Pengantin Pengganti yang Dia Sebut Budak

Titah Kesumawardani
Chapter #1

Pengantin Pengganti dan Janji Neraka

Dor! Dor!

Dua suara tembakan memecah keheningan malam di aula besar kediaman keluarga Mahendra. Dua peluru menghantam guci porselen raksasa yang bertengger megah di sudut ruangan, menghancurkannya menjadi ribuan serpihan tajam yang berserakan di lantai marmer putih. Suara dentuman itu menggema, menyayat gendang telinga siapa pun yang mendengarnya.

Di tengah ruangan yang kini penuh dengan debu dan pecahan keramik, beberapa anak buah Kaizen Arka Mahendra berdiri dengan napas tertahan. Tak satu pun yang berani bergerak, apalagi bersuara. Kaizen, bos mereka yang ditakuti seantero kota, sedang berada di puncak kemarahan. Sekecil apa pun kesalahan, nyawa mereka bisa menjadi taruhannya — sama seperti guci mewah itu.

"Arrrrggghhh!"

Teriakan Kaizen menggelegar, memecah kesunyian yang mencekam. Wajahnya memerah padat, matanya menyala seolah api neraka sedang membakar di sana. Tangannya yang kokoh menggenggam pistol dengan erat, sementara pikirannya masih bergulat dengan rasa penghinaan yang baru saja diterimanya.

Raisa Ambar Ningrum — wanita yang seharusnya menjadi istrinya esok pagi — telah melarikan diri.

Itu kabar yang baru saja disampaikan oleh Satya, tangan kanannya, dan membuat seluruh rencana yang telah disusun rapi hancur dalam sekejap.

Kaizen berjalan dengan langkah berat, berisik di atas lantai marmer, menuju arah Satya yang berdiri kaku di sudut ruangan. Satya berusaha menyembunyikan kegugupannya, namun Kaizen tetap bisa melihat dengan jelas bahwa tangan pria itu sedikit gemetar.

"Apa yang Dedi katakan padamu?" tanya Kaizen. Suaranya terdengar datar, namun dingin seperti es pegunungan yang tak pernah mencair.

Satya menelan ludah yang terasa pahit. "Pak Dedi... mengatakan bahwa pernikahan ini harus dibatalkan. Dia meminta maaf karena sudah membuat Anda kecewa. Dia juga sudah mengirim orang untuk mencari Raisa, tapi sampai saat ini... wanita itu belum ditemukan."

Kaizen menyipitkan matanya tajam. Alisnya terangkat sedikit, lalu senyum sinis dan menyakitkan muncul di sudut bibirnya.

"Dibatalkan?" ulangnya pelan namun penuh ancaman. "Dia pikir ini hanya lelucon? Tidak. Pernikahan ini harus tetap berlanjut. Kita sudah menyebar undangan ke ratusan rekan bisnis dan tokoh penting. Tidak ada jalan untuk mundur sekarang."

"Tapi, Tuan..." Satya mencoba membela, suaranya bergetar. "Tanpa pengantin wanita, bagaimana pernikahan bisa dilaksanakan?"

Kaizen melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya beberapa inci. Matanya menatap lurus ke dalam mata bawahannya, penuh tekanan.

"Jika Raisa kabur..." bisiknya, "maka adiknya yang akan menggantikannya."

Senyum sinis itu makin lebar, namun tak ada kebahagiaan di dalamnya — hanya niat balas dendam yang dingin.

"Dia sangat menyayangi adiknya, Raisa. Aku tahu pasti. Ini cara terbaik... cara paling menyakitkan, untuk membuat Raisa menyesali semua keputusannya seumur hidup."

Satya terbelalak lebar, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Tuan... Anda serius? Raisa Ambar... dia masih sangat muda. Gadis polos yang bahkan belum pernah tahu apa itu dunia gelap yang kita tinggali. Apa kata orang nanti? Apa yang akan terjadi padanya?"

Kaizen menatap Satya dengan tatapan tajam, membuat pria itu langsung membeku dan tak berani membuka mulut lagi.

"Aku tidak peduli apa kata orang," ucapnya dingin. "Aku hanya peduli agar Rani (Raisa) membayar harga atas kepergiannya. Sekarang, siapkan mobil. Kita akan menemui Dedi sekarang juga."

Satya tahu tidak ada gunanya berdebat lebih jauh. Ia hanya bisa mengangguk patuh, lalu segera meninggalkan ruangan untuk menyiapkan apa yang diminta tuannya.

Kaizen berdiri sendirian di tengah ruangan yang masih berdebu. Ia menghela napas panjang, berusaha menekan api kemarahannya. Namun di dalam hatinya, ia sudah membuat satu janji yang tegas:

Lihat selengkapnya