Pengantin Pengganti yang Dia Sebut Budak

Titah Kesumawardani
Chapter #4

Malam yang Menyakitkan dan Janji untuk Mengubah Hati Raja Gelap

Dua mobil berbalut pelindung anti-peluru berhenti perlahan di halaman luas markas Klan Valiant. Lampu sorot mereka menyinari kabut malam yang pekat, menerangi bangunan besar yang berdiri seperti raksasa gelap di bawah sinar bulan purnama.

Kaizen berdiri tegak di depan iring-iringan kendaraan itu. Tubuhnya kokoh, wajahnya tertutup tatapan penuh tekad dan kejam yang tak tergoyahkan. Suaranya tegas, menggema membelah keheningan malam itu seperti perintah mutlak dari seorang raja yang memegang hidup dan mati.

"Semua bersiap. Kita bergerak sekarang."

Di barisan paling belakang, sebuah mobil box tertutup berisi mayat-mayat anggota Klan Valiant yang tewas dalam serangan sebelumnya. Darah yang sudah membeku di tubuh mereka masih mengeluarkan aroma anyir yang tajam — sebuah pesan mematikan yang dikirimkan langsung ke pintu gerbang musuh, sebagai peringatan bahwa tidak ada yang bisa lolos dari tangan Kaizen.

Di dalam salah satu mobil, Satya duduk di kursi penumpang, matanya melirik ke arah tuannya dengan rasa ragu yang jelas terlihat.

"Tuan... apakah kita benar-benar akan menyerang markas mereka malam ini juga? Terlalu berisiko," tanyanya dengan nada setengah takut.

Kaizen menoleh perlahan. Tatapan matanya yang dingin dan tajam menembus tepat ke dalam jiwa Satya, membuat napas bawahannya terhenti sejenak.

"Apa aku tampak sedang bermain-main di sini?" jawabnya pelan, namun setiap kata terdengar seperti ancaman yang siap meledak.

Satya menelan ludah yang terasa pahit, tak berani membantah lagi. Hanya bisa mengangguk patuh di bawah tekanan udara yang semakin berat di dalam mobil itu.

"Zoran sudah melampaui batas," lanjut Kaizen, rahangnya mengeras sekuat baja. "Dia berani menyerang mansionku, tempat di mana aku membangun segala sesuatu dengan susah payah. Itu bukan sekadar serangan — itu adalah penghinaan terbesar yang pernah dia berikan padaku."

Ia berhenti sejenak, matanya menyala merah karena amarah.

"Malam ini... aku pastikan dia menyesal telah lahir ke dunia ini."

Sesampainya di depan bangunan markas musuh, suasana semakin mencekam. Bangunan itu besar, kokoh, namun anehnya... tak ada suara, tak ada gerakan, tak ada siapa pun yang terlihat di jendela atau pintu. Seolah-olah tempat itu sudah lama ditinggalkan, mati dan sepi.

Kaizen turun dari mobil, sepatu kulit hitamnya memecah keheningan dengan suara langkah berat dan tegas. Ia menatap bangunan itu lama, lalu tersenyum sinis.

"Sudah kuduga. Pengecut sepertinya tidak akan punya nyali untuk berhadapan langsung denganku."

"Apakah mereka benar-benar melarikan diri, Tuan?" tanya Satya yang turun bersamanya.

"Kenapa kau tidak masuk dan memastikan sendiri?" potong Kaizen singkat, tidak mau menjelaskan lebih jauh.

Satya mengangguk pelan, lalu mengirim beberapa anak buahnya untuk memeriksa keadaan di dalam. Beberapa menit kemudian, mereka kembali dengan wajah tegang dan kaku.

"Tuan... bangunan ini benar-benar kosong. Tidak ada satu pun orang di sini," lapor salah satu anak buahnya, lalu menyerahkan secarik kertas kecil yang ditemukan di atas meja utama ruang tengah.

Kaizen meraih kertas itu dan membacanya dalam diam. Tulisan tangan yang kasar namun berisi ancaman tajam itu terbaca jelas:

"Kita pasti akan bertemu suatu saat nanti. Dan saat itu tiba, aku akan pastikan kau hancur di tanganku, Kaizen Arka Mahendra."

Kaizen terkekeh pelan, namun suara itu lebih terdengar seperti ledakan amarah daripada tawa. Ia meremas kertas itu erat-erat di tangannya hingga kertas itu hampir robek, lalu merobeknya menjadi serpihan kecil.

"Pengecut!" teriaknya keras, suaranya mengguncang seluruh area markas yang sepi itu.

Ia berbalik menatap Satya dan anak buahnya.

"Turunkan semua mayat-mayat itu. Bawa masuk ke dalam bangunan itu. Biarkan mereka beristirahat bersama tempat yang telah mereka hancurkan."

"Siap, Tuan!" sahut Satya dengan tegas.

Segera, mereka memindahkan semua mayat dari mobil box ke dalam ruangan besar itu. Setelah selesai, Kaizen berdiri di kejauhan, menatap bangunan yang akan segera lenyap dari peta kota.

"Selesaikan semuanya," perintahnya singkat.

Beberapa detik kemudian, ledakan besar mengguncang tanah. Api menjilat-jilat tinggi ke langit malam, menciptakan kobaran api merah yang menghanguskan seluruh bangunan markas Klan Valiant hingga menjadi abu dan puing-puing.

Lihat selengkapnya