Pengantin Sang Badai

Arslan Cealach
Chapter #4

Pertama untuk Segalanya

"Gimana cara naik ini?" tanya Elan sesampai mereka di halte Transjakarta. 

Nala langsung mengeluarkan dompet kartunya yang berisi beberapa buah electronic money card dan menyerahkan salah satunya pada Elan. "Lu beneran gak tau apa-apa, ya."

"Gue rasa itu karena lu aja yang terlalu pintar, Nal. Tidak semua orang punya akses untuk jadi sepintar lu," balas Elan. Yang untuk Nala sendiri malah lebih terasa seperti ejekan. 

"Elaann, lu tau gak sih sekolah kita tuh selalu berkompetisi dalam segala hal demi memperebutkan status jaringan sekolah terbaik... Gimana bisa lu malah...?"

"Ehehe, tapi serius. Gue sama sekali belum pernah naik kendaraan umum. Itu kenapa ketemu sama orang kayak lu rasanya kayak... keberuntungan? Mungkin sebenarnya yang habis diselamatin itu gue."

"Ah, ngomong apa, sih?" respon Nala berlagak acuh tak acuh. Meski dalam hati ia bersorak gembira karena akhirnya untuk pertama kali dalam hidup ada manusia lain yang mengatakan hal semacam itu.

Ia sama sekali belum pernah dihargai sampai seperti ini. Karena alasan yang tidak melibatkan uang, penampilan, atau kecerdasan.

"Nal, besok kan tanggal merah. Lu mau gak nemenin gue... jalan-jalan gitu? Keliling kota. Ke taman, musium, kebun raya, atau kebun binatang. Atau ke luar negeri mungkin? Uang lu banyak, 'kan?" tanya Elan santai. 

"AHAHAHAHAHA!!!" tawa Nala tiba-tiba meledak sampai mengejutkan semua orang di sana. Ah, perasaan macam apa ini? Antusiasme macam apa ini yang belum pernah ia rasakan seumur hidup? 

Elan reflek menutup mulut Nala untuk menghentikan tawanya yang entah karena apa. Wajahnya tampak tidak enak saat berusaha menunduk ke semua orang sambil minta maaf. "Maaf ya, Pak, Bu, Mbak, Mas. Teman saya memang agak... Hehe."

Teman saya? Mereka belum ada satu hari kenal dan Elan sudah memanggilnya teman di hadapan orang lain? 

"Lan, gimana kalau kita jalan-jalannya sekarang aja? Ada banyak tempat dalam kepala gue. Festival makanan, bazaar pakaian, pameran merchandise anime..."

Tuk tuk tuk. Elan langsung mengetuk beberapa kali pundak Nala. Ia tersenyum manis. 

Lihat selengkapnya