Pengantin Sang Badai

Arslan Cealach
Chapter #2

Nala

Jaman sekarang di kota besar seperti Jakarta tidak banyak orang suka pergi ke taman kota terlebih di hari kerja. Tapi, sepasang kaki yang dilindungi sepatu pantofel bermerek itu melangkah santai seolah tanpa beban menyusuri jalan setapak taman di tepi danau. Menuju bagian pinggiran yang ditumbuhi lebih banyak pohon dan agak tersembunyi.

"Ahh, Nala, akhirnya waktunya tiba juga," ucapnya bahagia. Sedikit berdendang tanpa lirik. 

Setelah sampai di titik yang ia rasa terbaik. Ia lepas ranselnya dan membalik benda itu sampai menumpahkan semua barang-barang di dalamnya. Terdiri dari banyak buku-buku tebal referensi, peralatan tulis, buku catatan, tab, laptop, dan yang paling penting...

Tali tambang sepanjang lebih lima belas meter berukuran sedang yang terlipat sampai membuat beberapa lingkaran.

Nala tersenyum puas melihat benda itu. Ia sudah yakin api yang sempat terbakar di matanya kini telah sepenuhnya padam. Turut memadamkan cahaya untuk masa depan dan semua harapan. 

Jantungnya berdebar cukup keras. Sudah lama ia tidak merasa perasaannya terpacu sampai seperti ini. Sibuk membayangkan kegelapan apa saja yang akan menantinya setelah ini.

"Tenang saja, Nala. Neraka di sini sama di atas sana paling yang beda cuma suhunya aja. Gak usah lebay," pikirnya berusaha menyemangati diri sendiri sambil sibuk memasang simpul tali di atas salah satu dahan pohon yang ia rasa paling ideal. Cukup kokoh, tapi tidak terlalu tinggi. 

"Gue gak mau sampai nyusahin orang yang bakal evakuasi jasad gue. Semoga paling gak niat ini dapat pahala," pikirnya penuh optimisme.

Sebelum naik ke tumpukan batu yang akan ia gunakan sebagai pijakan, sekali lagi Nala melihat pemandangan di depannya. 

Danau yang indah. Jalan setapak yang terbentuk entah secara alami atau buatan. Semua tanaman yang hidup dan memberi kehidupan. 

Semua yang akan segera ia tinggalkan tanpa penyesalan apa pun. 

Setelah yakin dengan keputusannya hari itu, Nala naik ke atas tumpukan batu dan memasukkan kepalanya ke dalam simpul lingkaran yang siap mengantarkannya ke alam baka.

"Selamat tinggal. Dunia. Selamat tinggal Ma, Pa, Mas."

Krak! Susunan batu yang menopang tubuhnya mulai goyah dan berjatuhan satu demi satu. Membuat semua beban badannya kini sempurna bergantung di leher. 

"Kkkhhh! Kkkhhh! Kkkhhh!"

"ASTAGAAAAA!!!" 

Teriakan asing itu terdengar sangat tiba-tiba. Entah dari mana. Seorang remaja berseragam sekolah yang tampak sepantaran dengannya melesat dari jalan setapak yang sepi ke arahnya.

Lihat selengkapnya