Pengantin Pengganti yang Dia Sebut Budak

Titah Kesumawardani
Chapter #2

Tembakan Malam dan Keraguan di Hati Raja Gelap

"Kamu hanya perlu bersembunyi, Rani. Tenang saja. Setelah semuanya aman... Mama akan mengutus orang untuk menjemputmu dan membawamu kembali," ujar Mariam, berusaha terdengar meyakinkan meski nadanya tetap dingin dan tak bergetar sedikit pun.

"Tapi Ma, bagaimana dengan Raisa? Aku tak mau dia menderita hanya karena menggantikan aku. Raisa itu gadis baik, Ma... Aku tidak rela dia disakiti oleh pria sekejam Kaizen," Rani memohon, suaranya pecah karena tangis yang tak bisa ditahan.

Mariam menekan suaranya serendah mungkin, matanya terus mengawasi sekeliling untuk memastikan tak ada yang mendengar. Wajahnya tegang, ketakutan menyelinap di dalam dada — namun bukan karena rasa sayang pada Raisa, melainkan karena tak rencananya terbongkar.

"Raisa bukan adik kandungmu, jadi kamu tak perlu khawatir berlebihan. Yang paling penting sekarang: kamu harus pergi sejauh mungkin, nikmati liburanmu, dan bersenang-senanglah. Lupakan semua yang terjadi di sini."

"Apa maksud Mama?!" Rani terkejut, namun sebelum ia sempat menuntut penjelasan lebih lanjut, sambungan telepon sudah diputus sepihak oleh Mariam.

Mariam menekan layar ponselnya dengan kasar, lalu menghela napas panjang. Ia menyunggingkan senyum tipis yang tampak tenang, lalu berbalik dan berjalan kembali ke aula pesta yang masih penuh keramaian.

"Dari mana saja kamu?" tanya Dedi, suaranya dingin sambil menatap istrinya dengan curiga.

"Aku? Tentu saja dari toilet, Sayang. Hanya membersihkan diri sebentar," jawab Mariam dengan senyum yang dipaksakan sempurna. Ia segera menunjuk ke arah pelaminan, berusaha mengalihkan perhatian suaminya.

"Lihatlah putri kita. Dia terlihat sangat bahagia malam ini, kan?"

Dedi menatap Raisa dari kejauhan. Gadis itu memang tersenyum manis, namun senyum itu terasa begitu palsu dan berat. Sebagai seorang ayah, ia bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang menyiksa hati putrinya saat itu.

"Semoga saja pria itu tidak memperlakukannya dengan buruk," gumam Dedi pelan, lebih kepada dirinya sendiri.

"Kamu ini bicara apa, Sayang? Tentu saja dia akan diperlakukan seperti seorang ratu," jawab Mariam santai sambil mengaitkan lengannya pada lengan suaminya. "Kaizen itu pria terkaya dan paling berkuasa di kota ini. Dia punya mansion besar, harta melimpah, dan tak ada yang berani menentangnya. Kamu harusnya bangga malam ini."

Namun di dalam hati Mariam, tersimpan senyum kemenangan yang tak terucap.

Akhirnya, gadis polos dan tidak berguna itu sudah keluar dari rumah. Sekarang... aku bisa bebas menguasai segalanya.


Setelah pesta pernikahan mewah usai dan para tamu mulai pulang, sisi gelap Kaizen akhirnya terlihat jelas.

"Ayo jalan!" bentaknya keras, lalu ia mencengkeram tangan Raisa dengan kasar, menyeret gadis itu keluar dari aula hotel mewah itu. Sepatu hak tinggi yang baru saja dipakai Raisa membuatnya hampir tersandung berkali-kali.

"Tuan... aku... aku tidak terbiasa memakai sepatu seperti ini..." ujar Raisa pelan, menahan air mata yang hendak jatuh.

Kaizen mendengus kasar, lalu menatapnya dengan pandangan penuh penghinaan. "Lepaskan sepatu itu sekarang juga."

Tanpa ragu, Raisa membuka sepatu hak tingginya dan meletakkannya di pinggir jalan. Ia memilih berjalan tanpa alas kaki, meski lantai jalanan itu dingin dan kasar.

Namun itu tidak membuat Kaizen sedikit pun berhenti. Ia justru menarik tangan Raisa lebih erat lagi, membuat gadis itu terhuyung-huyung dan menahan rasa sakit di pergelangan tangannya yang hampir terkilir.

"Kita pulang ke rumahku," ucapnya dingin, suaranya seolah membekukan udara di sekitar mereka.

"Dan ingat baik-baik: Kaulah yang akan membayar semua dosa dan penghinaan yang kakakmu berikan padaku."

Raisa tidak menjawab. Ia hanya menggigit bibirnya hingga merah, menahan tangis yang terus mendesak keluar, berjalan di belakang pria yang menjadi suaminya sekarang itu.

Sesampainya di mansion megah milik Kaizen, suasana di sana jauh lebih mencekam. Pintu mobil dibuka oleh Satya yang berdiri dengan rapi, lalu membungkuk hormat.

"Selamat datang kembali, Tuan."

Kaizen turun dengan sikap angkuh, lalu berbalik dan kembali menarik tangan Raisa keluar dari mobil. Genggamannya begitu kuat hingga membuat kulit gadis itu memerah dan terasa perih.

Lihat selengkapnya