Pengantin Sang Badai

Arslan Cealach
Chapter #3

Di Bawah Pohon Itu

"Gue adalah malaikat," jawab remaja aneh itu sambil memejamkan mata dan memegang dadanya sendiri.

Reflek Nala memundurkan kepala sambil menatap aneh. Orang ini benar-benar gila dan ia tak berminat berhubungan lebih jauh dengannya. Segera ia dirikan tubuh lagi dan berjalan secepat mungkin menuju bagian taman yang lebih ramai.

Tikitik kitik kitik.

"NGAPAIN LO NGIKUTIN GUWEEE???!!!" pekik Nala sekuat tenaga saking kesalnya.

Anak itu membalas, "Ehehe, ya gue gak mungkin ninggalin orang yang hampir bunuh diri sendirian, lah. Lagian kelihatannya lu kayak nolep yang gak punya teman gitu. Paling habis ini bakal ngegalau terus nyeburin diri ke sungai. Kata gue mah jangan. Sungai di Jakarta lu baru berdiri di deketnya aja bisa pingsan. Ini kata temen gue, sih. Gue belum pernah lihat soalnya. Hahaha."

Mendengar jawaban itu entah kenapa lagi-lagi perasaan Nala jadi jauh lebih baik. "Belum pernah lihat?" Ia perhatikan seragam sekolah anak aneh itu. Ia menenggak ludah saat tau asal sekolahnya. Salah satu yang terbaik dan paling termahsyur dalam mencetak lulusan-lulusan terbaik secara nasional.

Oh, wajar, batinnya. Anak-anak yang sekolah di sana bahkan kemungkinan besar belum pernah naik kendaraan umum atau berjalan kaki di trotoar.

Tapi, aneh juga ya melihat salah satu dari mereka bisa dengan santainya jalan-jalan sendirian di taman kota. Sampai ke pinggiran tempat jin buang anak seperti lokasi yang ia pilih untuk gantung diri barusan.

"Padahal kehidupan lu kelihatannya baik-baik aja. Lu gak perlu susah payah terlibat dengan seseorang yang gak punya masa depan kayak gue," ucap Nala tiba-tiba.

"Hahaha. Baik-baik aja lu bilang? Ya emang bener, sih. Tapi, apa yang kita rasakan itu pilihan. Bukan konsekuensi dari pemikiran. Hidup gue selalu baik-baik saja karena gue menghendaki demikian. Bukan karena dunia itu indah. CETASSS!!!"

Nala reflek tertawa mendengar jawaban orang aneh yang sekarang agak menyenangkan itu. "Siapa nama lu?"

"Elan. Panggil aja Elan."

Dengan gestur yang tertata dan elegan, Nala mengajak Elan bersalaman. "Gue Ragnala. Salam kenal."

Lihat selengkapnya