"Tuan! Mansion kita diserang!"
Suara panik itu melengking memecah keheningan lorong. Salah satu anak buahnya berlari mendekat dengan wajah pucat pasi, sementara dari luar, rentetan suara ledakan dan tembakan bergema terus-menerus.
Malam yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan dan kemuliaan bagi Kaizen, kini berubah menjadi medan perang yang berdarah.
Geram memenuhi seluruh dadanya. Kaizen mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih, dan rahangnya mengeras sekuat baja.
"Habisi mereka semua! Jangan biarkan satu pun dari mereka lolos!" perintahnya dengan suara dingin yang menusuk, tanpa sedikit pun keraguan.
Ia segera melangkah cepat menuju kamarnya untuk mengambil pistol kesayangannya, yang selalu siap di tangan kapan pun bahaya datang. Namun langkahnya terhenti mendadak saat matanya menangkap sosok di dalam ruangan.
Raisa.
Wanita itu masih terduduk meringkuk di pojok kamar yang gelap. Kedua tangannya menutupi telinga erat-erat, tubuhnya menggigil hebat seolah diguncang badai. Matanya terpejam rapat, wajahnya basah oleh keringat dingin dan ketakutan yang mendalam.
Kaizen berjalan mendekat perlahan, tanpa suara. Melihat keadaan gadis itu, rahangnya sedikit mengendur.
Apakah dia pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya? Apakah suara tembakan ini adalah hal asing baginya? pikirnya dalam hati, namun ia segera menyembunyikan rasa penasaran itu di balik wajah yang tetap dingin.
"Raisa," panggilnya pelan, lalu mengangkat tangan untuk menepuk bahu gadis itu.
"Jangan tembak aku! Tolong, jangan!"
Raisa teriak ketakutan, langsung melindungi kepalanya dengan kedua lengan.
Kaizen mendengus gusar, menahan rasa tidak nyaman yang tiba-tiba muncul di dada.
"Ini aku! Suamimu!" bentaknya sedikit lebih keras, cukup untuk membuat Raisa membuka matanya perlahan.
Tatapan gadis itu masih penuh ketakutan, bergetar setiap kali mendengar suara ledakan dari luar.
"Itu... itu suara penjahat, kan? Aku takut... Aku takut aku akan mati dengan cara yang mengerikan..." bisiknya parau.
Kaizen menghela napas panjang, lalu dengan sikap yang jarang ia tunjukkan pada orang lain, ia bersimpuh di hadapan Raisa.
"Dengar baik-baik. Kamu adalah istri dari pria paling ditakuti di kota ini. Suara tembakan dan kekerasan adalah hal biasa bagi orang-orang seperti kita. Dan selama aku masih bernapas, tidak ada satu pun dari mereka yang berani menyentuhmu."
Namun, tepat saat Kaizen mencoba berdiri kembali untuk pergi, tangan kecil Raisa tiba-tiba mencengkram kaki celananya dengan sangat erat.
Pelukan itu begitu kuat dan tulus, membuat Kaizen terpaku di tempatnya. Rasa dingin dari tubuh gadis itu yang terus menggigil, membuatnya semakin yakin bahwa Raisa benar-benar asing dengan dunia gelap yang ia jalani seumur hidup.
"Jangan tinggalkan aku... Tolong jangan tinggalkan aku sendirian..." pinta Raisa dengan suara bergetar, air matanya jatuh deras membasahi kain celana Kaizen.
Kaizen mendongak ke atas, memejamkan matanya sejenak untuk menekan perasaan aneh yang tiba-tiba menghantam hatinya.
"Aku harus pergi. Mansion ini sedang diserang, dan anak buahku sedang mempertaruhkan nyawa mereka demi menjaga tempat ini. Aku tidak bisa bersembunyi di balik dinding sementara orang-orangku berjuang di luar."
Dengan kasar, ia melepaskan genggaman tangan Raisa. Gadis itu terjatuh kembali ke lantai, membiarkan isakan tangisnya tertahan di tenggorokan.
Kaizen meraih pistol dari rak tembok, lalu menoleh sekali lagi ke arah Raisa sebelum berbalik meninggalkan kamar.
"Mama... Raisa takut..." gumam Raisa lirih, suaranya hampir tak terdengar di tengah gemuruh pertempuran.