Setelah berjalan sekitar setengah jam dari halte akhirnya sampai jugalah mereka di hadapan sebuah pagar yang sangat besar dan panjang. Saking besarnya Elan sampai tak bisa membayangkan seperti apa bangunan yang ada di baliknya.
Masuklah mereka lewat gerbang kecil di samping pos satpam.
"Tuan Muda Nala, tumben bawa teman," ucap pria muda bertubuh tegap itu agak kaget.
Nala melihat satpam rumahnya dengan wajah merengut. Proses masuk rumah ini menurutnya agak membuang waktu padahal ia hanya ingin segera mengajak Elan masuk ke dalam rumah. "Yang cepat, ya."
Satpam itu mengangguk. "Temannya tolong disuruh ke sini, Tuan Muda Nala."
Nala mencolek lengan atas Elan yang sedang terkagum-kagum. Melihat pemandangan di balik gerbang yang sangat indah karena terdapat taman sejauh mata memandang. Si kejauhan ada atap bangunan besar terlihat.
"Oh, ada apa? Ada apa?" tanya Elan santai di depan meja satpam.
"Tolong isi daftar tamu ini dulu ya, Dek," ucapnya sambil menyodorkan sebuah buku besar.
"Haha. Ini rumah apa balai kota pakai acara harus ngisi buku tamu dulu segala?" tanyanya. Menarik tangan. Agak keberatan meski tak terucapkan.
Si satpam menjelaskan, "Setiap hari ada banyak tamu yang masuk rumah ini. Hanya untuk dokumentasi saja."
"..."
"Udah, isi aja," pinta Nala.
"Isinya pakai nama asli yang lengkap, ya. Tolong tunjukkan kartu tanda pengenalnya juga," pinta si satpam lagi.
Dengan jantung berdebar hebat dan penuh keterpaksaan, Elan menyerahkan kartu tanda pelajar Senna Academy miliknya dan mengisi semua kolom di buku tamu itu.
Benar saja, di atasnya yang menunjukkan hari ini saja sudah ada delapan tamu yang datang untuk berbagai keperluan.