan? Hari ini juga? Pak, Bu, aku ini belum lulus kuliah! Boro-boro memikirkan rumah tangga, memikirkan bab tiga saja aku sudah mau muntah! Lagipula, masa aku dinikahkan dengan pria pengangguran, bodoh, dan jelek? Mau dikasih makan apa aku nanti? Batu kerikil campur semen?! Coba pikirkan pakai logika!"

Titah menolak mentah-mentah. Sifat keras kepalanya mulai keluar. Ia bahkan menendang pelan kaki meja kaca di dekatnya saking frustrasinya.

"Tolonglah, Titah..." Nyonya Larasati Dewi tiba-tiba melorot dari sofa dan bersimpuh di atas karpet, membuat mata Titah membelalak kaget.

"Hanya ini satu-satunya cara. Ibu mohon... Ibu janji, setelah ini Ibu tidak akan membeda-bedakanmu dengan Tania lagi. Kartu kreditmu akan Ibu tambah limitnya. Tapi tolong, selamatkan kami. Mereka bilang anak mereka tidak bisa apa-apa, mungkin kamu nanti bisa mengajarinya berbisnis kecil-kecilan. Buka warung seblak atau apa saja. Kamu kan anak yang tangguh, pemberani, dan tahan banting."

Titah menghela napas kasar, mengacak-acak rambutnya frustrasi. Ia memang selalu merasa menjadi anak kedua yang tak kasatmata di rumah ini. Tania selalu menjadi prioritas—si cantik yang anggun dan penurut, setidaknya kelihatannya begitu. Namun melihat ibunya menangis tersedu-sedu hingga berlutut memohon padanya, pertahanan keras kepalanya runtuh juga. Jauh di lubuk hatinya, ia tetap menyayangi keluarganya yang aneh ini.

"Bangun, Bu. Jangan pakai drama berlutut segala, lantainya belum dipel dari kemarin," ucap Titah sambil menarik lengan ibunya dengan tenaga ekstra agar wanita itu berdiri.

"Baiklah! Aku akan menikah dengan pria pengangguran jelek itu! Tapi ingat, kalau sampai hidupku melarat dan aku disuruh kerja banting tulang buat memberi makan suami yang tak berguna, aku akan pulang ke sini dan mempreteli semua perabotan rumah ini untuk kujual di pasar loak!"


**


Dua jam kemudian, dunia Titah terasa seolah diputar balik dengan kecepatan cahaya. Entah bagaimana caranya, ibunya bisa memanggil tim penata rias profesional dalam waktu sesingkat itu. Wajah yang biasanya hanya kenal bedak bayi dan pelembap bibir, kini disulap dengan riasan sempurna yang membuatnya tampak luar biasa cantik dan memukau. Kebaya putih anggun bertahtakan payet—kemungkinan besar milik Tania yang terpaksa dirombak dadakan—membalut tubuhnya dengan pas.

Mobil Alphard hitam yang membawa mereka berhenti di pelataran masjid megah, perpaduan arsitektur Timur Tengah dan gaya modern. Titah mengerutkan kening, menempelkan wajahnya ke kaca jendela.

"Tunggu dulu," gumamnya curiga, matanya memindai deretan mobil mewah yang terparkir rapi.

"Keluarga si pengangguran ini yang menyewa masjid semegah ini? Kalian yakin mereka tidak baru saja merampok bank atau berutang pada rentenir untuk biaya nikah? Ini terlalu mewah untuk ukuran keluarga yang anaknya tak berguna!"

"Sudah, diam saja. Jaga lisanmu, Titah. Jangan mempermalukan Bapak," bisik ayahnya gugup, keringat dingin sebesar biji jagung menetes di dahi. Tuan Sujatno menuntunnya keluar, tangannya mencengkeram lengan putrinya sedikit terlalu erat, seolah takut gadis pemberani ini akan kabur seperti kakaknya.

Lihat selengkapnya